Misi Rahasia dari Ibu

Hanyalah sekedar percakapan antara seorang anak lelaki dengan ibunya yang sedang terpisah jauh. Membicarakan perihal urusan anak muda yang sudah hampir hilang masanya karena sebentar lagi sudah dewasa. Seorang ibu yang selalu sabar saat anak lelakinya mengeluh karena masalah yang sama, sepeninggal kekasih yang dicintainya.

“Gimana, kamu masih ndak berani hubungi dia lagi?” kata sambutan ibu yang selalu wajib aku dengar.

“Duh bu, masih takut aku tuh. Nanti aja kali ya” sahutku dengan sedikit frustasi.

“Kamu itu selalu begini terus, ndak pernah mau cepat-cepat menuntaskan masalah. Kalau kamu masih saja ndak berani, ya jangan lagi ngeluh ke ibu kalau kamu kurang fokus bekerja karena kepikiran dia!”.

“Yaah, bu. Iya sih, benar juga apa kata ibu. Tapi aku takut kalau dia marah lagi sama aku, bu” jawabku pasrah.

“Percaya saja sama ibu, niatmu sudah baik. Dia ndak akan marah lagi sama kamu. Dia hanya butuh waktu dan pengertianmu untuk menjadi diri sendiri dulu. Kamu jangan memaksanya dengan semua keinginanmu. Ibu juga perempuan kok. Pokoknya tenang saja dan segera hubungi dia”.

Tapi bu..

“Apa lagi?” jawab sang ibu sedikit kesal.

“Sudahlah, sekarang keadaan kita sudah beda dengan kemarin. Kamu hanya perlu fokus bekerja, nak. Ibu hanya ndak mau melihat anak dan menantu ibu nanti hidupnya kurang sejahtera. Akan sangat berat bagi isterimu nanti menjalani hari demi harinya jika kamu tidak segera bersiap diri. Ibu ndak mau dia nanti merasakan pedihnya dicerca banyak orang hanya karena sering ditemui belanja tempe dan tahu saja setiap hari. Sudahlah, dia pasti mengerti keadaanmu. Pokoknya ibu ndak mau tau, minggu depan kamu sudah harus menghubungi dia. Waktumu ndak banyak, nak. Segera pulang kalau urusanmu sudah selasai. Adikmu sudah tidak sabar ingin kamu ajari membuat layang-layang” jawab ibu tenang menenangkan anak lelakinya yang sedang bingung.

“Hmmmmmm gimana ya enaknya, bu?”. Kepalaku serasa penuh berisi pilihan menahan rindu atau mati sebagai pesakitan.

“Sudah-sudah. Lakukan saja. Setelah kamu pulang nanti, kita ke rumahnya sama-sama. Sekalian kita berlibur lagi seperti dulu”.

Ibu menutup telepon dengan meninggalkan banyak pekerjaan yang harus segera aku selesaikan. Pekerjaan yang hanya bisa diselesaikan dengan kepala dingin dan hati yang tulus.