Meremas Cemas
Oleh: Irhyl R Makkatutu
Kamu percaya, hujan yang menerpa atap rumahmu yang kecokelatan itu adalah air mataku? Jika kamu simak deraunya lebih saksama, akan berbeda dari hujan biasa. Hujan dari mataku deraunya lebih menyayat, mengandung luka duka. Jika dulu, tangisanku baru tumpah jelang kepulanganku, kali ini tidak, bahkan beberapa tahun belakangan ini justru kedatangankulah yang buatku sedih, cemas meremas dadaku, luka menetak sekujur tubuhku.
Sembilan puluh hari jelang ke kampungmu. Mataku selalu mendung. Mengunjungi kampungmu adalah kesialan. Kami dua belas bersaudara. Lahir dari rahim Wattu ‘waktu’. Akulah yang berbeda ketika lahir, Berhendak memandikanku di kolam pribadinya. Hal itu pula yang membuat kesebelas saudaraku iri. Seperti saudara-saudara Yusuf yang iri kepadanya karena sebuah mimpi.
Ibuku tidak pernah pulang ke masa lalu. Ia tidak kasat mata. Namun, semua orang membutuhkannya. Dia menjadi perihal yang paling penting dalam segala hal. Dan Here ‘takdir’ ayahku, memiliki dua wajah yang berlainan, kadang lembut, kadang garang, beringas, dan memautkan. Ayah tidak pernah bisa bernapas tanpa Ibu, dan Ibu tidak pernah bisa ada tanpa Ayah. Keduanya sepasang peluk yang tidak mungkin lepas.
Tidak sekalipun aku memohon kepada Berhendak sejak diciptakan dengan kalimat saktinya “kun fayakun” sebab jalurku telah jelas benderang. Datang sekali setahun sebagai berkah, penyempurna dari kesebelas saudaraku. Tapi, kali ini sedih bertawaf di mataku, memalut hati. Aku ingin Berhendak membatalkan kunjunganku. Tentu hal itu akan sulit terkabul.
“Selama aku diciptakan, belum sekalipun meminta kepadamu. Kali ini, bolehkah aku meminta agar tidak mengunjungi tempat itu?” Pintaku dengan suara dirayui gentar—bergetar parau. Tatapanku memilih tertuju ke lantai daripada ke Berhendak, yang wajahnya tidak bisa aku detailkan. Sebab dari setiap pori di tubuhnya, cahaya memancar memesona.
“Ramadan, janji adalah janji,” jawabnya. Aku paham maksudnya, janji harus ditepati serupa apa pun aralnya. Mataku serasa basah. Aku tahu tugas berat dipancang di pundakku. Tapi, membantah Berhendak adalah mustahil.
“Kamu diciptakan untuk tugas berat, menciptakan kesabaran bagi manusia yang percaya kepadaku. Tidak peduli dari golongan apa pun itu. Aku tahu, kampung yang kamu tunjuk tadi, yang tidak ingin kamu kunjungi sedang dilanda cemas dan curiga, sedang dibanjiri hujatan dan nyinyir, semua tampak suci, paling benar, paling mengerti, karenanya kamu akan ke sana agar mereka paham, di sisiku bisa jadi yang tidak mengerti apa-apa, yang terlihat lugu, yang diam, yang tidak menunjukkan kesucian dan kebaikannya bisa jadi dialah yang paling aku cintai. Tegarkan hatimu, dan pergilah!”
Aku hanya mengangguk, mataku benar-benar basah. Dan aku menangis, benar-benar menangis. Air mataku berubah hujan lalu sampai di atap rumahmu. Aku temukan diriku sendiri lunglai. Napasku terbang separuh. Di kampungmu, aku tahu kedatanganku yang membawa berkah banyak diharapkan menghapus karat-karat kekacauan. Tapi, hadirku juga dimanfaatkan untuk meroketkan kepentingan pribadi dan golongan. Aku benci mereka yang memberi karena ingin ditahu, menyambutku dengan belati terselip yang siap menikam. Aku merinding membayangkan perjuangan kerasku ketika sampai nanti.
*****
Hari tibaku telah ditentukan, hari Sabtu. Aku menerima titah itu dari Berhendak. Dan untuk pertama kalinya aku merinding, takut menerimanya. Jika boleh, aku tidak ingin mampir ke kampungmu yang merah putih. Nama Berhendak, sang penguasa tunggal langit dan bumi, serta semua yang bernyawa dan tidak bernayawa selalu saja dijual. Aku luruh, semangatku gugur memikirkan semuanya. Dan aku hanya bisa menangis, tangisan itu berubah hujan dan hujan itu akan terus berubah peluru.
Waktuku yang hanya sebulan, cukup cepat untuk mengubah arah hati agar cahaya masuk ke dalamnya, menyinari setiap lakunya, takut kepada Berhendak jika ingin berbiat salah. Cukup cepat jika ingin memberikan berkah kepada semua orang, bukan? Tapi, aku telah dibekali semua kesempurnaan dari sebelas saudaraku. Di pundakku semua beban salah bisa dihapus, kecuali menduakan Berhendak. Segala kebaikan dilipat gandakan berkali-kali lipat.
Menduakan selalu tidak bisa dimaafkan, serupa kekasih yang menduakan kekasihnya, memang tidak bisa diterima. Manusia harus memercayai yang tunggal dan setia kepadanya. Aku mencintai manusia yang taat kepada Berhendak, lebih dari yang disangka. Di rahimku segala cahaya siap memancar keluar dari poriku. Aku telah merelakan diri menjadi penghapus bagi setiap kesalahan, kecuali kesalahan mendua. Sebab Berhendak sendiri membenci mereka yang menduakannya.
*****
Kali ini, aku kembali pulang ke kampung, tempat pertemuan kita yang pertama, tempat di mana aku jatuh cinta kepadamu. Aku selalu menyiapkan doa agar kita bertemu lagi dan lagi. Dan doaku selalu terkabul. Hanya, orang-orang menyambut tibamu mulai berbeda. Segala perihal yang dilakukan mulai dipamer.
Sehari sebelum tibamu, Ayah sibuk keliling kampung ma’baca-baca, itu ungkapan syukur warga atas kedatanganmu. Warga akan merogoh kuceknya dalam-dalam demi seekor ayam kampung. Ayam instan yang tidak melewati masa remaja tidak layak dipakai untuk menyambutmu.
Selain Ayah yang sibuk keliling baca-baca, Puang Datinggi juga sibuk menyiapkan ucapan sambutan atas datangmu. Dalam sambutannya, ia memajang foto dan pesan teduh. Baru kali ini Puang Datinggi melakukan hal tersebut, karena ia akan maju pada pemilihan ketua RT dua tahun lagi. Bukan hanya itu, adik bungsuku sudah dua minggu merengek minta dibelikan hape yang dilengkapi kamera.
“Biar bisa eksis, Bu,” rengeknya. Ibu, yang tidak paham apa itu eksis hanya diam saja. Aku tahu, adik bungsuku mulai bermain sosial media. Semua aktivitasnya disebarkan.
*****
Aku tiba di kampungmu dengan wajah kusut. Sambutan terasa hangat, tapi pura-pura Seorang lelaki sibuk menempel fotonya, memajangnya di mana-mana. Seorang anak yang baru beranjak dewasa sibuk pamerkan segala aktivitas—yang harusnya disembunyikam. Aku risi dan ingin cepat pulang. Aahh, sebulan tentu akan terasa sangat panjang.
Ketakutanku terbukti nyata. Hadirku tidak membuat warga di kampungmu akur. Mereka tetap saling menggeledah kesalahan, membongkar aib sesama. Curiga tetap biak, siku tetap tajam. Banyak yang memanfaatkanku meroketkan pamornya, memberi karena ingin dikata. Kamu tahu, Berhendak benci pada yang suka pamer dan tidak bisa memaafkan.
Kamu percaya, sedih benar-benar membukit di hati lalu tumpah melalui mataku, dan berubah hujan yang deraunya mencemaskan? Oya, bolehkah aku bertanya, apa yang akan kamu lakukan jika ini kunjungan terakhirku?
Kindang, 28 Mei 2017
Cat: Dimuat di Harian Fajar, Minggu 9 Juli 2017
