Mata

Minggu malam tanggal 30 Mei 2017 aku menginap di kosan Kak Meli, seniorku di KMPA angkatan 2013. Akhir-akhir ini aku memang sering menginap disana ketika menjelang ujian karena CC Timur ITB tak lagi available 24 jam setelah kembalinya jam malam kampus seperti sediakala. Aku tidak tahan untuk belajar up all night di asramaku karena gravitasi kasur disana jauh lebih besar daripada usahaku untuk menjaga mata ini tetap melek. Akhirnya kosan Kak Meli menjadi opsi terbaik ketimbang harus begadang di eduplex atau McD yang need money. Seperti biasanya, malam itu kami belajar di ruang tengah lantai 2. Sebelumnya Kak Meli tinggal seorang diri di kosan tersebut. Sudah seperti kuncen kata ibu kosnya. Akan tetapi, semenjak hari itu Kak Meli memiliki tetangga. Dua kamar lain yang berada di dekat kamar Kak Meli di lantai satu kini telah berpenghuni.

Brakkkkk!!! Brakkkkk!!!

Suara dobrakan pintu yang begitu kerasnya sampai-sampai terdengan oleh telingaku yang tersumpal headset.

“Waduh, apaan tuh kak mel?” tanyaku penasaran.

Kak meli lalu mengengok ke lantai bawah dan mendapati bahwa suara itu berasal dari kamarnya ibu yang katanya berusia sekitar 50 tahun.

“Samperin yok Kak Mel” ajakku. Aku takut terjadi sesuatu dengan ibu itu karena beliau ternyata juga menangis.

“Dari tadi habis maghrib kayak gitu jel, aku sama teteh yang baru pindah kesini tadi udah ngetok-ngetok pintu kamarnya dia nggak mau ngebukain, nggak mau diajak ngomong juga. Ibunya nggak bisa ngeliat” kata Kak Meli.

Aku kaget dan tambah khawatir. Pantas saja lampu kamar ibu itu tidak menyala. Ternyata ibu tersebut tuna netra. Jangan-jangan ibu itu perlu sesuatu. Atau ibu itu kesepian karena sendirian? Sementara aku belum berbuat apa-apa ibu it uterus menangis dan mendobrak-dobrak pintu.

“Ayo kita samperin lagi aja Kak Mel, kali aja ibunya laper” ajakku lagi.

“Yaudah deh yok”

Kami menuruni tangga dan bergegas ke kamar ibu itu.

Tok tok tok

“Assalamu’alaikum buk, sudah makan belum buk?” aku berdiri di depan pintu kamar beliau berharap ada jawaban.

“Ibu nggak kenapa-kenapa kan?”

Brakkkkkk!!!

Beliau mendobrak pintu lebih keras dan menangis tersedu. Aku terlonjak kaget. Teteh penghuni kamar sebelah keluar dan ikut membujuk ibu itu, akan tetapi ibu itu tetap tidak mau menjawab kami. Kami khawatir sesuatu terjadi pada ibu itu dan akhirnya kami pergi ke rumah ibu kos yang kebetulan rumahnya hanya beberapa meter saja dari kosan. Kami berharap ibu kos bisa bicara baik-baik dengan ibu itu.

Bagaimana perasaan seseorang yang sendirian dan tidak bisa melihat?

“Kak Mel, ibu itu sendirian ya?” tanyaku.

“Punya anak kok jel. Tiap pagi sekitar jam sepuluh selalu nengokin” jawab Kak Meli.

Loh kok nggak tinggal sama anaknya aja ya? Kan kasian ditinggal sendiri di kamar kosan yang gelap dan luasnya cuma beberapa meter persegi.

“Mama lagi pergi teh, ada yang mau disampaikeun?” ternyata ibu kos sedang tidak berada di rumahnya. Kami akhirnya memutuskan untuk kembali saja ke kosan setelah menyampaikan apa yang terjadi dengan ibu itu.

Muluk-muluk rasanya ketika aku bercita-cita masuk surga. Padahal ketika seluruh amal dan ibadahku ditimbang nanti, nilainya tidak akan cukup untuk berterimakasih kepada Allah atas nikmat satu biji bola mata yang telah dikaruniakan-Nya. Aku bisa melihat hijaunya pepohonan dengan mata. Gantengnya aktor korea dengan mata. Bagaimana perasaan orang-orang tuna netra di luar sana? Bahkan untuk melihat wajahnya sendiri di cermin saja mereka tidak bisa. Pikiranku jadi melayang kemana-mana. Aku teringat percakapanku dengan Bang Freden pada suatu siang yang cerah di sunken court.

“Jel, dalam hidup ini kamu paling sedih kalo nggak bisa apa?” pertanyaan random tiba-tiba dari bang Fred sering kali membuat lawan bicaranya terpaksa berpikir.

“Membaca Bang” tanpa berpikir aku menjawab. Tapi setelah aku pikir-pikir, memang benar. Aku akan sedih sekali jika aku tidak lagi bisa membaca. Dan membaca itu membutuhkan mata.

Sudah sepantasnya kita bersyukur dan terus bersyukur atas nikmat Allah yang tiada tara. Aku berdoa semoga orang-orang tuna netra di luar sana tetap bisa bahagia. Meskipun dunia ini tidak bisa mereka lihat secara langsung dengan mata, aku berharap mereka diberi karunia untuk bisa merasakannya dengan hati.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated J E L L Y’s story.