Belajar Perspektif Lepas Lulus

“Kuliah itu yang aku kejar bukan ilmunya doang, menurutku kuliah itu soal belajar perspektif”

Irsyadila Chuelita
Sep 8, 2018 · 3 min read

Ujar seorang teman baik kala duduk dan berbincang tentang alasan kenapa dia memilih untuk menunda skripsinya. Saat itu aku yang baru saja lulus pun merasakan hal yang sama.

Kalau ada yang bertanya padaku, ‘ilmu seperti apa sih desain itu?’, jawaban yang ku berikan adalah desain itu ilmu yang memudahkan aktifitas manusia.

Jika ditanya dapat apa sih belajar interior, jawabanku pasti ‘memahami, mengerti dan menciptakan “perasaan” yang didapatkan seseorang kala berada di sebuah ruang.’

Diingat-ingat lagi sepertinya memang tidak pernah ada jawaban pasti soal definisi desain (atau cabangnya) yang pernah ku dengar dari dosen-dosen kampus. Correct me if i’m wrong :)))

Pertanyaan tentang definisi sepertinya terlalu filosofis, dan yang begitu sepertinya kurang diminati. Karena itu, jawaban pertanyaan semacam ini beragam, tergantung siapa yang menjawab. Sesimpel perkara perspektif tiap orang yang berbeda.

Meski banyak yang menyeru kalau ‘‘kuliahku nggak nggambar tok, he!’’ kenyatannya kita masih terlalu menganggungkan keindahan hasil render.


Tiap kali memulai semester baru sepertinya setiap orang di dalam kelas berlomba untuk menampilkan ‘hasil render terbaik’. Ah, apalah aku yang biasa-biasa ini skillnya, lol. Matkul perancangan memang mengambil jatah sks terbanyak dan sepertinya sudah jadi lumrah jika meninggalkan matkul lain demi mengejar waktu pengumpulan tugas perancangan, alasan terbaik dan paling dimaklumi civitas akademika jurusan juga.

“Yampun! Dia udah sampai bikin 3D aja nih? Aku masi menentukan style, warna dan layout ruang, shit muter disini-sini aja! Harus buru-buru nih, kalau nggak ntar ga ke kejar gambar kerja sama 3Dnya!!!!”

Pemikiran ini sepertinya mengakar ditiap diri mahasiswa interior (kampusku doang maksudnya) ntah diucapkan atau dibatin aja, ujung-ujungnya jadi mental model yang kurang baik, kan. Pada takut ketinggalan kereta.

Apakah interior hanya sebatas itu?
Mengejar nilai estetika dari style yang digunakan, dengan perpaduan budaya atau elemen yang diusung, namun kosong tanpa makna.

Kita terlalu menganggungkan estetika lalu menambahkan penjelasan yang dirangkai apik sehingga tampak seperti pemikiran panjang, padahal hanya konklusi kilat setelah baca-baca artikel sana sini. Dan menyepelekan aspek human-centered design; tentang ergonomi, tentang travel pattern, dan tentang psikologi prilaku pengguna itu sendiri. Ribet, menyita waktu katanya.

Memang hasil render yang bagus itu penting, presentable dan punya nilai jual. Tapi jika tidak diimbangi dengan mempertimbangkan aspek penggunanya menurutku desain sebagus apapun akan undervalue. Bukankah sudah jadi tugas desainer untuk mencipta karya yang baik dan bagus?


Pada dasarnya kuliah itu untuk mempersiapkan masa kerja, sambil mencari ranah kerjaan yang sesuai dengan ‘passion’. Setelah masa 4 tahun kuliah (atau lebih) ujung-ujungnya pun akan patuh pada industri interior tanah air. Dilihat-lihat industri interior yang ada saat ini kira-kira berkisar di: interior-arsitektur, developer, interior-produk, interior living area, interior commercial area, retail, decoration, event organizer, atau balik lagi ke akademisi.

Apapun industri interior yang dipilih, kejar detlen dengan desain yang nggak overbudget adalah hal yang akan sering dihadapi (with exception juga si). Semua ingin serba cepat, praktis dan kalau bisa instant! Bagiku, tipe kerja seperti ini serasa tidak memberi ruang untuk bereksplorasi sana-sini.

Padahal buatku, interior adalah ilmu yang tingkat kompleksitasnya tinggi, semenarik itu jika diulik lebih dalam tentang customer-driven design, prediksi trend masa mendatang, business goals, asimilasi dengan teknologi terkini, dan nilai kearifan lokal yang telah diriset secara mendalam sebelumnya.

Memang sebelum mendesain, desainer pasti akan melakukan riset terlebih dulu tentang segmen pasar yang dituju, tapi tetap di koridor ‘menyesuaikan kepentingan industri yang tengah dikerjakan dengan style terkini yang disisipi ego pribadi’, biar otentik lah! Kepekaan desain akan bertumbuh seiring berjalannya waktu, kita jadi bisa menimbang mana desain yang biasa aja, mana yang bagus kala tau jika ruangan tersebut di hasilkan dengan pertimbangan yang baik dan matang.

Karena ruangan dapat mencipta rasa, membangun atmosfir suasana, memberi kesan dan berperan dalam pembentukan autonomi penggunanya.


Menjelang lulus, keinginan mendapat pekerjaan di ranah interior yang sesuai dengan skill set yang dimiliki dan industri yang disukai akan semakin tinggi. Diimbangi juga dengan meningginya rasa ragu akan kemampuan diri sendiri. Aku bisa apa?

Mungkin kita perlu bermonolog sejenak, mempertanyakan kemampuan mengkonsep dan hasil desain sendiri, kelihaian pitching, kecakapan dalam mempertahankan argumen konsep desain, kemampuan bernegosiasi soal estimasi, dan kemampuan komunikasi dengan klien maupun tukang. Bagian mana yang dirasa paling bisa?

Pun nanti berkeinginan bekerja diluar bidang interior, ilmu kuliah nggak akan menguap karena telah berperan dalam pembentukan pola pikir tiap-tiap orang yang mempelajarinya.

Nggak ada salahnya mencoba bidang lain yang masih related, selain desainer bisa juga kok coba-coba jadi estimator, atau sales interior, atau researcher :))

Selagi bisa, selagi masih diawal coba aja!

    Irsyadila Chuelita

    Written by

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade