Tinggal Menumpang

Sepertinya aku terlalu terbiasa tinggal bersama orang-orang yang sejak kecil tumbuh besar bersama, sehingga butuh waktu untuk beradaptasi di keadaan dan lingkungan tinggal yang baru. Bukan hanya karana karakteristik orang yang berbeda, memahami setiap rumah punya aturannya masing-masing membuatku merasa asing.

Entah karena aku yang kurang bisa menerima atau kurang terbuka, lama kelamaan disini kesehatan mental dan perkembangan diri sedikit terganggu. Semua orang baik, nggak ada yang pernah membentak atau marah-marah tanpa sebab. Cara bicaranya halus, tidak ada sindiran terselubung ataupun mimik muka yang menandakan ketidaksukaan.

Aku hanya merasa aku punya tuntutan terlampau besar yang nggak bisa ku taklukkan. Bayang-bayang nenek selalu ada setiap aku melangkah masuk ke kamar ku yang teletak di lantai 2, meski hanya sekedar untuk bersantai dan rebahan sebentar saja membuatku merasa tidak nyaman. Rasanya aku dihantui, kata-katanya;

“Jangan di kamar terus, sini di bawah nonton tivi ngobrol-ngobrol.”

Tiap kali tivi dinyalakan yang diputar selalu sinetron yang tak berujung pangkal itu, lalu obrolan yang mengalir selalu seputar artis-artis yang hanya aku tau namanya saja, nggak sampai sejauh gimana hubungan asmaranya, atau kehidupan rumah tangganya atau apa dia oprasi plastik di Korea sana.

Rasanya waktuku terbuang sia-sia, pikiranku terkuras memikirkan cara terbaik untuk melenggang kabur atau memilih untuk sopan menanggapi topik obrolan, yang berarti aku harus google dulu siapa dia yang sedang dibicarakan.

Rasanya waktuku bisa dipergunakan dengan lebih baik jika aku bisa sekedar memegang laptop untuk membaca medium atau duduk manis dan tenggelam dalam buku yang tengah ingin aku selesaikan segera.

Tapi melakukan hal sesimpel itu aku juga nggak bisa. Bagi orang-orang di rumah ini lebih baik duduk dan mengobrol saja di depan tivi jika kamu senggang.

Bukan berarti aku nggak mau menghabiskan waktu bersama mereka, 20–60 menit menurutku sudah cukup. Lebih dari itu aku ingin punya waktu untuk diriku sendiri, bukan untuk merenung hanya saja menurutku cuma waktu yang aku punya, dan waktu jugalah yang menyita semua.

Mungkin karena aku over-achieving atau karena aku tengah mendalami sebuah topik menarik yang mana pengetahuanku masih dangkal dan aku harus ngebut untuk mengejar ketinggalan. Ah entahlah aku kurang paham. Namun itu yang aku sesalkan, waktuku terbuang sia-sia. 
Dan untuk hal-hal yang aku kurang suka, rasa terpaksa itu menyesakkan.


Belum lagi tuntutan nggak boleh pulang malam karena ini JAKARTA. Aku paham, ibu kota punya banyak sisi yang nggak terjangkau oleh nalar dan jauh dari hal yang mungkin bisa aku bayangkan tapi jiwa muda ini ingin berkelana dan sekedar menjelajah bersama teman-teman.

Atau anjuran berkabar dimanapun aku berada diatas jam 8 malam, pergi sama siapa, sedang dimana serta pulang jam berapa adalah laporan wajib yang sering ku langgar dengan sengaja sampai suatu hari nenek marah besar dan membuatku sedih dan merasa bersalah beberapa bulan belakangan.

Sapu dan pel setiap pagi sebelum berangkat mencari sesuap nasi menjadi tuntutan paling berat di awal-awal kedatanganku di sini. Kamar harus selalu rapih, baju harus selalu disetrika atau cara ‘yang benar’ kala mencuci baju dengan tangan termasuk hal yang nggak bisa dilanggar. Wajib, jadi jangan main-main!

Bolehkah aku merasa lelah mental (??)

Aku ingin hidup dengan cara dan lingkungann yang membuatku nyaman, bukan yang penuh tuntutan. Tapi sayang, semesta belum mengijinkan. Masih di suruh sabar, hanya saja lama-lama tambah nggak tahan.


*hanya sekedar curhatan anak rantau yang tinggal bersama nenek di kota yang katanya keras, ditulis ketika benar-benar merasa terbebani dengan hal-hal diluar kendali pribadi.