Malaikat kecil itu bernama zisan
Sepulang selesai sholat Jum'at. Kedua kalinya aku bertemu Zisan. Karena Jum'at lalu aku juga berpapasan dan pulang bareng bersamanya.
Kedua kalinya bertemu. Membuatku seolah banyak tanya. "Zisan, ayah sudah pulang?". "Belum," sahut Zisan yang memegang sejadah kecil memakai Baju Koko putih polos dan peci garis garis, kan nanti pertengahan bulan ka pulangnya dari luar kota.
Karena pikirku jum'at lalu ZIsan hanya sendirian pulang dari mesjid. anak seumuran seperti dia rajin sekali. Meski hanya sendiri dia tetap berangkat kemesjid dan pulang pun sendiri tanpa seorang ayah mendampingi.
Usia Zisan yang masih duduk dikelas 2 sekolah dasar . Dia cukup berani jalan kaki. Padahal jarak kemesjid dari rumahnya lebih dari 500M. Melewati minimarket, tukang buah, tukang sayur, tukang ketoprak, warteg, SPBU mini, tukang ojek pangkalan, warung kelontong baru sampai mesjid.
berbeda dengan anak yang seusianya yang dikit dikit sudah main motor-motoran. Main game online. Main yang tak kenal waktunya di dunia maya berbentuk gadget. Bahkan ada punya beberapa akun sosmed di zaman milenial seperti ini.
Sudah sebijaknya kita sebagai orang tua mengawasi dan mengevaluasi setiap tumbuh kembang anak. Agar tidak jadi pribadi yang malas. Pribadi yang rajin, berbakti kepada orang tua dan maha pencipta Allah SWT. Dan bermanfaat bagi sekitar.
Zisan bagiku sosok malaikat kecil. Yang seakan memberi api semangat. Lalu sedikit demi sedikit berkobar dan membara. Usianya masih belia tapi jiwanya kuat. Kebiasaan baik pun perlu ditanamkan, dibiasakan dan dibentuk sejak dini. Karena, pengaruhnya begitu kuat ketika dewasa nanti. Pepatah berkata "belajar diwaktu kecil bagai mengukir diatas batu" mungkin pepatah ini cukup menggambarkan bagaimana pola pikir seorang anak yang aktif dan tanggap kepada sesuatu hal. Dikondisi Seperti ini peran orangtua mengawasi dan mengarahkan agar kebiasaan baik itu menjadi biasa dilakukan.
Kadang ada orang yang besar, bugar, sehat tapi hati kerdil untuk beribadah (malas), untuk berjamaah kemesjid. Baru sadar setelah rasa sakit itu muncul. Baru sadar setelah kondisi badan lemah. baru ingat dan dekat akan maha pencipta. Baru menyesal setelah meninggal. Sungguh ironis melihat hal itu.
Pendidikan anak memang harus sejak dini. Diarahkan selalu untuk kegiatan positif untuk melatih kebiasaan baik dengan berjamaah kemesjid salahsatunya. Agar terbiasa nantinya ketika dewasa kelak. Dan kebiasaan kecil dengan cara sederhana. Seperti jalan kaki yang dilakukan Zisan ke mesjid.
Meski ayah Zisan masih diluar kota dan akan pulang pertengahan bulan nanti. Zisan masih tetap ceria. Meski tak seberuntung teman temannya yang bisa setiap waktu bersama ayahandanya. Setiap pulang dari mesjid dirangkul, digendong serta dicium keningnya. Zisan hanya melihat teman sebaya yang pulang bareng bersama ayahnya. Sedikit berkaca kaca bola matanya yang indah. Seolah ada serpihan rindu yang menusuk dan hampir membuat berderai air mata.
Mungkin, Jum’at depan sepulang setelah selesai shalat Jum’at. Pemandangan ada yang berbeda. Anak kecil yang selalu berangkat kemesjid sendiri. Anak kecil yang sering jalan kaki kemesjid . Berbeda dengan Jum’at lalu. Kini menggandeng tangan, dicium keningnya bahkan digendong. Sesosok seseorang yang di rindu tiap doa hari Jum’at. Dia adalah sosok ayah yang dirindukan Zisan.
Pembicaraan kami berdua terhenti. Setelah menemui persimpangan jalan. Gapura perumahan menjadi jeda obrolan kami seraya berjalan tadi. Dan Zisan melambaikan tangan kepadaku. "Semoga nanti ketemu lagi." Aku hanya mengangguk dan bibir ini lantas tersenyum seraya berucap sama kepada Zisan. "Iyah, semoga kita ketemu lagi nanti."
Langit yang luas, cuaca yang sedikit terik dan kibaran angin bergelombang menyahut sapaku yang diterima Zisan.
Dan Zisan pun bergegas pulang.
Bogor, 31 Agustus 2018
