Masa Lalu, Tugas Akhir, dan Cinta

(Sebuah munajat ketika ‘Tugas Akhir’ tidak lagi menggairahkan)

Sumber : Pixabay

Tuhanku, telah lima tahun Engkau membiarkanku berada di Kampus Merah. Dan saya begitu menikmatinya hingga lupa untuk pergi. Tahun demi tahun berlalu hingga sampailah saat ini. Saat dimana saya telah memutuskan untuk memfokuskan diri dalam mengerjakan tugas akhirku.

Dulu saya pernah berencana mengerjakan tugas akhir dalam bidang kosmologi. Bidang itu memang sulit tapi sulitnya itulah membuatku tertarik. Saya selalu menyukai hal-hal yang hanya sedikit manusia yang bisa memahaminya. Walau terkadang, kajian kosmologi rasanya hanyalah sebuah mitologi rumit yang keluar dari imajinasi liar dan dibalut sedemikian rupa untuk meyakinkan manusia bahwa semuanya itu adalah fakta. Meski demikian, saya menyukainya. Dan saya percaya, saya bisa memahaminya, selama Engkau ada di sisiku sebagaimana dahulu hingga saat ini.

Di saat saya berusaha fokus mempelajari dunia kosmos yang begitu besar, Engkau mengalihkanku. Engkau mengalihkanku ke “sesuatu” yang tak kasat mata, namun ia ada. Engkau mengalihkanku ke kajian medan magnetik yang selama ini kuremehkan. Saya tidak pernah terbayang akan terjadi hal yang seperti ini. Saya pernah menatap cakrawala dengan pernuh kerelaan hati, namun kemudian saya menatap benda-benda kecil itu dengan penuh keterpaksaan. Saya telah diperkosa oleh keadaan.

Tuhanku, Engkau pernah membuatku bertahan hingga pagi ketika menulis baris-baris kode. Engkau pernah membuatku bertahan hingga pagi ketika membaca buku ratusan halaman. Engkau pernah membuatku bertahan hingga pagi ketika mendekorasi halaman-halaman web. Engkau pernah membuatku datang sendirian online malam-malam di kampus hanya untuk mengunduh ISO Linux atau sekadar mempelajari perintah-perintah Latex. Engkau seringkali membuatku bertahan hingga subuh ketika mendiskusikan wacana-wacana filsafat yang tidak lebih dari sebuah omong kosong. Dan saya melakukan semua itu tanpa perintah dan tanpa beban.

Oleh karenanya, hadirkanlah keadaan yang sama atas apa yang kugeluti sekarang ini. Hadirkanlah kembali rasa ingin tahuku. Berilah saya rasa cinta atas pekerjaanku. Aktifkanlah kembali intuisiku. Sebagaimana dahulu. Tiada sesuatu selain-Mu yang mampu malakukan semua itu. Kepada-Mu-lah segala doa dipanjatkan dan hanya Engkau-lah yang mampu mengabulkannya. Saya bukan siapa-siapa dan bukanlah apa-apa, andai saja Engkau tidak berkenan hadir di dalam semua ini. Amin!

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.