Nosarara Nosabatutu

[Part 2 : Mamuju ]

Kami akan segera pergi ke kota selanjutnya, Mamuju, Ibu Kota Sulawesi Barat. Dengan Panther yang diisi penuh sesak dengan penumpang perjalanan 187 km menanti. Pukul 16.30 WITA kami berpamitan, sebelum pukul 18.00 WITA kami sudah sampai di kota tujuan.

Untuk pertama kalinya saya melihat minimarket, lampu lalu lintas sebuah tanda perkotaan. Sesampainya di Mamuju kami disambut hangat oleh para relawan dari Relawan Indonesia. Sebuah organisasi relawan yang Ka Mail hubungi sebelum perjalanan dimulai. Mereka dengan siap menyediakan kami tempat tinggal di sekretariatnya. Suasana sekrenya dapat dibilang cukup garang. Coretan pilox di hampir seluruh dinding. Tempelan stiker dan tumpukan benda di beberapa sisi ruangan. Tidak apa-apa yang terpenting kami dapat istirahat malam itu.

Pada hari-hari persiapan sebelumnya, saya juga telah mencari bala pertolongan untuk perjalanan di Mamuju. Pai, seorang mahasiswa yang identitasnya baru diketahui bahwa dia adalah duta wisata (duta apa ya? Hmm lupa) Mamuju. Setelah sehari menginap di sekre Relawan Indonesia, kami pindah untuk tinggal di rumah Ina, temannya Pai. Kehidupan kami berubah, kami tidur di tempat tidur yang empuk, tidak perlu khawatir kelaparan, mobilisasi dengan mobil keliling Mamuju.

Setiap harinya dua sekolah kami datangi, dengan membawa semangat yang sama saat pertama kali perjalanan dimulai. Di suatu pagi hujan turun dan kami pergi ke salah satu sekolah. Suasana lengang, tidak ada aktivitas yang berarti di sekolah. Hanya ada beberapa murid di ruang kelas. Guru-guru belum datang. Hujan yang turun penyebabnya, hujan membuat murid-murid enggan masuk sekolah, begitupun dengan gurunya sehingga sekolah diliburkan.

Meskipun demikian dengan murid yang ada (kalau tidak salah sekitar 4 orang), kami tetap harus menjalankan misi kami. Kami bercerita tentang kehidupan kampus dan segala informasi yang mereka inginkan. Senang rasanya bisa berbagi walau hanya sedikit.

Beberapa hari yang melelahkan akhirnya hari Minggu, waktunya kami istirahat. Hari itu kami berkunjung ke sebuah pulau kecil di sebrang Mamuju, Pulau Karampuang. Dengan kapal kecil kami pergi, kami juga mengajak siswa-siswa SMA untuk ikut.

Pulau Karampuang berbentuk bukit. Dengan pepohonan di atasnya, terdapat lidah gua yang dapat dimasuki dengan merangkak, pasir-pasir yang lembut, dan air laut yang jernih. Setelah berkeliling, kami menceburkan diri ke laut. Melompat dari ketinggian 2 atau 3 meter (tidak begitu tinggi) ke dalam air asin kedalaman sekitar 3–5 meter. Dengan kemampuan renang ala kadarnya, ya saya hanya bulak balik lompat dari atas berenang-renang sedikit. Hari itu diakhir dengan sesi ngobrol bersama adik-adik SMA dipinggir pantai. Sementara itu di Bandung, teman-teman kami sedang perwalian, mengurus pengambilan SKS, dan kami disini melewatkannya dengan penuh rasa khawatir tentang masa depan keberlanjutan kuliah kami.

Hari-hari selanjutnya di Mamuju, kami kembali mengunjungi SMA. Semua berlalu begitu cepat.