(Bukan) Hermann yang Sedang Bertaruh

“Play interests me very much,“ said Hermann: “but I am not in the position to sacrifice the necessary in the hope of winning the superflous.” (Pushkin, 1833).

Kemalangan Hermann yang digambarkan oleh Alexander Pushkin dalam Pikovaya Dama yang dalam Bahasa Inggris diterjemahkan menjadi The Queen of Spades bukanlah suatu hal yang jarang untuk kita temui sekarang. Dalam cerpen yang konon memberikan banyak pengaruh pada kesusastraan Russia modern, Hermann telah muncul sebagai laki-laki paling terpuruk: gagal mempermainkan perempuan muda dan dipermainkan oleh hantu perempuan tua.

Cerpen ini memang bukan berisi kisah cinta yang membara, meskipun tergolong dalam sastra romatik. Juga bukan suatu huru-hara bagaimana gejolak Russia di masa konflik. Karya Pushkin yang konon adalah karya terbaiknya ini lebih bercerita tentang kegamangan seorang laki-laki yang termakan idealismenya sendiri. Hermann selama hidup, tak pernah ingin terjun ke meja judi, meskipun sehari-hari tubuhnya bersandar di dekat meja pertaruhan itu berada. Dia laki-laki yang baik di antara para cendekiawan, bangsawan, dan tentara yang gemar berjudi untuk menghabiskan diri.

Sisi tragis yang dialami Hermann di dalam cerpen ini, lebih terlihat seperti tragedi yang muncul dalam karya-karya Shakespeare. Ya, masuk akal jika memang begitu. Pushkin memang menggemari sastrawan di era Elisabethanian itu. Sisi tragedi yang menimpa Hermann bermula ketika Tomsky, salah satu bangsawan bercerita tentang neneknya, Madame Lise, yang merupakan bangsawan Perancis. Seorang perempuan tua yang telah lapuk dimakan usia. Meskipun sisa-sisa kejayaannya di masa muda masih terlihat dari caranya berdandan dan memperlakukan orang. Madame Lise memiliki suatu rahasia besar dalam hidupnya, yaitu 3 kartu kunci kemenangan yang hanya pernah diceritakan kepada satu laki-laki malang yang akhirnya menemui kemenangannya di meja judi. Setelah itu, tak ada yang mendapat warisan rahasia kemenangan, termasuk juga sang cucu, Tomsky.

Namun, tak sepenuhnya seperti tragedi dalam Shakespeare, Hermann menjadi satu-satunya orang yang paling malang. Kegilaannya diakibatkan oleh kekalahan pada permainan ketiganya di meja, membuatnya seperti dibodohi oleh hantu perempuan tua yang mati karena terkejut akan pistol tanpa peluru miliknya. Sang hantu perempuan tak pernah keberatan memberikan 3 kartu rahasia kepada Hermann. Yang terdiri dari hati 3, 7, dan as, dengan syarat setelah menang ia mau menikahi pelayannya, Lizaveta Ivanovna, perempuan yang dibodohinya dengan jalan jatuh hati yang pura-pura dan penuh maksud. Kesombongan Hermann menjadi ketika ia mampu memenangkan permainan besar melawan Chekalinsky, bandar terbesar di Moskwa, dengan menggunakan rahasia 3 kartu. Hingga di putaran ketiga, saat ia dengan yakin mempertaruhkan semua kekayaannya, menebak kartu as yang ternyata berisi Ratu Skop. Hermann akhirnya menjadi gila, dengan selalu menyebut angka 3, 7, as, lalu 3, 7, dan muka rata.

Kode-kode yang seakan menjadi penanda yang bebas dalam cerpen Pushkin ini memiliki banyak makna. Mengapa Pushkin yang lelaki menuliskan kemalangan lelaki lain dengan menggunakan kartu sebagai ujung tombak kejayaan dan kekalahannya. Hermann mungkin adalah sebagian dari kita, orang-orang yang bukan hanya mewakili satu jenis laki-laki berjasad satu. Kehati-hatian yang dibangunnya karena ketakutannya akan risiko kandas karena hasrat yang terpendamnya mendapatkan celah untuk bisa terlaksana. Sayangnya, hal itu muncul dari hal yang tidak rasional. Sangat berlawanan dengan sosok Hermann yang seorang insinyur. Jika dalam era modern, merekalah yang disebut dengan pemuja nalar itu.

Lalu mengapa Hermann selalu mengatakan, “Hanya karena kondisiku begini rupa sehingga aku tidak dapat mengorbankan satu kebutuhan pun hanya untuk suatu kesenangan.”? Barangkali juga, ini adalah dua sisi penggambaran yang diberikan oleh Pushkin yang seringkali menimpa manusia dewasa. Pertama, perhitungan akan kehidupan yang dalam pikiran orang bernalar selalu dihantui dengan berhasil dan gagal atau menang dan kalah. Hingga berada di zona nyaman adalah pilihan yang tepat daripada menemui kenyataan paling buruk dalam akhir tanda “sama dengan”. Kedua, permainan apapun akan selalu membosankan bagi para penghitung. Tak ada kemungkinan lain yang menjadi opsi selain yang ada di depan mata. Kalau orang menyebutnya sebagai struktur oposisi biner, hanya ada hitam dan putih. Hingga ketika ia menemukan kemungkinan lain, yang berada di luar akal namun nyata, ada keinginan untuk menelisiknya dengan tanpa menggunakan cara yang selama ini digunakan. Dan, sayangnya, Heramann tak memiliki keberuntungan tentang itu. Semoga saja kita tidak, dan dapat mengambil pelajaran. Jika kita ingin dan mau.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.