Mengapa saya tertarik dengan bahasa Indonesia?

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Wordpress pada tahun 2010. Diterbitkan ulang di Medium atas saran @ivanatman.

Sewaktu acara arisan keluarga beberapa waktu silam, salah seorang paman saya bertanya, “Kenapa sih sekarang kamu tertarik dengan bahasa Indonesia?” Waktu itu agak lama saya mencoba mencari jawabannya karena selama ini tidak pernah berusaha memikirkannya. Tapi tampaknya, mau tidak mau saya harus “merumuskan” jawaban standar untuk pertanyaan ini karena ternyata setelah itu saya masih harus menjawab pertanyaan yang sama beberapa kali lagi.

Saya mulai tertarik mempelajari (kembali) bahasa Indonesia sewaktu mulai berkontribusi untuk Wikipedia bahasa Indonesia (WBI) pada sekitar Februari 2006. Sebelum itu, mungkin sama dengan sebagian besar orang Indonesia, saya menganggap bahwa karena lahir dan dibesarkan dengan bahasa ibu bahasa Indonesia, saya cukup paham tentang bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Tapi ternyata tidak. Saat mulai menulis di WBI, yang mengharuskan gaya bahasa formal dan ensiklopedik, terasa sekali bahwa kemampuan berbahasa Indonesia saya sangat buruk. Perbendaharaan kosakata saya masih sangat minim, apalagi jika bicara masalah tata bahasa: duh, hancur. Untunglah di WBI saat itu ada beberapa orang Wikipediawan senior yang bisa ditanya-tanya masalah ini dan perlahan (saya pikir) kemampuan berbahasa Indonesia saya pun mulai meningkat.

Pada pertengahan tahun 2007, saya bergabung dengan Bahtera, milis bahasa dan penerjemahan Indonesia. Kepercayaan diri akan kemampuan berbahasa Indonesia yang sudah mulai meningkat karena gemblengan WBI pun pupus saat mulai mengikuti berbagai diskusi ihwal bahasa di milis ini. Ternyata masih banyak sekali hal yang belum saya ketahui tentang bahasa Indonesia.

Kembali ke pertanyaan semula, mengapa saya tertarik dengan bahasa Indonesia?

Kemampuan berbahasa adalah kunci untuk bisa menyampaikan ide dengan baik. Tanpa adanya ini, seberapa baiknya pun suatu ide yang kita punyai, niscaya sulit untuk menyebarkannya.

Bahasa yang dipilih sebenarnya terserah kepada pemilik ide dan kepada siapa ia ingin menyampaikan idenya. Karena saya sudah lebih paham bahasa Indonesia daripada bahasa lainnya, lebih mudah untuk mengembangkan bahasa Indonesia saya ketimbang bahasa lain seperti bahasa Inggris atau bahasa Sunda. Konteks ide saya pun lebih banyak berkisar seputar masyarakat Indonesia karena menurut saya, masih banyak yang bisa dilakukan untuk Indonesia dan masih banyak orang Indonesia yang lebih bisa memahami ide yang disampaikan dalam bahasa Indonesia.

Beberapa hal yang saya percayai tentang bahasa adalah sbb.:

  1. Memiliki bahasa ibu bahasa Indonesia bukan berarti kita paham betul bahasa kita sendiri.
  2. Bahasa bukan ilmu pasti yang kaku, meskipun tetap memiliki pola dan aturan yang berlaku umum.
  3. Ragam formal adalah pilihan utama untuk pembicaraan publik, tapi ragam percakapan tetap akan hidup karena sifatnya yang membuat suasana lebih akrab.
  4. Bahasa hanyalah sarana untuk berkomunikasi. Selagi semua atau mayoritas orang yang berpartisipasi dalam komunikasi tersebut paham dengan bahasa yang digunakan, bahasa apa pun yang dipakai sah-sah saja.

Saya bukanlah munsyi bahasa Indonesia. Saya hanyalah penggemar bahasa Indonesia yang masih sangat sering menggunakan ragam percakapan (tidak formal) dalam pembicaraan antarkawan, campuran bahasa Inggris kala tak menemukan ungkapan bahasa Indonesia yang dirasa cukup menggambarkan maksud, serta selalu cemas apakah diksi atau tata bahasa yang digunakan sudah tepat.

Tapi saya akan terus belajar dan menyampaikan, walau sedikit, apa yang sudah saya pelajari kepada orang lain agar semakin banyak ide yang bisa dilahirkan dengan bahasa Indonesia yang efektif.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.