Gina and Andi

Kita pernah duduk di tepi telaga itu. Di bawah pohon jambu mente yang mulai kehabisan daun karena semakin jompo. Aku dan kamu saling membelakangi, tepatnya saling menabrakkan punggung. Seperti remaja labil yang sedang ditipu perasaan. Padahal anak kita sudah 4. Aku ingat kau bercerita bahwa sebagian cita-citamu telah tercapai dan sebagian lain tidak. Bahwa kau gagal menikah dengan kekasihmu dan akhirnya menikah denganku, satu sosok yang tak pernah kau bayangkan.

Walapun begitu, kau tetap bahagia. Setidaknya itu yang selalu kau katakan padaku. Oya, katamu juga, memiliki 4 anak yang kembar dua dua, laki-perempuan adalah cita-cita terbesarmu dan Tuhan mewujudkan itu. Dengaku. Pria yang tak pernah kau harapkan sebelumnya.

Kamu, aku, untung saja meyakini prinsip hidup yang sama bahwa Tuhan tahu yang terbaik buat hambanya. Bisa saja yang baik menurut kita adalah buruk di mata Tuhan, dan sebaliknya di mata kita buruk tapi Tuhan memberi karena Dia tahu bahwa itu baik untuk kita. Akhirnya, kita saling menerima, berdamai, dan bahagia.

Di telaga itu, angin selatan bertiup menerbangkan rambutmu sehingga menampar nampar wajahku. Aromanya begitu harum dan lembut, aku tertawa geli karenanya. 
 “Ndi, (begitu kau selalu memanggilku) 240 purnama telah kuhabiskan bersamamu, tidakkah itu cukup memuaskanmu” bisikmu lirih.

Ada hening sesaat dan hangat tiba-tiba menyelinap ke mataku. 
 “Belum!” jawabku. Tegas dengan sedikit getaran. “Sampai kita sama tak berdaya, dan meninggalkan dunia ini”

“Bukankah kau yakin bahwa Tuhan menuntun kita pada sesuatu yang terbaik!” katamu lagi.

“Ya, Gina, aku yakin itu.” kataku dengan ragu.

“Baiklah, aku memegang kata-katamu. Aku ingin kembali pada Kevin!”

“Apa! Kamu gila ya? Apa yang tidak kuberikan padamu, Na? Kasih sayang, harta yang melimpah, anak-anak yang manis, keluarga yang cinta sama kamu. Apa lagi? Katakan apa yang kamu mau Gina, aku akan berusaha.” kulihat butiran air berjatuhan dari matamu, dan akupun tak kuasa menahan tangisku. Aku sungguh tak habis pikir dangan apa yang terjadi.

Sampai jingga habis tertelan malam, kau tak lagi mengatakan apa apa, bahkan sampai hari ini, tepat satu tahun lamanya.

Aku tau kau kecewa. Maaf, aku bukan tidak yakin dengan keputusan Tuhan, aku hanya tidak bisa melepasmu untuk Kevin. Sungguhbaku tak rela.

Like what you read? Give Izham Husain a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.