Ke Mana Birokrasi?

Izham Husain
Jul 20, 2017 · 6 min read

Saya akan memulai dengan kata “kecewa”.

Seharusnya bukan kata itu, tak pantas untuk diumbar. Apa lagi melalui ruang baca media sosial seperti ini. Tapi jemariku tak bisa menahan diri.

Akumulasi kekecewaan berbulan-bulan sudah begitu besar. Dan puncaknya pagi tadi. Saat kerja keras, latihan yang menguras tenaga, dan persiapan luar biasa yang menghabiskan banyak harta benda, ditebus oleh hanya 1 pasang mata. Kejam sekali!

Biar saya perjelas duduk perkaranya. Dan ini bukan pengaduan. Hanya satu rekaman tertulis bahwa pernah dalam satu masa kehidupan 201 orang manusia, terabaikan. Ada, tapi hanya sebagai bayang-bayang. Gelap dan barangkali hanya dihitung sebagai gangguan atau bahkan ancaman. Oleh siapa? Oleh “Orang tua”. Sial! sulit sekali memilih kata yang pantas. Sekali lagi, oleh orang tua.


Satu kegiatan terakbar di asrama PPG SM-3T adalah Pekan Olahraga dan Seni. Ini bukan sekadar ajang adu gengsi apalagi cuma untuk mencari keringat. Tapi merupakan satu medan juang untuk berkarya dan berkreasi.

Jauh-jauh hari, kepanitiaan terbentuk. Propaganda acara juga sudah tersebar. Panitia menghasilkan satu rancangan acara yang menurutku sangat cerdas. Keragaman.

Peserta Porseni adalah seluruh peserta PPG SM-3T yang terdiri dari 8 kontingen. Dimana kontingen dikelompokkan berdasarkan kabupaten penempatan ketika menjalani tugas sebagai sarjana mendidik.

Ada Kabupaten Waropen dan Teluk Bintuni dari tanah Papua. Ada duo Borneo, Kabupaten Mahakam Ulu dan Berau. Tiga bersaudara dari Maluku; Kepulauan Aru, Halmahera Utara, Dan Maluku Tenggara Barat. Yang terakhir, dan yang paling mewakili Negeri ini adalah peserta gabungan dari ujung timur, sampai ujung barat Indonesia. Nusantara.

Kedelapan kontingen akan menyajikan keunikan warna dan budaya masing-masing selama dua minggu kedepan. Dan titik ledaknya adalah pada sesi opening ceremony.

Setiap kontingen mengenakan pakaian dan atribut adatnya. Papua dengan pakaian adat dari rerumputan, hasil kreasi selama berminggu-minggu. Lengkap dengan coretan wajah has tanah cendrawasih. Ada juga replika sayap burung yang dikenakan seorang perempuan. Membuatnya terlihat anggun dan menyerap banyak perhatian.

Maluku dengan kain tenun yang indah. Baju adat berwarna putih tulang, syal dengan motif beragam yang menggantung di leher, serta pakaian perang dan replika tameng dan pedang, memperkenalkan setiap orang yang melihat semua itu pada sekilas budaya orang-orang Maluku. Negeri nun jauh di sana itu, telah hadir melalui kreatifitas mereka.

Dari Borneo, pakaian dari kulit binatang dan bulu burung yang langka dari hutan rimba kalimantan menonjolkan ciri khas suku Dayak. Dilengkapi warna-warni aksesoris yang memenuhi tubuh. Ada parang mandau, topi saraung, dan perisai perang yang tentunya butuh keberanian dan pengorbanan untuk bisa menghadirkannya di momen ini.

Kontingen Nusantara juga menyajikan keragaman dengan keunikan etnis dan bahasa seantero negeri. Walaupun tak begitu mencolok dari sisi atribut, kehadiran mereka telah cukup untuk menyempurnakan seremony ini sebagai miniatur Indonesia.

Apa yang seluruh peserta hadirkan sesuai dengan tema kegiatan, “Kita Satu”. Bineka tunggal ika. Dan memang, di asrama PPG SM-3T ini, 201 calon guru masa depan berasal dari berbagai daerah di penjuru nusantara.

Hal ini juga merupakan satu nilai lebih yang dimiliki peserta PPG. Berbaur, dan belajar pluralitas melalui hubungan sosial langsung sehingga menumbuhkan nilai cinta tanah air dan toleransi. Pada akhirnya, rasa saling menghargai tumbuh dan mekar. Hal itu saya pikir sangat bagus untuk Indonesia yang aman dan tentram di masa depan.


Waktu terasa cepat meninggalkan angka 7. Kesibukan di lantai dasar asrama semakin membesar. Suara panggilan dari panitia saling beradu denga tetiakan-teriakan putus asa dari lantai 4 dan 5 karena kehabisan air untuk mandi. Kepanitiaan yang dipimpin oleh Andi Armyta dari Penjaskes telah begadang entah berapa hari untuk mempersiapkan semua-muanya.

Kursi telah tertata rapi. Ada yang berwarna merah, gabus dan besi sandaran telah menyatu karena penuaan. Kaki-kaki yang kurus dan berkarat menegaskan kesan reot dari spesies ini. Duduk di atasnya tidak lebih nyaman daripada duduk di atas batu sungai. Dan spesies ini jumlahnya banyak, diperuntukan untuk peserta.

Jenis yang ke dua berwarna biru. Limited edition. Masih segar, empuk, dan nyaman diduduki. Dipersiapkan secara istimewa untuk para pembesar yang menjadi tamu undangangan sekaligus tamu kehormatan. Bahkan panitia menyediakan sebuah sofa mewah untuk tamu vip. Saya berharap bisa duduk di sana setelah acara selesai nanti. 5 detik juga tak apa.

Di tengah hadirin, ada obor ala olimpiade setinggi Lionel Messi, berbahan bambu dan barang bekas hasil kreasi panitia juga telah siap dinyalakan. Dekorasi panggung, sound system, layar lcd, photo corner, semua yang memang perlu, telah sedia. Detail sekali. Saya salut pada kepanitiaan ini. Bahkan bosara, nampan adat bugis, berisi aneka jajanan tradisional tak luput dari perhatian panitia. Spesial untuk para pembesar. Ya, spesial sebab secuil pun tidak untuk mereka apalagi untuk peserta. Saya paham sekali, panitia tidak pelit. Kalau pemberi dananya saya tidak tahu. Jelasnya tidak ada modal untuk itu.

Dengan tertib, setiap kontingen menempati ruang yang telah disediakan. Berada di sana rasanya sedang berada di tengah parade budaya. Karagaman berpadu dalam keharmonisan. Rasa lelah, gembira, semangat, dan ngantuk bersatu padu dalam satu cinta. Indonesia.

Tapi, semua rasa seolah menciut tatkala pemandu acara mengucapkan salam pembuka dan deretan kursi empuk berwarna biru masih lengang. Terlihat hanya satu pria yang duduk di sana. Dan dia sepertinya lebih banyak menatap handphone daripada kehebohan yang para peserta perjuangkan mati-matian.

Jujur, saya sedih melihat persembahan tari paduppa, tari penyambutan tamu. 3 penari cantik yang tegar. Mereka latihan keras, merias diri berjam-jam, memakai baju adat bugis yang beratnya minta ampun. Itu pun, bukan milik pribadi, entah disewa atau dipinjam saya tidak paham. Lalu kemudian, yang menjadi tamu hanya satu orang. Saya tegaskan sekali lagi, satu orang yang hadir dari puluhan yang diundang. Keterlaluan, bukan. Jumlahnya bahkan lebih kecil dari jumlah penari itu sendiri. Itu kan, …. Ah, sudah lah.

Walaupun begitu, saya acungkan 2 jempol pada mereka. Tetap tampil maksimal meskipun yang mereka sambut tak sesuai ekspektasi. Entah apa jadinya jika mereka seperti saya, yang langsung berpikir untuk melakukan hal-hal di luar agenda. Malas-malasan contohnya. Jadi menari seperti orang yang lagi sakau. Tidak keruan. Atau malah seperti orang kesurupan kuda lumping. Makan gelas dan bosara sampai habis. Biar skor satu sama. Tapi syukurlah mereka tetap mereka. Penari yang propesional.

Tidak cukup sampai di situ, ada kesan terburu-buru untuk meninggalkan tempat. Baru beberapa agenda saja yang ditunaikan, beliau telah pergi entah ke mana. Ada urusan yang lebih penting? Baik lah. Semua ini memang kurang penting baginya dan bagi mereka yang bahkan tak sudi menampakkan diri.

Bahwa menguras pikiran untuk satu gagasan itu tak penting. Bahwa mengumpulkan uang untuk modal pengadaan atribut itu tak penting. Bahwa begadang sampai pagi mempersiapkan banyak hal termasuk menyusun kursi tamu undangan itu tak penting. Bahwa mengatur dan mengarahkan tim itu soal kecil sehingga tidak penting. Bahwa ini dan itu tidak penting. Akhirnya, yang tak penting itu tak perlu dihargai. Bukankah yang teman-teman lakukan adalah untuk menyenangkan hati mereka juga? Lalu untuk apa semua ini?

Padahal acara ini, semua peserta, gedung, dan progaram PPG SM-3T V UNM ada di bawah tanggungjawab dan binaan mereka. Saya kecewa. Niat untuk duduk di sofa vip kukubur dalam-dalam. Titik!


But, life must go on. Agenda acara tetap dijalankan sesuai rencana. Pemotongan pita, menyanyikan lagu kebangsaan, berdoa, seru-seruan, dan penyalaan obor olimpiade.

Sesi penyalaan obor ini adalah the unforgettable moment dalam seluruh rangkaian acara. Melalui vidio live streaming, seluruh mata tertuju pada layar lebar menyaksikan Lutfi, salah seorang peserta dari kontingen Maluku Trnggara Barat yang berlari membawa obor dari Kampus Pinisi UNM.

Keringat yang bercucuran dari pori-porinya membuat seluruh peserta ikut merasakan lelahnya ia berlari. Ditambah lagi dengan suara musik perjuangan yang bertalu-talu. Lutfi terus berlari, menjaga api semangat dan api obor tetap menyala di genggamannya.

Sesekali ia tersenyum pada kamera, sontak penonton bertepuk tangan dan meneriakan namanya. Sayang sekali, tak seorang pembesar pun di sana yang melihat aksinya. Mereka begitu sibuk dengan hal yang “sangat penting” di luar sana.

Akhirnya, pelari andalan PPG SM-3T V UNM itu pun tiba dengan obor yang masih menyala di tangannya. Gedung asrama bergemuruh oleh suara tepuk tangan. Ada haru, bangga, dan kecewa yang bercamuk di saat bersamaan. Andai para tamu kehormatan mau hadir, atau yang sempat hadir mau menyempatkan waktunya sebentar saja sampai acara selesai. Tentu mereka juga lah yang akan diserahkan obor lalu menyalakan obor besar itu. Tapi sekali lagi, undangan ini tak penting untuk mereka.

Sampai acara selesai, syukur lah tak ada kendala yang berarti. Meski tanpa kehadiran mereka. Dan ini juga telah membuktikan bahwa teman-teman semua tetap terus maju tanpa harus bergantung pada birokrasi. Semangat tetap membara, kobarkan jiwa besar untuk kemandirian. KITA SATU!

)

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade