TRISULA CINTA

Terkapar seorang perempuan. Jutaan gelembung busa di mulutnya membuat ia tak secantik entah 30 atau 60 menit yang lalu saat kudaratkan ujung bibirku pada keningnya dengan hangat. Aku telah lalai. Jatuh tertidur karena, lelah mengerjakan sebuah mega proyek. Sebuah mahakarya yang menyerap seluruh perhatianku.

Puluhan pil berhamburan di lantai. Di tangannya masih tergenggam sebuah smartphone yang dulu dia hadiahkan untukku. Oh tidak! Dia pasti sudah membaca semuanya. Rahasia hidupku terungkap dan mereka akan membenciku. Tetapi, bukan itu yang terpenting saat ini. Aku harus melakukan sesuatu agar perempuan ini sadar dan kembali pulih dari percobaan bunuh diri.

Di luar, senja telah khatam tertelan malam. Gerimis jatuh bagai pedang yang menusuk bersama hembusan angin Mammiri. Kubongkar kotak P3K. Menghapus busa dengan kapas tanpa rasa jijik. Kusingkirkan semua pil yang entah berapa banyak ia paksa melewati kerongkongannya. Sebagai seorang dokter, ia pasti paham dosis yang tepat untuk menghabisi nyawanya.

Dari temaram cahaya telepon genggam itu, aku membaca percakapan pahit nan pedih. Mereka memperjuangkan perasaan masing-masing. Meyakinkan satu sama lain, “Aku milik Andi dan kau hanya pengacau!”. Dua perempuan memilihku. Melabuhkan cinta mereka pada satu lelaki yang sama. Dan aku sepenuh hati mencintai keduanya. Sama banyak. Masing-masing satu hati. Tak pernah separuh.

Begitu taksi datang, Gina aku gendong kubaringkan dengan lembut. Mobil melaju memercikkan air hujan di bawah langit hitam kota Makassar. Perasaanku sesak akan penyesalan. Bukan karena mencintai dua perempuan pada saat yang bersamaan. Tetapi, karena perkenalan mereka yang mengenaskan. Aku selalu ingin mempertemukan ke dua belahan jiwaku itu. Mengubur rahasia yang bertahun-tahun menyiksa. Membagi bahagia bertiga. Merajut mimpi bersama. Saling melengkapi bagai trisula. Aku ingin kami adalah trinitas cinta.

Tapi kelengahan telah membunuhku. Aku harus menghadapi ini dengan bijaksana. Aku pun sadar bahwa rahasia hanyalah bom yang kapan saja bisa meledak. Dan inilah saatnya. Popularitas Gina di dunia kesehatan memudahkannya mendapat pelayanan cepat. Aku pastikan bahwa dia akan baik-baik saja. Sejurus kemudian aku meluncur ke kediaman Dewi.

Hidung mungilnya merah. Pasti bekerja keras mengeluarkan ingus. Isakannya masih kudengar meski sekuat tenaga ia sembunyikan dalam pelukanku. Dewi memang sastrawan, memiliki kekuatan berpikir dan merasa yang sama kuat. Aku tahu dengan kejadian ini dia akan melahirkan berpuluh-puluh prosa atau novel. Dalam pelukan tanpa kata, aku sudah merasakan debaran jantungnya yang mengalun bak puisi.


Pada malam puncak festival seni 3 tahun lalu, mataku basah oleh puisi yang ia baca. Seminggu kemudian saat kami resmi jadian, dia bercerita bahwa puisi yang sangat menyentuh itu lahir dari pengalaman cintanya yang tragis karena mencintai seseorang yang telah memilih cinta yang lain. Aku berjanji akan mencintainya sepenuh hati, dan aku memenuhinya.

Gina menjadi nafasku setahun setelah pertemuanku dengan Dewi. Dia menjadi malaikat saat aku terserang maag akut. Arsitektur adalah satu dunia yang membuatku bisa lupa bahwa aku manusia yang butuh asupan makanan. Dewi saat itu sedang sibuk melakukan demonstrasi menentang pemerintah. Kepiawaiannya bersajak dan kebenciannya pada kesewenang-wenangan penguasa menjadikan dia singa podium yang menyeramkan. Sementara itu, Gina dengan sentuhan lembutnya memberiku pelayanan yang lebih dari sekadar hubungan dokter - pasien.

Kelembutan Gina membawaku pada ketenangan. Aku merasa tenteram di sampingnya. Dewi yang kuat dan penuh semangat menularkan energinya kepadaku. Aku menjadi sempurna dalam cinta mereka. Kelemah lembutan Gina membuat pikiranku jernih merancang sebuah bangunan yang ramah lingkungan dan menyehatkan. Keindahan sajak-sajak dan kekuatan semangat Dewi menstimulus otakku melahirkan sebuah desain yang benar-benar menakjubkan. Artistik, natural, dan modis. Kombinasi kelembutan dan kekuatan. Yin dan Yang dalam satu kesatuan. Karyaku yang mutakhir itu sedikit lagi akan rampung menjadi bangunan paling megah di kota ini.

“Aku menaruh cinta padamu. Laksana bulan pada bumi. Aku matahari, selalu bersinar tak peduli mendung di langit. Kau kah bintangku Andi? Lalu siapa duri itu? Tidak cukupkah kehangatan yang tiada lelah aku berikan?” Dewi berucap setengah berpuisi dengan derai air mata. Isaknya menegaskan bahwa dia perempuan. Kelemahan dan kecerdasannya seketika melebur jadi satu. Dia tak memberiku kesempatan membela diri. Terus berbicara sambil memukulku dengan jari-jari kecilnya. Dia pun jatuh tak sadarkan diri. Mataku basah oleh air mata.


Aku duduk menggenggam dua tangan. Kelembutan di kiri, kekutan di kanan. Impianku menjalin kedekatan telah terwujud. Berbagi rasa bertiga, menjadi trisula yang sempurna. Seseorang merangkulku, mengganggu kedamaian dan kebahagiaanku lalu mengubahnya jadi nestapa tak bertepi. “Mereka telah tiada” bisiknya. Aku hancur, karyaku tak berarti lagi.