BukU novel baru karya dan brown “inferno” (sumber foto: www.flickr.com/travelinglibrarian)

Buku novel terbaru Dan Brown

Semua buku fiksi Dan Brown lezat dan telah kulahap. Tinggal kertasnya saja yang tidak masuk ke mulut. Oh, novel terbaru ini belum!


Inferno, judul buku terbaru penulis fiksi Dan Brown. Seperti semua novelnya yang lebih tua, Inferno pun bermultigenre: misteri, detektif, petualangan mendebarkan, dan konspirasi. Begitu menurut mereka yang sudah membaca Inferno, dan yang kubaca di situs media yang mengulasnya.

Aku teramat menikmati buku-buku Brown. Ia pengarang tidak bertara, tak bisa diduakan, walau belum seperti dewa. Ia jawara pencerita pendebar-jantung dan sekaligus “iblis” istimewa penggoyang iman.

Kendati banyak novel sebangsa milik Dan Brown bermunculan, baik sebelum maupun sesudah karya-karyanya, bagiku, mereka hanya semacam pemandu sorak genit yang sekadar nimbrung meramaikan rak-rak toko buku. Mereka tidak sukses meniru gaya menulis Brown yang serbacepat dan rapat. Mereka mencoba memakai plot yang kencang, tapi kurang tegang. Saking tergopohnya, di tengah alur bertebaran pernak-pernik cerita yang tak perlu dan tak memikat. Ingin jadi pelari sprint dengan tenaga pas-pasan. Ngos-ngosan jadinya. Membosankan dibaca. Kayak film sinetron Indonesia. Kalimat pemicu-kemelitan di akhir bab-bab pun terlalu dipaksakan.

Judul buku novel Dan Brown yang telah kubaca:

  • The Da Vinci Code
  • Digital Fortress (Benteng Digital)
  • Deception Point (Titik Muslihat)
  • Angels & Demons (Malaikat & Iblis)
  • The Lost Symbol
Buku novel Malaikat & Iblis karya penulis fiksi Dan Brown (Foto: tripleclicks.com)

Buku novel “Inferno” Dan Brown: si pedantis yang kini datar bercerita?

Karena aku belum membaca buku terbarunya itu, kukutipkan saja beberapa paragraf komentar narablog Indonesia tentangnya. Nukilan dari Kursi Baca:

Premis novel ini sebenarnya menjanjikan: Robert Langdon mendadak terbangun di Florence, amnesia, dan hanya dalam hitungan jam harus berjibaku dengan berbagai teka-teki yang berkaitan dengan Divine Comedy, puisi epik karya Dante Alighiery. Di waktu yang sama, dia harus menyelamatkan diri dari kejaran satu organisasi tak dikenal. Di balik itu semua, seorang ilmuwan gila sudah menyiapkan serangan senjata biologis terhadap semua manusia di muka bumi.
Seperti bisa dibayangkan, kisah yang harusnya seru jadi terbata-bata karena dosen sejarah tua kita lebih antusias bercerita soal sekeping benda seni masa lalu ketimbang mencari cara menarik-ulur emosi kita soal nasib Robert Langdon dan dunia.
Oh, bukan berarti tidak ada cliffhanger, bukan berarti tidak ada plot twist. The big reveal soal bahaya besar yang mengancam manusia di akhir cerita cukup memuaskan dan tidak terduga. Tetapi semua percikan-percikan itu jadi tidak terlalu meledak akibat gaya penulisan yang bertele-tele. Jadi tidak terlalu thriller.

Komentar Marlistya Citraningrum di Kompasiana:

Ada satu kalimat yang diulang beberapa kali di novel ini. “The darkest places in hell are reserved for those who maintain their neutrality in times of moral crisis.” Tempat tergelap di neraka disediakan khusus bagi mereka yang mempertahankan ketidakberpihakan mereka pada saat krisis moral melanda.

Bagaimana dengan kau, apakah bagimu novel Inferno “seburuk” itu? Dan Brown tak lagi sebegitu tangkas bercerita?

Aku masih akan tetap penasaran dengan karya fiksi Brown yang baru, seperti halnya dulu, kali pertama jatuh hati dengan buku novel The Da Vinci Code:

Kok bisa-bisanya semua peristiwa di novel setebal 600-an halaman itu berlangsung hanya dalam durasi 24 jam!

~Jarar Siahaan, www.jararsiahaan.net