Zack Deyoung
Aug 8, 2017 · 4 min read

Awan yang mendung. (Willona naska 1).

Sudah satu jam willona duduk termenung di taman kota. Dia terus memikirkan kejadian kemarin pagi saat pertengkaran antara ayah dan ibunya terjadi Dan willona sepertinya sangat trauma melihat ayahnya menampar ibunya. Dengan perasaan sedih willona menarik napas panjang, dan mengambil sebuah buku binder kecil berwarna merah muda dari dalam tasnya. Willona menuliskan sebuah catatan penting yang harus dia ingat dalam perjalanan hidupnya “ Ibu maafkan willona yang tidak bisa membuat ayah dan ibu bangga, willona janji akan berbuat yang terbaik. Ibu tolong maafkan ayah yang telah meninggalkan ibu karena ibu terus membelaku aku tau ibu sangat sayang padaku dan akupun sangat menyanyangi ibu. Willona joseph. Tarakan 14 agustus 2003.”

Willona adalah seorang gadis blasteran indo-kanada berusia 19 tahun, ibunya seorang indonesia berdarah jawa dan ayahnya berkebangsaan kanada. Sejak menikah ayah dan ibunya pindah ke kalimantan karena pekerjaan ayahnya yang mengharuskan mereka menetap di tanah Borneo. Dan akhirnya pasangan ini mempunyai anak perempuan bernama: Willona joseph. Seorang mahasiswi semester akhir di salah satu universitas terkemuka di kota Tarakan. Willona mempunyai adik berusia 10 tahun bernama michael josep yang masih duduk di sekolah dasar.”

Willona sadar ibunya sangat menyayanginya walaupun willona melakukan kesalahan fatal, sekalipun ibunya tak pernah memarahi dan hanya menasehatinya. Berbeda dengan sikap ayahnya yang mempunyai sifat tegas dan selalu marah saat willona melakukan kesalahan namun ayahnya juga menyayanginya hanya cara memberikan kasih sayang keduanya berbeda.

  • Jam sudah menunjukan pukul empat sore dan kelihatanya akan turun hujan willona segera pulang. Saat berjalan pulang, willona melihat begitu banyak bendera terpasang di pinggir jalan. Saat ini pertengahan bulan Agustus yang memang pada bulan ini banyak orang yang memasang bendera karena beberapa hari lagi di kota itu merayakan hari kemerdekaan. Willona baru sadar ternyata bulan ini bulan kelahiranya namun dia kembali sedih setelah mengingat kembali pertengkaran orang tuanya. Willona berpikir, tidak akan mungkin aku dapat merayakan ullang tahunku dengan hangat jika kondisi keluarganya sedang kacau. Willona berbicara dalam hati; “ semoga ayah dan ibu ingat hari ulang tahunku

Willona pulang dengan tergesah-gesah hujan rintik-rintik telah turun mengiringi perjalanan pulangnya. Sekitar setengah jam akhirnya willona sampai di pintu rumah, willona terhenyam sejenak sebelum memencet bel rumahnya. Dan akhirnya willona memencet bel. “Ting nong ting nong”.

Tidak terdengar suara langkah apapun sebagai tanda ada orang yang membukakan pintu “apakah ibu ada di dalam” willona jadi khawatir dengan tergesah-gesah willona berteriak “Ibu…ibu willona pulang ibu” . Willona tidak mendengar ada jawaban hati willona takut. Akhirnya willona berjalan ke belakang rumah dan melihat pintu belakang terbuka. Betapa kagetnya willona melihat ibunya pingsan di dapur. “ibu kenapa?” Dengan mengoyang-goyangkan badan ibunya willona terus bertanya. Dan akhirnya ibunya sedikit membuka mata dan berkata “Willona kamu sudah pulang”

“Apa yang terjadi ?”

ibu tidak apa-apa mungkin ibu hanya kurang istirahat dan jatuh pingsan ” Nampak wajah ibunya sangat pucat, willona tak lekas percaya dengan pernyataan ibunya. Kemudian willona mengambil segelas air “ini bu minun dulu” Ibu willona hanya sedikit senyum menerima air dari willona. Setelah itu willona membopong ibunya masuk ke kamar, willona bertanya “Apa yang sudah ayah lakukan” “jangan tanya ayah lagi willona ibu sedang tak ingin membahas dia” “baiklah kalau begitu ibu harus istirahat, jaga kesehatan ibu” Willona lalu meninggalkan ibunya dan menuju kamarnya. Di dalam kamar willona merenung seakan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri terhadap sikap ibunya yang enggan bercerita dan willona meyakini bahwa ibunya telah menyembunyikan sesuatu darinya.

Sebab willona hafal sekali dengan sikap ibunya jika mengalami suatu masalah. Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam dan willona masih tetap merenung sambil memegang boneka yang ia memberi nama jingga, memang boneka iti berwarna jingga seperti halnya warna jeruk yang sangat manis.

Tak terasa willona tertidur dengan memeluk mesra boneka kesayanganya. Willona dan Jingga memang sudah seperti saudara. Willona pertama kali mendapatkan jingga dari ayahnya sebagai kado saat willona sedang ber-ulang tahun yang ke lima. saat itu willona memang sangat menyukai boneka. Tidak heran jika kamar willona terdapat banyak sekali boneka. Walaupun jingga hanya sebuah boneka, tapi bagi willona dia adalah mahkluk hidup. Jika sedih, willona sering mengungkapkanya kepada jingga, begitu juga saat bahagia. Bagi willona jingga adalah teman terbaik untuk mengeluarkan segala keluh kesah selain ibunya.

“Kriiiinggggg….” suara alarm berbunyi mengagetkan willona. Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul enam pagi. Willona bangun dengan terburu-buru menuju kamar mandi. Hari ini adalah hari willona janjian untuk bertemu bu santi (Dosen pembimbingnya).

Dengan sangat buru-buru willona bergegas berangkat. “Willona minum susumu dulu .teriak ibunya” “nanti saja bu willona sudah terlambat” “ingat nanti siang antar adikmu ke les musik. Willona tak menjawab dan dengan cepat memutar sepeda motornya. Saat tiba di kampus willona berlari menuju ruangan dosen. Sepertinya hari willona sangat sibuk sekali. Di ruang dosen wajah willona terlihat gugup dia khawatir bu santi memberikanya revisi lagi. Tercatat dalam dua minggu ini willona sudah tiga kali menerima revisi dan hal itu membuatnya pusing ditambah lagi dengan kondisi keluarganya yang kurang harmonis.

Di ruang dosen entah mengapa willona Tiba-tiba teringat suatu kejadian memilukan, saat detik-detik di mana neneknya meninggal tepatnya satu tahun yang lalu. Willona berusaha berpikir ekstra-keras agar dia dapat melupakan semua kejadian menyedihkan itu. Tapi mustahil, begitu ia konsentrasi pada keadaanya sekarang, pikiran tentang kematian memasuki benaknya. Hal yang sama terjadi sebaliknya: hanya dengan membangkitkan perasaan mendalam bahwa suatu hari orang pasti mati, maka dia dapat menghargai bahwasanya hidup ini terlalu berharga untuk tidak dinikmati. Kamu tidak bisa merasakan hidup tanpa menyadari bahwa kamu nantinya akan mati, pikirnya. Namun sama mustahilnya bagi kita untuk menyadari bahwa kita harus mati tanpa memikirkan betapa menakjubkanya hidup ini.

Willona ingat, nenek mengatakan sesuatu semacam itu pada hari ketika dokter menyatakan dirinya tak akan bertahan lama. “ kali inilah aq menyadari betapa indahnya kehidupan ini.” Katanya.

Sungguh tragis bagi orang yang mengalami fase kritis di akhir hidupnya masih tidak menyadari kalau hidup merupakan kenikmatan terbesar yang tuhan berikan kepada mahkluk hidup.

BERSAMBUNG…..

08-Agustus-2017.

Penulis: Zack Deyoung

    Zack Deyoung

    Written by

    sejatinya manusia adalah makhluk pelupa.