Gondrong itu ( BUKAN ) kriminal.

Zack Deyoung
Jul 21, 2017 · 5 min read

sumber foto: ig @Gondrongindonesia

Gondrong adalah sebutan yang berkembang di masyarakat Bagi laki-laki yang berambut panjang.

Sejak lima purnama silam saya selalu memimpikan bisa bernampilan layaknya seorang yang berbeda diantara lainnya penampilan yang cenderung abnormal, beda dan tidak biasa. saya selalu ingin melewati hari lebih bermakna, bermutu dan klimaks.

Setidaknya selama Dua Puluh Tiga tahun ini saya merasa masih ada yang kurang terhadap penampilan, mungkin faktor kurang bersyukur atau semacamnya. Saya hanya takut melewati masa muda tanpa kenangan, saya selalu khawatir tidak bisa menikmati masa muda di titik manapun, Takut dengan hal yang terlalu biasa dan selalu ingin mendapatkan yang maksimal. (walaupun hanya dilihat dari sudut yang bisa dikatakan sepeleh).

Contoh; Rambut. Semenjak lulus dari bangku SMA beberapa tahun silam saya sangat tertarik berpenampilan layaknya seorang Seniman atau sastrawan dengan gaya rambut gondrong. Boleh dikata saya adalah seorang yang sangat tertarik dengan penampilan gondrong. Menurut saya seorang laki-laki dengan rambut gondrong lebih terlihat kharismatik, gagah dan macho. Gondrong adalah sesuatu yang unik, beda dan tidak lazim.

Memasuki semester tujuh di bangku kuliah. Setelah beberapa kali mencoba dan gagal, akhirnya dengan segala usaha yang saya lakukan akhirnya saya bisa mengondrongkan rambut saya, Walaupun harus menjalani hari-hari dengan kebal telingga dari segala omongan orang “Tak terkecuali dari keluarga saya sendiri.

Berbicara tentang gondrong, Apakah kita pernah terpikir mengapa seorang laki-laki dengan rambut gondrong terkesan aneh dan tampak kriminal.

Jika pernah, mungkin sewaktu kecil kita sering disuguhi oleh tayangan drama atau sinetron di televisi yang menampilkan tokoh antagonis dengan penampilan gondrong, Bertatto, Bertindik, dan Celana sobek atau penampilan yang terkesan mainstrem di pandangan umum.

Di Indonesia sendiri laki-laki berambut gondrong dianggap tidak wajar dan terkesan aneh karena diidentikkan dengan pelanggaran nilai dan norma sebagai laki-laki. Asumsi masyarakat mengenai kerapian masih (sangat) sempit, patokan utama dari kerapian masih mengenai rambut dan pakaian. Sejauh mata memandang penampilan gondrong acapkali dipandang negatif dan menjadi kultur di kalangan masyarakat Justru menimbul kesan unik bagi sebagian kecil orang (khususnya penikmat seni). Jika kita mengkaji dan flashback ke masa lalu mungkin penampilan gondrong tidak layak dijadikan patokan untuk menjustis seorang yang dianggap kurang baik.

Melihat dari sudut pandang agama, Umat Nasrani memberikan imaji tentang Yesus sebagai pria berambut gondrong. Lalu dalam Islam, Nabi Muhammad juga dalam riwayat diceritakan mempunyai rambut yang gondrong. Rambut gondrong hadir dalam mengekspresikan bentuk perjuangan, seni, kebebasan.

Saya yakin tidak ada seorang gondrong pun yang relah jika dikatakan memanjangkan rambut hanya untuk gaya-gayaan atau ikut-ikutan.

Saya yakin semua teman-teman seper-Gondrong-an punya alasan masing-masing mengapa memilih berpenampilan gondrong.

Seorang gondrong pasti mempunyai seribu satu alasan yang logis perihal kenapa dan mengapa dia meng-gondrong-kan rambutnya. Tidak mudah bagi seseorang untuk menetapkan hati untuk memilih menjadi gondrongers, terlebih di zaman seperti ini di mana segala sesuatu hal harus di nilai mulai dari penampilan. Kesalahan pemikiran masyarakat luas tentang gondrong menghasilkan penilaian lebih terhadap fisik daripada karakteristik.

Jika kita menilik dari historisnya, rambut gondrong telah menjadi gaya yang dimusuhi penguasa dan diasosiasikan dengan penentang atau kegiatan subversif (khususnya dikalangan akademisi dan aktivis). Dari sisi kubu sebelah, hal ini justru dianggap efektif sebagian aktivis mahasiswa memilih “berambut gondrong”sebagai pilihan untuk menunjukkan perlawanan dan kritik.


Lalu bagaimana bisa stigma Gondrong mulai dicap sebagai kriminal, apakah semua pembunuh mempunyai rambut gondrong atau mayoritas pelaku kriminal mempunyai rambut gondrong. Saya akan sedikit mengupas sejarah tentang diskriminasi rambut gondrong pada zaman orde Baru.

Masuknya Budaya Hippies di Nusantara. Hippie, atau hippy, merupakan budaya yang berkembang sejak pertengahan tahun 1960-an Beberapa orang menganggap kata hippies merupakan variasi dari kata “hipster” yang pertama kali menyebar dari di Amerika Utara. Budaya Hippies yang menjunjung kebebasan individu ini identik dengan rambut Gondrong,obat,obatan terlarang,seks bebas dan busana yang lebar dengan warna mencolok.

Budaya hippies sendiri masuk ke Indonesia sejak era Soekarno. Namun budaya Hippies baru Populer sejak era Orde Baru seiring dengan merambah bebasnya budaya barat masuk ke Indonesia.

Dalam buku Dilarang Gondrong! Praktik kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an, Aria Wiratma Yudhistira mengungkapkan persoalan ini menjadi kajian sejarah sosial yang unik dan jarang disentuh para peneliti sebelumnya. Dia menelusuri surat kabar dan majalah guna menarasikan paranoid yang melingkupi pemerintahan Soeharto.

Sejak itu, Soeharto melarang keras budaya hippies Berkembang di indonesia karena dinilai sebagai gerakan kiri baru yang akan mengancam proses stimulus program pembangunanya. Percaya atau tidak, pada awal berdirinya orde baru, musuh besar penguasa ternyata bukan hanya komunisme, melainkan rambut gondrong. Saat itu petinggi militer mengeluarkan radiogram pelarangan rambut gondrong.

Memasuki tahun 70-an Keresahan Soeharto sampai pada titik nadirnya ketika gaya rambut gondrong mulai trend pada anak muda. Kemudian muncul berbagai opini publik yang dibuat sedimikian rupa untuk mencap orang-orang berambut gondrong identik dengan kriminal, kekerasan dan tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Atas dasar itulah pemerintah Orde Baru mengeluarkan kebijakan Dilarang Gondrong dan membentuknya BAKOPERAGON (Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong). Salah satu aturan aneh pada saat itu adalah instansi publik dilarang (keras) melayani orang-orang berambut gondrong.

Sejak saat itu, Orde Baru mulai phobia terhadap hal-hal yang berbau urak-urakan. Pada tahun 1971, Stasiun TV milik pemerintah dilarang menyiarkan atau menayangkan artis-artis berambut gondrong sebagai langkah antisipasi terhadap berkembangnya gaya rambut gondrong. Secara cepat, larangan ini menyebar ke gedung-gedung pemerintahan, sekolah, kampus, serta berbagai ruang publik.

Se-begitu phobianyakah penguasa terhadap rambut gondrong sehingga menghasilkan diskriminasi yang begitu nyata terhadap gondrong itu sendiri. Sejarah pelarangan rambut gondrong adalah sejarah praktik kekuasaan para diktator untuk mempertahankan kekuasaannya.

Dalam tradisi Indonesia, rambut gondrong merupakan tradisi terdahulu nenek moyang kita. Hal itu diungkapkan oleh sejarawan Anthony Reid “Sebagai contoh coba lihat foto atau gambar pahlawan dan tokoh kerajaan pada masa lalu. Beliau mengatakan bahwa rambut gondrong sangat kental dalam tradisi masyarakat Asia Tenggara, termasuk nusantara saat itu, Sebagai lambang atau simbol kekuatan dan kewibawaan seseorang.

Kembali ke masalah gondrong itu sendiri, secara pribadi saya melihat gondrong adalah simbol dari kebebasan. dalam arti luas; kebebasan berekspresi, perlawanan, kaum minoritas dan seni. Gondrong sama sekali tidak ada hubunganya dengan Kriminal,“kalaupun ada mungkin hanya kebetulan” gondrong sendiri lebih tepat diidentikan dengan kaum minoritas, kaum yang berjiwa merdeka dan berani tampil beda.

Hingga tulisan ini rampung, pelarangan rambut gondrong masih tetap eksis (Baik secara langsung maupun tidak langsung), dan dibalik eksistensi itu sendiri menghadirkan suatu perlawanan yang tak kalah hebatnya.

Ewako Gondrong.

Thanks For Reading.

By: Zack deyoung.

Follow IG. Zackdeyoung79

(Tarakan 21–07–2017)

01:44 pm.

)

    Zack Deyoung

    Written by

    sejatinya manusia adalah makhluk pelupa.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade