Perihal Terserah

Zack Deyoung
Aug 23, 2017 · 4 min read

Entah berapa banyak orang yang telah mengucapkan kata ini ketika diberi pertanyaan yang sifatnya mengharapkan pendapat baik dalam obrolan penting maupun tidak.

Berawal dari kebiasaan umum yang sering diucap sebagai tanda memberikan wewenang penuh terhadap lawan bicara.

Terserah. Satu kata yang punya banyak makna pragmatis. Kata ‘terserah’ itu menjadi semacam mitos yang tidak bisa terungkap, maknanya sudah bukan lagi tunggal tetapi ambigu. Kita seringkali mengidolakan ‘terserah’ saat putus asa, pasrah, atau saat terlalu banyak pilihan yang kita sangat malas untuk berpikir dan menentukan.

A : Ke mana kita liburan nanti?

B : aku sih, Terserah

: ke pantai?

B : nggak ah bosan ke pantai terus

A : ok jadi nanti berangkatnya jam berapa?

B : terserah aku ikut ajah.

A : jam 7 ?

B : waduh jam 7 kepagian bro.

If you spend too much time thinking about a thing, you’ll never get it done.

Kata “terserah” cenderung dipakai oleh seorang tidak konsisten terhadap pilihanya, terlalu mengampangkan sesuatu, tidak berani berkata iya atau tidak karena takut terbebani oleh jawabanya sendiri. Pengemar kata “terserah” biasanya tergolong pada manusia yang malas mengemban tanggung jawab. Tidak ada salahnya memakai kata “Terserah” dalam jawaban. Namun, kita harus tau konsekuensi dari kata “terserah”. Artinya, siap dan menerima apa yang ditentukan orang lain, karena hakikatnya “Terserah” Telah mempersilahkan orang lain menentukan suatu hal dan kita telah siap mengikutinya.

Munculnya kata “terserah” seakan menimbulkan kebuntuan yang membingungkan, Semacam memberikan hak lawan bicara untuk menentukan namun belum tentu menerima. ibaratnya seorang pengemis diberi uang seribu kepada seseorang kemudian si pengemis protes dan meminta lebih karena tidak puas dengan apa yang diberikan. Jika membuat rencana bersama kaum “Terserah”, kita seakan diperintahkan untuk berpikir sendiri. Kemudian kita berusaha untuk mencari pendapat yang tepat karena belum tentu ia menerimanya. Ketika mendengar ide dari kita yang kurang cocok pada si kaum terserah. Mereka seenaknya mengucapkan kata tidak setuju lengkap dengan keluh kesahnya. Dan kembali menyuruh lawan bicara berpikir agar dapat menemukan ide yang sesuai untuk kenyamanan dirinya.

Kata “terserah” biasanya sering terucap dalam obrolan-obrolan ringan. Obrolan ringan seakan menjadi wadah berkembang biaknya kata “terserah” daripada obrolan berat atau yang lebih terlihat resmi. Mengucapkan Kata terserah menjadi gambaran jika kita tidak benar-benar memprioritaskan sesuatu sebagai hal yang wajib untuk dipikirkan. Dengan mudahnya kita melemparkan tanggung jawab berpikir kepada lawan bicara dan tidak menggunakan hak kita untuk menyatakan pendapat. Memang terlihat sepeleh menyelipkan kata terserah di tengah-tengah obrolan. Namun, tanpa kita sadari obrolan menjadi garing dan terlihat seperti kurang penting lagi.

Setidaknya kata “Terserah” bisa menyelamatkan seseorang dari pertanyaan membosankan buat mereka yang tidak berani bersikap terusterang.

Terserah” bisa jadi topeng cantik ketidakpedulian kita, “terserah” Juga terkadang bisa jadi bentuk insekuritas karena kurang berani mengemukakan pendapat kepada seseorang yang lebih dihormati, terserah itu bisa jadi api kecil rasa marah, terserah itu karena tidak punya pendirian atau konsistensi, terserah bisa jadi karena terlalu menggantungkan keputusan kepada yang lain dan masih banyak lagi bentuk unik dari ‘terserah’ lainnya.

Kamu tidak lagi dibutuhkan*

Mungkin tidak pernah terpikir kalau kata “terserah” dapat berpengaruh cara pandang seseorang terhadapmu. Bisa saja karena terlalu sering mengucapkan kata “terserah” kamu tidak lagi dianggap (terlalu) penting dilingkunganmu. karena orang menganggap kamu adalah tipikal orang yang cuek terhadap sesuatu, maka keberadaanmu tidak begitu berpengaruh terhadap rencana dalam sebuah pembahasan. Selain terserah, ada beberapa suku kata yang (bisa jadi) sifatnya kurang lebih sebagai bentuk seseorang menganggap suatu hal sepeleh. Atur ajah,ngikut ajah,DLL.

Walaupun kata terserah tidak serta merta terdengar negatif di telingga semua orang namun alangkah baiknya kita memberi pendapat walaupun pendapat kita singkat, atau (kemungkinan) tidak cocok untuk diterapkan oleh lawan bicara. Setidaknya kita menunjukan etikat menghargai tentang sebuah topik daripada hanya mengucapkan kata Terserah yang terkesan simpel seakan bersikap masa bodoh terhadap topik itu.

Cukup sulit*

Di usia saya yang ke dua puluh empat tahun cukup sulit rasanya meninggalkan kata terserah. Tidak jarang saya me-ralat perkataan saya ketika mengucapkan kata “terserah” saat mendapat pertanyaan yang sifatnya meminta sebuah pendapat.

Sebagai seorang yang mencintai sastra indonesia Tentu kata “Terserah” Harus selalu ada dan dipergunakan. namun, Saya mesti pintar-pintar dalam menyelipkan kata terserah pada obrolan. Bagaimanapun kata “Terserah” adalah kosa kata yang baku dan tidak boleh dihilangkan begitu saja.

Dan pada kesimpulanya setiap kebiasaan kecil akan berdampak besar jika kita lakukan berulang-ulang. Dan dari kata terserah yang kelihatanya sepeleh justru bisa menjadi masalah yang besar. karena, terkadang kita hanya terfokus pada masalah besar namun sering lalai terhadap hal-hal kecil yang setiap hari kita lakukan. Terlepas dari sadar atau tidak, adalah tugas manusia untuk saling mengingatkan kepada sesama manusia karena saya percaya ;

Sejatinya manusia adalah makhluk pelupa.

Sesungguhnya tulisan ini saya buat sama sekali tidak bermaksud menyinggung, atau menyindir seseorang. Melainkan ini adalah pengalaman pribadi yang saya pernah alami dan saya coba mengungkapkanya lewat tulisan. Agar kiranya kita dapat menempatkan kata terserah pada posisi yang tepat untuk menghindari terjadinya dilema dalam sebuah obrolan.

Mohon maaf jika isi kandungan tulisan ini kontradiksi dipikiran pembaca. Karena penulis hanya memandang dari satu sudut pandang saja. Jadi, sangatlah wajar jika hal ini menimbulkan berbagai interprestasi.

Tarakan. 23 Agustus 2017 (sambil menikmati kopi susu)

.Zack Deyoung (mantan pengguna kata terserah)

)
    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade