Smartphone adalah tuhanku,Sosial media adalah hidupku.

kata-kata itu kembali teringat saat aku baru saja menghempaskan badan di tempat tidur. Untuk melampiaskan rasa lelah setelah seharian melakukan aktivitas yang cukup membuat badanku letih.

tiba-tiba saja,inspirasi ini muncul saat mengingat kembali sepengal kalimat yang keluar dari mulut seorang dosenku yang menyampaikan keprihatinanya terhadap gaya hidup di zaman sekarang.

setelah saya renungkan kembali,memang seperti itulah realitanya. Hampir 1/2 waktu kita dalam sehari hanya di isi dengan memegang barang mungil nan canggih itu.

Ada yang memegangnya untuk mencari hiburan,uang,pacar,teman baru,atau bahkan cuma mengungkapkan keluh kesahnya terhadap keadaan dirinya (update status).

rasa-rasanya barang mungil nan canggih ini amatlah sangat penting. bahkan (mungkin) ada yang menganggapnya sebagai nyawa.“maaf kalau kata-kata saya sedikit agak berlebihan”

maksudnya,seseorang yang dalam semenit atau beberapa menit saja tidak memegang handphone akan merasa bahwa hidupnya terasa ada yang kurang.

kalau dulu ponsel hanya digunakan untuk menelpon dan mengirim pesan tertulis (SMS).

Seiring kemajuan zaman ponsel yang dulu hanya digunakan untuk dua kebutuhan tersebut sudah berinovasi menjadi ponsel pintar,atau lebih akrab disebut smartphone.

Dengan munculnya teknologi baru ini, justru membuat manusia lebih lama menunduk dengan menatap lebih lama ponselnya.

secara tidak langsung peranan ponsel yang di bekali perangkat sosial media ini dapat menciptakan kepribadian ganda .

contohnya,orang yang aktif di sosial media dan sering berkoar-koar menceritakan keluh-kesahnya seakan menunjukan bahwa dirinya adalah korban ketidak-adilan dunia.

Bukan berarti di kehidupan nyata karakter orang tersebut seperti itu. bisa saja orang tersebut hanya ingin mengemis perhatian dari orang lain.

Ataupun seseorang yang sangat bijak di sosial media. sering memposting,atau menuliskan sesuatu untuk memotivasi orang lain. belum tentu orang tersebut adalah seorang yang selalu bersyukur dengan kehidupannya.

Banyak orang menjadi lebih tertutup pada lingkungan sekitarnya dan merasa dunia yang lebih riil sudah ada dalam perangkat khayalan yang bernama Sosial media.

Semuanya seakan sudah menjadikan Sosial media sebagai jendela untuk melihat dunia, sehingga mereka merasa (mungkin) tidak perlu lagi berpergian atau bertemu orang lain untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan.

mungkin di era gadgetisasi ini sudah menjadi masalah klasik. tentu kalian pernah mengalaminya atau bahkan setiap hari.

misalnya saat sedang berkumpul bersama teman-teman di kedai kopi,cafe atau di tempat keramaian lainnya.

seketika suasana obrolan saat berkumpul terkesan garing dan tidak maksimal. Tidak ada bahan obrolan krusial,Tidak ada obrolan menarik,Tak ada momen untuk tertawa lepas.

hanya obrolan standar dengan pertanyaan sederhana atau hanya sekedar basa-basi kemudian kembali memegang barang mungil ajaib tersebut.

kebiasaan itu terus berlanjut setiap harinya,tanpa menyadari bahwa mereka adalah korban gadgetisasi.

karena mereka terlalu Fokus dengan dunia dan kehidupanya di sosial media. sampai mereka menjadi amnesia hidup di dunia nyata.

Banyak orang yang lebih asyik berinteraksi melalui perantara ponsel daripada tatap muka langsung (face to face).

semua orang sepertinya sudah terlanjur jatuh ke dalam arus kenikmatan teknologi sosial media.

Kita semua tau,fenomena ini sangat menyedihkan dan sangat mengancam keharmonisan interaksi antar manusia

Tanpa disadari, generasi nunduk ini kehilangan kemampuan hidup bersama dan juga makin alergi dengan kegiatan silaturahmi secara langsung.

Sejatinya Smartphone diciptakan sebagai media berinteraksi dengan sesama di dunia maya. Tapi jangan sampai membunuh produktivitas kita di dunia nyata.

akhir kata dari saya “segalanya takkan menjadi lebih baik jika kita tidak memulai dari hal yang terkecil” .

THANKS FOR READING

by. Zack Deyoung

10–09–2016

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.