Tidak semua tentang buku namun semua ada pada buku

Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas. ( Mohammad hatta )

Itulah kata-kata yang keluar dari mulut seorang mohammad Hatta yang sangat memotivasi saya. Yah, bahkan seorang bapak negara saja tidak bisa mempungkiri kekuatan dari sebuah buku.

Dalam sejarah peradaban umat manusia, kemajuan suatu bangsa tidak hanya dibangun dengan bermodalkan kekayaan alam yang melimpah maupun pengelolaan tata negara yang mapan, melainkan berawal dari peradaban buku atau penguasaan literasi yang berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bukan hanya alutista, buku juga merupakan senjata umat manusia untuk membangun era dan kejayaan dengan menciptakan pemikiran-pemikiran baru.

Anyway Akhir-akhir ini saya melihat perpustakaan semakin sepih bak kuburan di malam hari. Antusias masyarakat ihwal membaca sudah sangat jauh menurun setiap tahunnya. Padahal membaca merupakan kebutuhan utama setelah makan dan minum. Saya berpikir mungkin karena suasana perpus yang membosankan atau barangkali ini merupakan tanda-tanda minat baca masyarakat sudah menurun.

Mungkin kurangnya Minat baca masyarakat membuat wadah seperti perpustakaan atau toko buku tidak seramai KFC atau caffeshop. Bagi masyarakat indonesia membeli buku tidak semudah jajan pulsa paket data atau kredit motor matic. Tidak ada kesadaran dari masyarakat membuat budaya baca semakin terkikis.

Dewasa ini, jumlah kutu-kutu buku yang mengunjungi perpustakaan dan toko buku jumlahnya pun hanya hitungan jari, bahkan saya tidak pernah melihat seseorang membaca buku di tempat umum seperti taman, pantai dan tempat rekreasi lainnya. Kalaupun ada sudah jelas statusnya minoritas (eh) “ini bukan tentang agama yah ini soal buku. Santai ajah#

Masyarakat indonesia kurang terbiasa membawa buku saat bepergian. Sudah menjadi kebiasaan Mengotak-atik smartphone jauh lebih asyik daripada sekedar membuang waktu untuk buka buku.

Yakin saya nih ) hari ini banyak orang yang tidak sadar kalau 17 mei adalah hari penting (khususnya generasi muda).

Faktanya anak muda lebih hafal hari valentine dan ulang tahun jadian ketimbang hari-hari penting nasional. Saat valentine tiba banyak ucapan perayaan yang pro dan yang kontra. Ada yang mengucapkanya dengan suka ria tak lupa dilengkapi kalimat romantis, ada juga kaum jomblo garis keras yang (sok) mendadak jadi ulama dengan menuliskan kalimat anti valentine lengkap dengan hadist beserta ayatnya. Secara tidak langsung, bagi mereka yang meramaikan ocehan di medsos tentang peringatan itu juga turut merayakanya, terlepas dari status pro dan kontra. Pada hakikatnya mereka sama-sama ingat dan mengakui hari itu.

Oke sampingkan masalah valentine dan Mari kita kembali ke topik utama).


Berdasarkan survey dari United Nation Eduction Society and Cultural Organization (UNESCO) minat baca masyarakat indonesia ternyata sangat rendah bahkan angka minat baca indonesia lebih rendah dari Thailand dan india. Selain itu survey juga menunjukkan bahwa hanya 1 dari 1.000 orang di Indonesia yang memiliki minat baca serius dengan rata-rata kurang dari satu buku yang dibaca per tahun (UNESCO 2012). sehingga dengan kondisi tersebut bila kita bandingkan dengan negara dikawasan Asia timur sangatlah berbanding terbalik. Contoh; Jepang.

Salah satu pemandangan yang lazim di negeri sakura banyak orang membaca sebagai pengisi waktu saat menunggu atau sekedar duduk istirahat. Lain halnya untuk negeri ini, orang indonesia lebih suka memanfaatkan waktu kosongnya untuk ngerumpi atau sekedar memainkan handphone (ngegame, ngemedsos).
Pertanyaannya sekarang, mengapa membaca belum menjadi bagian dari hidup kita?

Saya teringat kata dari Seorang negarawan Romawi Kuno: Marcus Tullius Cicero pernah mengatakan…. “A room without book is like body without a soul” — sebegitu pentingkah arti sebuah buku hingga dianalogikan ruang tanpa buku layaknya tubuh tanpa jiwa.

Buku merupakan jendela dunia, Keberadaan buku di muka bumi membantu manusia menemukan segala ilmu dan informasi belum pernah diketahui, dilakukannya,dikunjunginya, dilihatnya, atau juga belum pernah dirasakannya. Buku mengajarkan banyak hal tentang manusia, buku juga mampu membawa manusia menembus ruang dan waktu. Dengan buku manusia dapat merasakan kelamnya sejarah tanpa harus hidup pada masa lalu. Buku juga mampu membawa manusia berkeliling dunia tanpa harus keluar rumah.

Adalah hal yang wajar sebagai peringatan hari buku nasional, 17 Mei ini hendaknya menjadi refleksi bagi diri kita bersama, sudahkah kita membaca ada buku? Buku apa yang kita baca hari ini? Jika belum ada, marilah kita membiasakan diri untuk membaca dan melestarikan budaya membaca sebagai gaya hidup.

Jika minat baca buku pemuda/i saja masih kurang, jangan pernah bermimpi dapat membangun negeri dengan generasi saat ini.

SElAMAT HARI BUKU.

Thanks for reading

TARAKAN 17 MEI 2017. 01:08

Oleh ; Agus dian zakaria .

(Mahasiswa sekolah tinggi ilmu ekonomi Bulungan Tarakan)

#AyoRamaikanDiPerpus

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.