Alasan

Aku ingin berhadap-hadapan denganmu sekali saja. Bukan, bukan untuk berdebat, apalagi menuduh yang bukan-bukan atau hingga kemungkinan yang amat jauh bagi kita ; saling menyalahkan. Aku hanya ingin kita berbicara bersama, seperti yang dilakukan oleh nenek moyang kita, seperti tentara jerman dan perancis yang mengambil jeda untuk berpesta bersama ketika natal tiba, melupakan perang diantara keduanya. Salah satu kebudayaan yang seharusnya tidak terjadi adalah ketika kita sama-sama kecut saat saling berhadapan satu sama lain, sedang bersama-sama duduk berjejer, tetapi mata kita berada nun jauh entah kemana, bahkan seolah-olah surga sedang menanti di depan mata bagi siapa saja yang menginggalkan duduk-duduk tidak berguna. Kalau saja memang benar begitu, tidak akan ada inspirasi dan sisi kemanusiaan seorang Utusan Tuhan yang dikirim untuk menebar perdamaian dan membenahi kekurangan-kekurangan manusia di dunia. Kalau boleh berangan-angan, aku akan mendeskripsikan pertemuan kita nanti dengan dialog yang kira-kira begini:
Aku : “ Hai, apa kabar? Bagaimana kamu melewati hari ini?” aku mengucapkannya sembari bersalaman dam tersenyum.
Kau : “ Baik. Kau sendiri bagaimana? Sudahkah kau pesan minuman? Pesankan aku yang sama sepertimu.” Sambil membalas senyum.
Aku : “ Ya, kebetulan aku sudah memesan teh hangat. Minuman netral. Kalau-kalau kamu tidak suka kopi. boleh kita mulai perbincangan ini?”. Aku berusaha memulai dengan sederhana.
Kau : “ Ya, silakan. Dengan senang hati.”
Aku : “ Apakah kamu tidak menyadari ketika kau mengatakan hal-hal semacam itu perlu banyak pertimbangan dan pemahaman terhadap sekelilingmu?” aku mulai bertanya.
Kau : “ Bagiku, hal-hal yang sudah jelas teori dan petunjuknya, harus dilaksanakan sedemikian adanya tanpa perlu penyesuaian lain bahkan cenderung berubah dari aslinya”. Kau menjawab dengan yakin, tetap tenang.
Aku : “ Bagaimana jika ternyata teori-teori itu ternyata akan usang di pikiran kita tanpa benar-benar memahami bahwa daun yang gugur pun bukan sekadar takdir Tuhan yang sudah ditentukan? Jika ternyata Tuhan mengisyaratkan bahwa daun-daun itu berguguran mengikuti musim yang berlaku, pun akibat dari perilaku tangan kotor kita yang mencemari alam?”
Kau : “ Bukankah memang begitu? Bahwa semua sudah ditentukan. Bahkan para ahli sudah sepakat tentang itu.”
Aku : “ Ya, para ahli memang sepakat tentang itu. Tetapi, bukankah teori itu hanya pengantar, sedang teori lain mengatakan bahwa perbuatan kita manusia juga menentukan masa depan bumi.”
Kau : “ Tetapi intinya, aku tetap dengan pendirianku bahwa yang terpenting adalah itu semua sudah diatur Tuhan. Dan aku harap kau memahami itu.”
Aku : “ Baik, silakan saja. Kita tidak sedang memaksakan kehendak satu sama lain kan? Bukankah kita berpegangan pada : mungkin saja pendapatku keliru, dan pendapat yang lain benar, iya kan?”
Kau : “ Benar. Kita sepakat dengan itu. Aku menerima alasan itu.” Dia memahami ucapanku, ucapan kita bersama.
Aku : “ Itulah mengapa aku sengaja memesan teh, meski sebenarnya aku bisa memaksakan kau untuk menikmati kopi karena bagiku, kopi adalah minuman ternikmat. Tetapi aku menyadari, bahwa kecenderungan orang itu berbeda-beda dan mereka memiliki alasan masing-masing yang kuat untuk memegangnya.” Aku menyimpulkan
Kau : “ Terima kasih atas pengertiannya. Aku akan tetap berjalan pada apa yang aku pahami dan yakini, serta tidak menutup kemungkinan untuk mengambil yang lain, begitu pula kau. Dan aku menyadari, sejatinya kita pada tujuan yang sama, sebagai manusia yang sama berusaha menjaga keyakinannya. Dan aku rasa kita cukupkan, aku sudah memenuhi keinginanmu untuk berbincang, sekali lagi terima kasih”.
Aku : “ Sama-sama. senang rasanya bisa berbincang untuk saling memahami alasan-alasan kita untuk tetap ada sebagai manusia, manusia yang menuju keselarasan bersama. Hati-hati di jalan.” Aku menjabat tangannya.
Jika pada nantinya kita sudah sama-sama tidak mampu berbincang lagi, kita sudah sama-sama saling memahami pendirian kita masing, lewat perkiraan dialog yang aku imajinasikan tadi ketika kita bertatap muka untuk saling memahami satu sama lain. Semoga kita memang benar-benar akan berusaha mencapai keinginan-keinginan kita, saat semua yang kita butuhkan untuk diri sendiri sudah tunai terlaksana. Seperti kata Mahatma Gandhi, bahwa dunia ini cukup untuk menampung kebutuhan-kebutuhan kita, tapi tidak cukup untuk memenuhi keinginan kita. Kebutuhan kita adalah, sekeras mungkin mencari alasan bahwa kita patut hidup bersama-sama memperjuangkan apa yan kita yakini dengan benar, tanpa mencela satu sama lain ketika dirasa ada hal-hal yang tak semestinya, yang harus dikoreksi bersama-sama. Mencari persamaan-persamaan dan titik temu diantara banyak perbedaan yang niscaya mesti kita ijtihad-i bersama dengan penuh rasa tanggung jawab dan penuh cinta. Sedang hal-hal lain yang kaitannya dengan kesempurnaan suatu pencapaian, tidak perlu kita kejar dengan tidak wajar, karena kesempurnaan bagi suatu pencapaian adalah mustahil di dunia ini.
Aku tidak sedang menasehati siapapun, termasuk kau. Aku hanya sedang mengingatkan bahwa menjadi berbeda satu sama lain adalah salah satu ke –Maha Hebat-an Tuhan yang tidak terkira nikmatnya, sebab di situlah muncul usaha memahami satu sama lain diantara kita. Aku ingin menutup perjumpaan dengan malam pendek penuh perdebatan panjang di jalanan yang sering aku lihat hampir setiap harinya, dengan sebuah ungkapan dari seno gumira, dari puisinya yang berjudul Surat Cinta Untuk Alina. Kira-kira dia berkata begini pada salah satu baitnya :
“Meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan”.
Bait tersebut mengisahkan seseorang yang mengirimkan surat cinta lewat tukang pos, di mana Alina, sang perempuan hampir memastikan menolaknya mentah-mentah, tak membalas surat itu sama sekali. Dan sang lelaki, tak pernah tahu apakah itu akan terbalas sesuai harapan, atau tak terjawab sama sekali, sampai-sampai ia menggambarkannya sebagai kemungkinan yang kemungkinannya amat sangan tipis, atau bahkan kemungkinan itu ia munculkan sendiri agar tidak terlalu sakit saat teriris. Sedang bagiku, kemungkinan berarti bisa terwujud meski kecil. Menghadirkan kemungkinan berarti berusaha menyelamatkan alasan-alasan untuk tetap menjadi manusia yang berpegang pada apa-apa yang diyakininya dan diperjuangkannya, sebab itulah manusia terus berjuang untuk dirinya sendiri.

Like what you read? Give Naimfakar a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.