DRAMA SAHUR PERTAMA
::: catatan puasa 0,1 km :::

Pernah sakit kepala yang sedikit goyang saja rasanya seperti beberapa syaraf di kepala ikut bergeser beserta tengkorak-tengkoraknya sekalian? Nah sakitnya sedramatis itulah. Saya mengalaminya duhai manis sekali.

Jika rasa sakitnya diskalasisasi 1-10 mungkin nilainya hingga 5 point. Sesungguhnya mungkin hanya 3 point atau bahkan lebih rendah tapi karena rasa syukur yang nihil point sakitnya termark-up secara sepihak.

Ditambahkan dengan lisan mengeluh yang tak berkesudahan hingga ke lapak sahur maka jadilah santap sahur perdana ini menjadi tak khusyu. Makan sekedarnya minum seadanya gerak kunyahan mulut jadi seperlunya.

Terbayanglah siang-siang mencekamku!

Tetapi bukan cerita diatas itu yang membuatku semakin sakit.

Setelah makan sahur besar istri saya berinisiatif memetikkan beberapa lembar daun sirsak yang dalam skenario Tuhan, tumbuh di halaman tetangga pas samping rumah. Ia seduh dan hidangkan penuh cinta. Ajaibnya dalam hitungan beberapa menit saja sakit di kepalaku beranjak pergi. Tetapi suara adzan telah terdengar dan tidak mungkin sahur itu saya ulang kembali. Kesempatan terbuang sia-sia. Sakitnya tuh disini (nunjuk kemana saja).

Siangku semakin mencekam.

Like what you read? Give Muhammad Ramli Sirajuddin a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.