Iman Yang Membunuh Tuhan

Di suatu pagi seorang gila berlari ke pasar lalu berteriak:”Aku mencari Tuhan ! Aku mencari Tuhan”. Orang lalu berkerumun menontonnya. “Memangnya, Tuhan pergi ke mana, Dia lari atau pindah rumah?” Tanya seorang penonton di pasar itu sinis. Orang gila itu menatap tajam semua orang yang monontonya di pasar itu lalu bertanya “Coba [terka] kemana Tuhan pergi? Tak ada jawaban. Orang gila itu menjawab sendiri “Aku mau mengatakan kepada kalian. Kita telah membunuhnya. Ya kita semua telah membunuhnya!” Kisah diatas hanyalah metaforika Nietszche (1844–1900), filosof proklamator kematian Tuhan di Barat.

Bagi kita (yang merasa beragama) kisah ini mengada-ada dan mustahil, bagaimana mungkin Tuhan akan terbunuh dengan tangan makhluk-Nya? Namun pada kenyataannya aktivitas keseharian,yang dilakukan oleh penulis dan sebagian kecil manusia selain penulis telah “seolah-olah” menganggap Tuhan tak pernah dan tak akan pernah ada. Tentu ada apresiasi positif dari deklarasi Nietszche, bahwa dia mendendangkan kejujuran, terlepas dari “kedunguan filosofis” yang telah ia lakukan atau “niatan buruk” dari sebuah “skema pemikiran” yang pada kenyataanya telah menjadi “virus” dari kebudayaan di dunia belahan barat.

Tulisan ini bukan pembahasan filsafat yang “njelimet” bukan pula upaya dari seseorang yang merasa perlu “mentobatkan” pemikiran Nietszche atau pemikir ateisme lainnya dan atau “memustakimkan” pemikir yang merasa menjadi ummatnya tetapi sebuah “refleksi bodoh” dari orang yang terlalu mabuk dengan kepalsuan dan yang diburu-buru oleh angan-angan.

Fenomena keberTuhanan menjadi fokus semua pemikir interdisiplin ilmu pengetahuan baik yang meniadakan (ateisme) atau mempertegas (teisme) dan termasuk penulis yang telah merasa cukup lama terapung di lautan kehidupan tanpa layar dan kompas penunjuk arah. “Tuhan tak terjangkau dengan pikiran manusia” demikian gerutu guru saya,dahulu. “Tuhan adalah keimanan yang tertancap secara fitrawih pada hati-hati makhluk-Nya,sehingga mempertanyakan-Nya adalah langkah yang “balelo” demikian syair rekan saya yang beriman.tapi betulkah? Pemahaman tentang Tuhan sangat terang tak bisa diabaikan lagi. Membuangnya pada “penjara iman” adalah tindakan kelalaian dan kekalahan (tidak mau tau). Tuntunannya bahwa manusia bergerak menuju “ingin tau” bukan sebaliknya. Jika agama tak bisa menghargai “ingin tau” maka mari nyanyikan sayonara perpisahan pada agama.

Sayonara…sayonara…sayonara semoga tak berjumpa lagi !!!

Sebagaimana maklum bahwa rukun iman kita berangkat dari keimanan menuju kepada Allah SWT, bukan berangkat dari keimanan kitab suci bukan pula dari yang lain…

*catatan 17 Oktober 2010

paste dari catatan lama saya: http://www.kompasiana.com/muhammadramlisirr/iman-yang-membunuh-tuhan_552fbd836ea834ea2b8b4571

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Muhammad Ramli Sirajuddin’s story.