PERSATUAN-PERSATUAN (perdamaian-perdamaian)
:::catatan puasa 0 km:::

photo liputan6.com

“Alhamdulillah puasanya sama…”

Kalimat sederhana ini terlontar secara tak sengaja dari mulut saya. Betapa bersyukurnya kita karena kesamaan, kebersamaan dan persatuan betapapun pemerintah dan Muhammadiyahnya dirimu bahkan senahsabandiyah-nahsabndiyahnya dan tak lupa kita ikutkan sejamaah annasirnya dirimu.

Saya tidak tau apakah Nahsabandiyah yang selalu terlalu lebih awal mengumumkan berakhirnya bulan Sya’ban sebagai tanda dimulainya bulan Ramadan dan yang lain terlalu terlambat atau pemerintah yang sangat hati-hati dan Muhammadiyah yang lebih sangat hati-hati tetapi yang pasti bulan itu hanya satu mustahil menjadi dua apalagi “andai bulan bisa ngomong” dan kita semua bergembira karena persatuan. Ingat persatuan dalam terma orde lama dan reformasi bukan terma orde baru yang bisa berarti pemberangusan, maka bersyukurlah kalian hai ummat Nahsabandiyah, Jamaah Annasir dan Muhammadiyah dan yang lain-lain karena bisa berbeda tanpa harus dipaksa untuk bertobat oleh pemerintah. Mengenai sebuah kelompok penumpang baru Nusantara yang tuna sejarah kebhinnekaan dan senangnya teriak kafir-sesat karena kita berbeda tentu saja dengan kekuatan “persatuan” bisa kita kebiri sama-sama.

“Ini satu nikmat tersendiri karena itu kita tidak disibukkan hiruk pikuk perbedaan-perbedan itu” ungkap Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat Ma’ruf Amin dalam jumpa pers di Kantor Kemenag beberapa saat lalu. Yah persatuan adalah nikmat apalagi untuk urusan ibadah yang bersifat sosial karena dimensi rame-ramenya itu bro.

Berpuasa bisa jadi urusan anda dengan Tuhan, mau puasa dengan model apapun silahkan tetapi kapan mulai berpuasa itu urusan sosial. Mungkin kita butuh “Fiqih Persatuan” sebagaimana gagasan Musa Shadr di Lebanon yang salah satu isinya adalah penyamaan hari-hari besar Islam. Kabarnya bahkan keseragaman waktu adzan. Jadi jika mendekati waktu adzan subuh misalnya komandan adzan tinggal memberi aba-aba “kepada seluruh muadzin Waktu Indonesia Bagian tengah 3…2…1… mulai!”. Allah Akbar Allah Akbar…langit Tuhan pun akan bergetar.

Jika adzannya seperti ini apalagi dengan kualitas muadzin pilih kandang maka ayam mengeram telur pun akan loncat ke masjid dan di pastikan sebuah kelompok yang dengan tulus jalan dari rumah ke rumah mengajak orang ke masjid akan pensiun dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya.

“Insya Allah lebarannya juga bareng”, aduh pak Kiyai Ma’ruf Amin belum puasa ngomongnya sudah lebaran sebentar lagi…rasanya gimana gitu.

Woi…lebaran bareng…bareng…baaareng!

Like what you read? Give Muhammad Ramli Sirajuddin a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.