8 tahun di tanah Tuhan

8 Maret 2010
Skenario Tuhan baru saja diputar, tirai mulai terangkat, pagi buta saat cahaya masih ragu menerpa bumi, seorang lelaki dengan angka 52 keluar seusai melepas temu dengan Tuhan, udara kala itu begitu beku, biji mata anaknya masih tertutup saat dengan teduh lelaki setengah baya itu mendorong kereta penghidupan keluarganya menuju pintu-pintu rezeki di kota kecil di Timur Indonesia, roda kereta mini itu perlahan lahan merayap di jalan tengah pasar, hanya beberapa pasang mata yang menyala.
Tuhan menggariskan takdir terakhir di dunia bagi lelaki setengah baya itu tepat di hari itu 8 tahun yang lalu, saat istri tercinta masih mendekap hangat 4 anaknya, saat kata hilang belum terdefinisikan, saat kata usai belum tereja sempurna.
Jarum jam memeluk angka 7 lebih separuh, lelaki itu di panggil pulang menuju pencipta, jatuh ke tanah yang juga adalah asal tubuhnya, jatuh melepas tangan dari genggaman kereta penghidupan keluarganya, pergi menanggalkan nafas terakhir di bumi, pergi meninggalkan gelar baru bagi keluarga tercinta, janda bagi istrinya, yatim bagi ke 4 anaknya.
Sejauh itu anak lelaki kesayangannya masih tentram dalam pulas, masih mengadu pada mimpi tentang keinginannya meraih pendidikan tinggi yang layak, awan hitam datang pada anaknya, membangunkan pulasnya menjatuhkan segala ingin.
Anak lelaki itu menyusuri lorong kamar rumah sakit, nyanyian kematian dari mulut-mulut bisu menggema dalam kepalanya, saat dia masuki ruangan, ayahnya telah menjadi mayat ditutupi kain panjang bermotif batik.
Jalan terjal menanti di depan, umpama burung yang kehilangan sayap, hanya mampu berbual mengenai angkasa biru tanpa sekalipun menyentuh udara kebebasan, demikianlah keadaan anak lelaki itu, patah segala asa yang dia tanamkan di kepala ayahnya, putus benang-benang pengharapan dari secarik layang-layang yang juntai ke makam ayahnya, mematung menghadapkan mayat ayah ke haribaan sang pencipta, lalu air mata lebih sering mencipta mata air di ceruk matanya.
Anak lelaki itu turut membawa tubuh ayahnya yang telah mayat menuju pemakaman umum, parade tangis memecah belah keheningan, sepanjang jalan doa-doa dipanjatkan ke tiang-tiang langit dari mulut sanak, keluarga, rekan, sahabat dan segala macam makhluk yang mengenal ayahnya, sosok humoris dengan sepasang tawa di pipinya, sepasang tawa yang menjanjikan keteduhan setiap saat anaknya pulang. Tanah menguburkan jasad lelaki humoris itu, hanya kenangan tawa yang tersisa, tawa yang kini kehilangan nada.
Rumah menjadi tempat pulang yang paling hening, segala suara telah dimakamkan bersama tawa ayah, suara kesunyian memantul di dinding kepala anak itu, tak banyak yang mampu dia dengar, sebab ditinggal mati menjadi jawaban paling ribut yang dia diamkan.
Tahun menjalani rutinitasnya, berganti angka-angka, mengulang pagi dan malam, menelan dan memunculkan kembali mentari, anak lelaki itu mencoba kembali berdiri seusai berjudi dengan waktu, tentang siapa yang mati siapa yang hidup, siapa batu karang siapa ombak, siapa fajar siapa senja, siapa laut siapa gunung.
Setiap menemui siapapun anak lelaki itu memasang senyum terbaiknya, berharap warna-warni dunia kembali menghampiri bohlam matanya, sebab sejauh yang dia ingat hanya hitam warna yang setia menjadi bayang setelah warna yang lain entah di pekabungan ayahnya.
Anak lelaki itu tumbuh menjadi julang-julang kaktus di tengah deru padang savana, menguatkan diri tanpa percikan mesra air sebagai sumber penghidupan, memasang duri-duri kecil di sepanjang tubuhnya, berharap tak satupun masalah niat merayu, karena sudah terlalu banyak masalah yang menidurinya.
Setiap kali malam jatuh di tanggal ke 8 bulan ke 3, anak lelaki itu mengambil sebatang potongan kayu mangrove lalu menggambar wajah ayahnya yang masih lekat dalam ingatan, sesekali gulungan ombak datang menghapus kepala ayahnya di bibir pantai, lalu dia tengadah ke langit hitam berharap setiap detail ayah yang terbawa ombak akan abadi di lapang langit malam.
Setiap saat pagi pertama datang di tanggal ke 8 bulan ke 3, anak lelaki itu akan melebarkan biji mata menatap fajar yang beranjak ke peraduan, anak lelaki itu hening seketika, membaca doa paling bisu dengan tangan gemetar, nama Ayahnya sekali lagi menaiki langit Tuhan, nama ayahnya sekali lagi menghujani ingatan.
Setiap saat senja di hari ke 8 bulan ke 3, anak lelaki itu membacakan kitab suci dengan khidmat seraya memejamkan mata, meminta pada Tuhan agar lantunan ayat-ayat suci yang dibacakan akan membelai mesra rambut ayahnya, akan mengusap lemah wajah syahdunya.
Setiap waktu ke 8 di bulan ke 3, Doa dan harap menyerbu Tanah Tuhan tempat ayah humoris itu pulas selamanya.
Selamat Hari Lahir Ke 8 Di tanah Tuhan Ayah ( Alm ) Muhammad Amin
Buah hatimu Muhammad Yusuf
Semoga berkenan.
