Sajak yang tak dapat kita lunasi

Gelombang-gelombang prahara, mengikis habis tanah kepercayaan kita pada apa-apa yang kita tanam, pada apa-apa yang kita genggam
diatas semua itu pohon-pohon tumbuh dengan sekehendaknya, ranting adalah tangan-tangan waktu membelai ubun-ubun masa lalu, menjadikannya berguguran seperti daun-daun musim semi, sementara itu akar-akarnya menghujam tanah dimana dulu pernah kaki-kaki kita berpijak searah, berdarah tanpa alas.
Semua janji yang pernah terucap adalah hutang, dan kemiskinan masih saja tak ingin meninggalkan kita, dimalam-malam paling beku dia mengetuk-ngetuk pintu meminta semua yang melekat dalam diri kita, mulut-mulut terkunci menghentikan setiap patah alasan yang mengintip dari bibir kata, tak ada yang dapat dimaafkan, kita harus membayar janji-janji itu.
Jika kelak waktunya tiba, janji-janji itu jatuh tempo dan kita tak dapat melunasinya, maka ia akan jadi amarah yang membakar seluruh perihal yang pernah mendekatkan kita mendekapmu, mendekapku.
Kita akan jadi abu-abu kenangan, yang apinya telah kita padamkan, dan sisa-sisa pembakarannya akan dikobarkan semesta menuju makam kita yang berdampingan.
