Di Buku buku

Aku menyesal melewatkan hari buku tidak di tempat buku. Entah itu perpus, pameran, atau toko buku.

Terakhir aku melihat banyak buku adalah tiga hari lalu. Waktu itu malam dan aku melihat buku cuma sebentar. Karena di toko itu ada agenda diskusi yang menarik minatku.

Diskusi mulai pukul tujuh. Sedang aku memarkir motor bersamaan panggilan Isya. Di lantai dua yang tak berdinding terlihat orang sudah ramai. Kami bergegas masuk.

Tiga temanku langsung menuju tangga. “Aku mau lihat buku sebentar,” kataku sambil belok menuju pintu dari pipa besi bundar yang berputar. Suasana lumayan sepi. Toko buku ini biasanya ramai sehabis Asar dan setelah Isya. Aku cenderung menghindari jam segitu. Kecuali jika terlanjur di dalam dari siang.

Kali ini aku tak berniat keliling. Aku berhenti sekitar sepuluh langkah dari pintu. Di situ bersusun buku terbaru yang seolah dipampang sebagai penerima tamu.

Kuambil satu. Buku berwarna putih dengan dengan guratan judul hitam. What i talk about when i talk about running. Nah ini dia. Tidak terlalu tebal. Cuma sekitar 250 halaman.

Langsung kutenteng catatan Hamura itu ke kasir. Ohya, aku lebih suka menyebut Haruki Murakami dengan sebutan itu. Mirip dengan tokoh samurai kartun kesukaanku, “Himura” Kenshin. Atau julukannya Batosai si Pembantai. Begitu uang kembalian disodorkan penjaga kasir, aku menuju lantai dua.

Buku Himura baru saja diterbitkan salah satu penerbit Jogja. Ia salahseorang penulis favoritku. Aku yakin favorit orang lain juga. Aku dapat infonya baru dua jam lalu. Dari teman yang melihat unggahan toko buku indi di Instagram.

Ingat ada sedikit uang di kantong, nafsuku sudah susah kutahan. Segera beli, mencium, sebelum mabuk di dalamnya.

Aku bersyukur ada buku baru yang menarik. Ketika otak penuh soal entah, macam seperti ini, hanya dengan buku keadaan bisa dilapangkan.

Seperti semua orang, aku juga menganggap buku menjanjikan petualangan. Hal baru untuk direnungkan, atau hal remeh untuk ditertawakan. Dalam tulisan Murakami yang sudah sudah, aku mendapat keduanya.

Diskusi belum selesai ketika aku mengangkat pantat satu jam kemudian. Itu setelah rasa penasaranku dijawab penulis yang bicara di depan. Segera kuambil motor dan memacunya. Sampai kos pukul sembilan kurang sedikit. Kubuka buku sampai menjelang pagi.

Untuk hari buku yang berlalu sebentar lagi, aku tak punya hal yg bisa dibagi. Cukuplah bagiku membaca setiap hari.

Perayaannya? Anggaplah tiga judul di dalam ransel yang kubawa berputar Jogja menjadi wakilnya. Tak perlu muluk. Sebab Buku selalu spesial, meski hari buku berlalu biasa saja. Bukan begitu?[]