Dua Gelap

“Saya tidak dapat membaca,” katanya. “Jadi ini perpustakaan pertama yang pernah saya datangi.” 
“Begitu juga saya,” kata satunya, “ini pengalaman pertama saya. Walaupun saya bisa membaca.” 
“Saya punya sepupu buta tapi bisa pergi ke bioskop menonton film,” lanjut satunya.
“Saya dapat melihat, tapi saya belum pernah ke bioskop.”

Itu dialog yang tak bisa aku lupakan dari Kafka on Tha Shore. Selain sangat menggelitik, menurutku, itu juga menjadi cerminan bagaiamana cerita dibangun. 
Dari novel ini aku seolah dipaksa untuk mengakui teknik penulisan Murakami memang sekelas ibu jari. Jarang sekali aku dapati penulisan novel dengan dialog padat yang mengalir. Dan yang paling penting, dari dialog, personalitas (penokohan) tokoh cerita dibangun dengan lumer.
Kalau mau membandingkan, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas punya kemiripan di aspek sana. Eka membangun narasi novel tersebut dengan percakapan yang padat. Bukan itu saja, bahkan Eka mencacah peristiwa dengan sangat lembut. Seperti scene adegan yang merangkai keseluruhan sebuah cerita film. 
Secara garis besar aku sangat suka keduanya karena satu unsur; canda gelap. Entah apa istilah indonesianya, karena setahuku adalah terjemahan dari black comedy. Seperti petikan novel di atas itu. Setelah beberapa kali kubaca pun aku tetap tertawa.
Namun kedua novel ini tak bisa begitu saja disandingkan. Karen ada perbedaan yang cukup signifiksn di sana. Yakni latar cerita. Perbedaan ini sangat menentukan bagaimana kapasitas cerita memuat ide penulis. 
Dengan latar pinggiran, tentu saja hal yang dibicarakan Seperti Dendam berbeda dengan Kafka on The Shore yang urban. Ini yang akhirnya, setidaknya menurutku, membedakan segmen pembaca dari kedua novel tersebut. Meski tak pernah menutup kemungkinan dengan nama besar keduanya, dua segmen tersebut bisa terkover.
Sehingga Kafka on The Shore dengan latar urban, lebih melayani selera para urban dan kelas menengah secara muatan. Karena itu juga aku sangat menikmati karya ini. Sebab Murakami banyak sekali menyisipkan perenungan dan sudut pandangnya dalam menengok sejarah dan peristiwa besar.
Murakami mengajak kita ngobrol soal buku, filsafat, musik, dan banyak lagi. Ini kurasa daya tawar dari Kafka on The Shore yang sulit sekali ditandingi novel yang lain. Karena semua itu diramu dengan canda. Meskipun agak gelap.[]

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Jamaludin A.’s story.