Kebosanan Baru

Aku pernah bersepakat dengan kawanku, kehidupan hanyalah mencari kebosanan-kebosanan baru.

Beranjak dari aktifitas satu ke lainnya dengan mengharap adanya kebaruan yang mejerat kita agar tak muak dan jengah menjalani hidup.

Setiap aktifitas, semenarik dan semenyenangkan apapun dilakukan, pada waktunya akan menemu kebuntuan. Duk! Seolah membentur tembok.

Saat itulah orang mesti, tak bisa tidak, memutar kemudi. Belok kanan ataupun balik kanan sehingga langkah bisa berlanjut.

Seturut dengan itu, sepertinya orang dilarang mengharap ketenangan. Lepas dari resah, pisah dari jengah. Sebab, kata heidegger, manusia telah dikutuk untuk selalu memakna dunia. Untuk terus memahami posisi dan hidupnya. Sialnya, memakna terus berubah seturut pengalaman atas kondisi yang berevolusi.

Menolak berubah tidaklah mungkin di dunia. Orang bisa sama, stagnan, ataupun jengah. Bisa juga nyaman dan terpenjara dalam sebuah kondisi. Namun keniscayaan memaknai hidup takkan berhenti.

Dan yang menentukan akhirnya adalah kekuatan orang untuk beranjak dan menemu makna atas dunia baru atau tidak. Jika orang tak lagi mendapat makna itu, anggap saja ia telah mati.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Jamaludin A.’s story.