Yang Baru di Tiap Tahun

Flash mob Panitia Japanzuki Show 12, Sabtu (15–4–2017) di Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia, Jln. Setiabudi, Bandung. (Malinda)

Siang hari yang cerah, sekitar Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia tampak orang-orang berlalu-lalang menggunakan costum ala anime Jepang atau yang biasa disebut cosplayer. Ada yang menggunakan costum Orochimaru dari anime Naruto, L dari anime Death Note, dan masih banyak lagi. Terdengar lantunan lagu berbahasa Jepang yang cukup keras, stand makanan dan pernak pernik khas Jepang menambah kesan “Jepang banget” pada acara ini. Acara apakah itu?

Japanzuki Show 12 merupakan program kerja tahunan milik Himpunan Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Pendidikan Indonesia. Tahun ini diadakan tanggal 15 April 2017 di Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia. Tujuannya untuk memfasilitasi wibu dalam menyalurkan hobi mereka. Wibu merupakan sebutan untuk orang-orang yang menyukai hal berbau Jepang, salah satunya cosplayer. Dalam acara ini ada cover sing , cosplay, obake, fashion show, stand makanan khas Jepang dan lain-lain. Tak hanya pertunjukan bernuansa Jepang saja, namun ada pertunjukan dari Katumbiri yang merupakan tarian tradisional Indonesia turut meramaikan acara.

Ditengah acara bernuansa Jepang ini, ada pertunjukan baru dalam Japanzuki Show 12, yaitu flash mob. Ya, flash mob adalah tarian yang awalnya dilakukan oleh beberapa orang saja lalu beberapa orang lagi bergabung sehingga menciptakan tarian bersama-sama. Flash mob berasal dari Belanda namun sudah dipraktikan diberbagai negara, bahkan di Indonesia.

Mengapa Flash Mob?

Walaupun flash mob bukan berasal dari Jepang, namun flash mob ini dipilih untuk mengisi matsuri tahun ini. Menurut Veny Aprilia selaku panitia Japanzuki Show 12, “karena ingin menampilkan yang berbeda dari tahun ke tahunnya. Baru matsuri kali ini saja ada flash mob” ujarnya. Matsuri sendiri artinya festival atau perayaan di Jepang. Veny mengatakan bahwa panitia ingin memberikan persembahan untuk penonton, maka dipilihlah flash mob. Flash mob menjadi inovasi untuk memeriahkan Japanzuki Show 12 kali ini.

Kecerahan di siang hari tadi perlahan menghilang. Langit terlihat menggelap dan rintikan hujan pun mulai turun membasahi tempat berlangsungnya acara. Hujan mengguyur cukup deras tapi pertunjukan tetap berlangsung dan pengunjung masih menikmati acara dibawah payung mereka. Pertunjukan yang dinanti pun mulai, flash mob. Lagu diputar, beberapa orang mulai memasuki area flash mob, lalu rekan-rekan yang lain mulai mengikuti dan menari bersama. Meskipun gerimis hujan masih berjatuhan, namun gerakan energik dan semangat masih tergambar dari wajah para penari saat flash mob. Di penghujung tarian, penari menari mengelilingi Akihito si Ayam Api yang merupakan mascot dari Japanzuki Show 12.

Dibalik flash mob

Ardellia Cita Pratama selaku koordinator flash mob acara ini mengatakan bahwa latihan dilakukan kurang lebih tiga bulan yang lalu, yaitu awal Februari sudah mulai latihan. Saat ditanya mengenai konsep apa yang digunakan, ia menjawab jika konsep flash mob adalah mitologi. Selain itu, persiapan pun tak sedikit, dimulai dari membuat koreografi, memilah lagu, latihan, pengeditan, dan juga posisi saat menari harus disiapkan. Ardell menuturkan, penari yang terlibat kurang lebih 50 orang. Mengatur sekitar 50 orang tentu bukanlah hal yang mudah. Ia mengatakan hal yang paling sulit adalah mengatur mereka, seperti ada yang telat latihan dan berbagai hal yang lainnya. “Meskipun masih banyak kekurangan tapi untungnya pada semangat”, ucap Ardell.

“Harapan aku untuk matsuri tahun depan, pastinya lebih baik dan menjadikan kesalahan, kekurangan sebagai evaluasi untuk acara tahun depan” ujar Veny menutup pembicaraan malam itu.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.