Kota Lampu Dan Kota Lilin

Untuk setiap terang, terpancar gegap gempita. Seperti Kota Lampu yang menyambut kita dengan gebyar pekan raya.

Lampu-lampu menghiasi sudut-sudut dengan berbagai warna dan ukuran. LED, neon, bohlam, lampu sorot, dan segala cahaya menggugah jiwa untuk ikut bersuka. Ini adalah kota yang semarak dan gemerlapan.

Untuk setiap terang, terselip damai dalam temaram. Mari kita singgah sejenak di kota Lilin. Tepat di ujung jalan Kota Lampu.

Di sini, yang terasa hanya tenang dan tenteram. Hingar bingar hanya ada dalam hati, menjelma jadi kharisma sinar lilin di ujung kamar seorang anak yang sedang berselimut mimpi.

Di perbatasan dua kota ini, seorang pemuda menikmati syahdu dalam kecup kekasihnya. Tak lama, mereka berpisah sambil membawa cendera mata. Sang Pemuda mendekap sebuah rangkaian lampu pijar. Dari jauh, Ia memandang gadisnya yang melenggang menggenggam lilin harum lambang persembahan cinta darinya.

Untuk setiap terang, selalu ada titik cahaya mengisyaratkan bahaya. Sang Gadis yang sedang menikmati wangi Lilin harum tersengat murka Ayahanda yang tak merestui hubungannya. Percik api terhempas.

Meledak.

Warna-warni Kota Lampu berubah merah keemasan dan panas.

Lidah api menjilat-jilat.

Kota Lilin ikut terbakar.

Lalu tinggal gelap.