Pendekatan Rational Choice pada Metode Ilmu Politik melalui Analisa Kecendrungan Pemilih dalam Pilkada Aceh 2017

Aramadhan D Hatta
Nov 3 · 8 min read

Dalam ekonomi mikro, para ahli ekonomi mencoba untuk menganalisis pembuatan keputusan manusia melalui dasar ‘untung-rugi’. Diasumsikan bahwa orang-orang tergerak oleh uang, dan oleh kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan. Model ini telah berhasil membangun model formal akan prediksi dari perilaku manusia. Keberhasilan dari metode tersebut telah banyak membuat ilmuwan sosial di bidang yang lain untuk melirik metode ini. Mereka berpikir jika mereka menerapkan metode yang sama, mereka dapat menuai hasil yang sama. Pendekatan ini dinamakan dengan rational choice theory atau teori pilihan rational.

Jon Elster dalam bukunya “Rational Choice” (1986) mengatakan bahwa teori pilihan rational adalah sebuah teori normatif. “Menjelaskan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan sebaik mungkin, tidak menjelaskan apa tujuan dari tujuan tersebut”. Rational choice merupakan varian dari pendekatan behavioral. Berbeda dengan pendekatan behavioral yang bersumber dari sosiologi dan psikologi, rational choice berkembang dari logika rasionalitas ekonomi.[1]

Tujuan dari pendekatan teori pilihan rational adalah untuk menjelaskan fenomena sosial dengan mengansumsikan pertimbangan atau pilihan yang diambil oleh seorang aktor (Hechter dan Kanazawa). Pendekatan ini juga menjelaskan tindakan apa saja yang biasanya diambil oleh aktor. Ada dua mekanisme atau proses dalam menganalisa bagaimana teori pilihan rational bekerja. Pertama adalah pilihan oleh aktor, dan yang kedua adalah perubahan makro — mikro — makro.

Mekanisme pertama, teori pilihan rational mengansumsikan bahwa seorang aktor memilih pilihan yang dia percaya akan membawa keuntungan lebih bagi dirinya. Untuk memudahkan pemodelan matematika, preferensi pilihan biasanya digambarkan dengan angka yang disebut dengan utility (faedah) atau payoff (bayaran). Lima element utama dalam asumsi tersebut adalah kendala, alternatif, sosial efek, manfaat, dan kepercayaan. Kendala akan mempengaruhi pilihan aktor dengan dua cara. Pertama akan menghilangkan pilihan yang tidak mungkin contohnya seperti hal-hal tabu. Kedua kendala akan mempengaruhi untung-rugi dari sebuah pilihan seperti kenaikan harga cabe akan mempengaruhi pilihan seseorang dalam membeli ayam geprek.

Beberapa alternatif yang tersedia akan dipengaruhi oleh beberapa kendala. Aktor akan memilih salah satu alternatif dan sebuah efek sosial akan terjadi. Perhatikan bahwa efek yang terjadi bukanlah bersifat perseorangan melainkan bersifat sosial. Artinya bahwa hasil dari sebuah alternatif dipilih bukan hanya oleh sebuah aktor namun oleh banyak aktor. Tentu saja ada beberapa kasus dimana pilihan akan sebuah alternatif sendiri akan mempengaruhi sebuah efek misalnya dengan seorang aktor untuk membeli ayam geprek sebanyak lima porsi. Apapun alternatif yang ia pilih maka hanya akan mempengaruhi berapa ayam geprek yang akan dia beli. Pilihan si aktor tersebut dan pilihan aktor yang lain pun tidak akan mempengaruhi sebuah efek sosial bersama.

Aktor biasanya akan mengurutkan kemungkinan efek sosial berdasarkan kebermanfaatan akan dirinya. Jika ia memilih pilihan A daripada B, maka dia manfaatnya dalam A lebih besar dari B. Umpamakan sang aktor sempurna, memiliki segala informasi di dunia ini, dan tidak ada kendala atapun halangan dalam pilihannya, dia tentu akan memilih alternatif yang memiliki efek sosial terbaik baginya dan efek sosial yang akan membawa kebermanfaatan akan dirinya. Bagaimanapun informasi tidaklah sempurna dan lengkap. Pertama, aktor tidak dapat memprediksi dengan pasti masa depan. Kedua, ia tidak mengetahui bagaimana dia bisa berada dalam posisi sekarang. Posisinya saat ini adalah bagian dari efek sosial yang dihasilkan dari interaksi antara aktor yang terlibat termasuk dirinya sendiri. Seringkali sang aktor tidak tahu alternatif apa yang dipilih aktor lain dimasa lalu sehingga berkontribusi dalam ketidakpastian diatas. Ketiga, aktor juga tidak mengetahui manfaat dari aktor lain dan alternatif yang dipilih oleh mereka di masa depan.

Jadi sang aktor percaya bahwa hidup ini penuh dengan kendala, aktor lain dan seterusnya. Lalu ia memilih alternatif berdasarkan hal tersebut. Kepercayaan disini tidak bersifat permanen atau sementara, melainkan sang aktor memperbarui apa yang ia percaya dengan tambahan informasi tentang kehidupan.

Mekanisme kedua adalah transisi makro-mikro-makro. Penjelasan sosio-makro menjelaskan bahwa bagaimana terjadinya fenomena sosial Y dengan menunjukkan fenomena X yang sudah terjadi yang diduga menyebabkan fenomena Y. Coleman (1990) berpendapat bahwa penjelasan tersebut harus memenuhi tiga proses yang jelas: transisi makro ke mikro, proses mikro, dan transisi mikro ke makro. Transisi makro ke mikro adalah sebuah proses dimana fenomena sosial X yang sudah terjadi mempengaruhi kondisi sosial buat seorang aktor seperti kendala, kepercayaan, dan alternatif yang ada. Didalam proses mikro, aktor secara rasional memilih alternatif berdasarkan kendala yang mungkin terjadi. Pilihan dari sang aktor tersebut akan berakumulasi menghasilkan fenomena social Y melalui transisi mikro ke makro.

Mari kita ambil contoh evakuasi darurat di sebuah bioskop. Anggap saja terjadi sebuah kebakaran dan hanya ada satu pintu keluar. Kemungkinannya adalah terjadi kemacetan di pintu keluar. Dalam kasus ini, fenomena X yang sudah terjadi adalah api dan Y adalah kemacetan. Hubungan sederhana dari X dan Y dijelaskan melalui transisi makro-mikro-makro seperti berikut. Pertama, api menempatkan penonton baru dalam situasi baru dan menciptakan dua alternatif baru buat mereka: bergiliran mengantri di pintu keluar atau berdesakan di pintu keluar (transisi makro ke mikro). Kedua, tiap orang di bioskop memutuskan untuk memutuskan apakah mengantri atau berdesakan (proses mikro). Jika semua orang mengantri, mereka akan selamat. Bagaimanapun tiap orang memiliki dorongan untuk berdesakan maju tidak peduli tindakan apa yang aktor lain pilih. Jika semua memilih untuk mengantri, individu yang mendesak maju kedepan akan meningkatkan kemungkinannya untuk selamat. Jika semua orang berdesakan maju, aktor individu harus juga mendesak kedepan sehingga ia tidak tertinggal di belakang. Bagaimanapun, hal yang wajar ketika setiap orang memutuskan untuk keluar. Ketiga, tindakan untuk berdesakan maju ke arah pintu keluar menjadi penyebab kemacetan di pintu keluar (transisi mikro ke makro).[2]

Hal terpenting dari contoh diatas adalah setiap orang tidak berdesakan secara membabi buta. Tetapi, mereka secara rasional memilih untuk berdesak-desakan. Bagaimanapun, gabungan dari pilihan rasional inilah yang menyebabkan kemacetan di pintu keluar. Fenomena sosial Y tidak hanya terjadi pintu keluar sebuah bioskop, ia dapat muncul di dalam norma, struktur sosial, institusi sosial dan sebagainya. Teori pilihan rational kini banyak digunakan di cabang ilmu sosial lainnya.

Pendekatan rational choice dapat digunakan dalam menganalis kecenderungan pemilih dalam pemilihan umum atau Pilkada di Aceh. Tidak seperti di beberapa provinsi lain di Indonesia dimana suara mayoritasnya dipegang oleh partai tertentu, Aceh bukanlah daerah yang menjadi basis massa dari partai-partai tersebut. Masyarakat Aceh sepertinya lebih memilih partai dimana Presiden atau rezim yang berkuasa berasal. Hal ini terlihat dari hasil pemilihan legislatif di tahun 2009 dimana partai Demokrat menjadi partai pemenang, namun Demokrat kehilangan posisinya sebagai partai penguasa di tahun 2014 karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah menjadi presiden dalam dua periode dan tidak dapat mencalonkan diri lagi sebagai calon presiden walaupun Demokrat menguasai parlemen.

Berikut dibawah adalah peta persebaran partai yang menjadi pemenang di setiap provinsi termasuk di Aceh pada pemilihan legislatif di tahun 2009 dan tahun 2014:

Tahun 2014
Tahun 2014

Dari kedua pemilu legislatif tersebut, Demokrat memenangi Pemilu Legislatif tahun 2009 dan PDIP tahun 2014. Dalam konteks pemilihan Gubernur Aceh di tahun 2012, Partai Aceh yang menjadi pemenang Pilkada pada saat itu membangun koalisi[3] bersama dengan Partai Demokrat. Pada Pilkada serentak 2017 yang dilaksanakan beberapa waktu yang lalu, pemilihan Gubernur yang dilakukan di Aceh dimenangkan oleh Partai Nasional Aceh yang berkoalisi dengan PDI-P yang sekarang menjadi partai rezim beserta partai Demokrat dan Partai Kebangkitan Bangsa.

Melalui pendekatan rational choice maka dapat dijelaskan kenapa masyarakat Aceh akan cenderung untuk memilih partai dari rezim penguasa. Dengan harapan ketika Aceh menjadi wilayah yang mendukung rezim dalam proses elektoral maka bargaining position dari Aceh akan naik. Tidak seperti Papua yang kesulitan dalam menjalankan otonomi khususnya, Aceh berhasil melobby pemerintah pusat untuk menggunakan otonomi khusus yang sudah diberikan secara seluas-luasnya seperti dapat mengelola sektor migas mereka sendiri melalui Badan Pengelola Minyak dan Gas Bumi Aceh (BPMA) yang menggantikan tugas Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) di Aceh.[4]

Seperti pendeketan yang lainnya, teori pilihan rasional di kritik dan juga memiliki kelemahan. Robert J. Holton (2008) mengkritik tiga hal. Pertama, kenapa harus asumsi bahwa tindakan adalah sebuah struktur bagi norma, menghalangi teori bagaimana mereka terbentuk? Apakah lebih dari praduga akan kepentingan rasional menghalangi kemunculan teori tersebut? Rasionalitas adalah tipe yang ideal dalam aksi sosial, tetapi tidak menghalangi baik analisis penyimpangan dari rasionalitas maupun analisis historis tentang pentingnya rationalitas. Metode yang sama memungkinkan dalam analisis norma.

Kedua, dikatakan penalaran dari pernyataan normatif akan langsung melebih-lebihkan konsepsi dari tubuh manusia? Salah satu kemungkinannya adalah hal normatif dapat dihubungkan dengan konsepsi yang matang akan tubuh manusia melalui sesuatu yang selalu muncul seperti rasa untuk mencari kebebasan dan kedigdayaan manusia. Sosialisasi dalam kemungkinan ini, tidak akan mengubah seseorang untuk menjadi boneka dengankontrol normatif yang kuat. Ini lebih kepada aktor yang bersosialisasi untuk menjadi individual tertentu.

Ketiga adalah apakah kasus dari hal-hal norma muncul hanya karena hasil dari mengejar kepentingan dari rasionalitas? Bisa saja hal ini terbalik , seperti rationalitas rasionalitas didasari atas norma, daripada rationalitas yang sudah diperhitungkan sebagai sebuah prinsip secara historis muncul daripada sebuah varian dari apa yang dilakukan oleh manusia?

Amartya Sen (1977) menambahkan bahwa ini adalah sebuah permasalah estimologis tentang mengejar kepentingan dari rationalitas yang masih belum selesai. Apakah diperlukan untuk mendefinisikan semua kebiasaan sosial? Jika iya, maka ini tidak akan menjelaskan tentang variasi penting dibalik alasan tindakan orang-orang dan akan sedikit menjelaskan normatif atau komponen ekspresif tindakan tersebut. Dalam sebuah situasi yang sudah diatur, dapat dikatakan bahwa kita sama secara rational, emosi, bersemangat, bijak, dan apapun itu dimana semuanya di identifikasikan sebagai sesuatu yang diperhitungkan yang sepertinya bakal cocok dalam sederet pertanyaan. Dengan demikian pentingnya rationalitas telah menjadi titik terendah dari faktor umum dalam logika dari aksi sosial, mustahil untuk dipertanyakan kebenarannya, hambar, dan hasilnya tidak menarik.

Secara sosiologis juga tidak masuk akal. Terutama karena masyarakat membutuhkan kehadiran tingkatan mikro dan makro dari organisasi sosial secara terus-menerus. Kepentingan di tingkat mikro oleh aktor rasional di awal harus termasuk dibalamnya bahasa manusia, pola dari arti, dan norma dalam bersosialisasi sehingga dapat membuat komunikasi dan interaksi sosial dapat terjadi.

Berawal dari sebuah pendeketan di ilmu Ekonomi, pendekatan ini telah menjelaskan banyak fenomena di bidang ilmu Sosio-Humaniora. Para ilmuwan Politik dan sudah berusaha untuk membangun sebuah teori dengan asumsi bahwa di setiap tindakan pada dasarnya tiap aktor akan memperhitungkan biaya dan keuntungan dari tindakan tersebut sebelum aktor tersebut memutuskannya.

Walapun memiliki kekurangan dan tidak menjelaskan kejadian sosial secara keseluruhan, penulis memilih pendekatan ini karena sebagai homo economicus[5] manusia akan mempertimbangkan segala tindakannya dengan pertimbangan sederhana, untung dan rugi. Walaupun Sen mengkritik bahwa selain pertimbangan rational masih ada pertimbangan moral (simpati, komitmen, dll). Menurut penulis, dengan memasukkan pertimbangan moral pun sudah merupakan tindakan rasional dalam bentuk batiniah.

Catatan Akhir:

[1] Deskripsi pembuka dari materi rational choice di eLisa UGM.
[2] Coleman lebih rinci membahas hal tersebut dalam bukunya Foundations of Social Theory Bab 9.
[3] Koalisi tersebut terdiri dari Partai Aceh, Partai SIRA , Partai Demokrat dan sejumlah partai lainya.
[4] http://industri.bisnis.com/read/20160411/44/536644/kelola-migas-sendiri-aceh-miliki-kepala-badan-pengelola-migas diakses pada 30 Januari pukul 20:08.
[5] Istilah homo economicus pertama kali oleh John Stuart Mill dalam bukunya ‘On the Definition of Political Economy, and on the Method of Investigation Proper to It’ yang diterbitkan pada tahun 1836.

Daftar Pustaka:

Ariyanti, Duwi Setiya. “Kelola Migas Sendiri, Aceh Miliki Kepala Badan Pengelola Migas.” Bisnis Indonesia, 11 April, 2016. Di akses 30 Maret 2017. http://industri.bisnis.com/read/20160411/44/536644/kelola-migas-sendiri-aceh-miliki-kepala-badan-pengelola-migas.

Coleman, James Samuel. Foundations of Social Theory. Cambridge, Massachusetts, and London: The Belknap Press of Harvard University press, 1990.

Elster, Jon. “Rational Choice.” In Rational Choice, by Jon Elster, 1. New York: New York Uinversity Press, 1986.

Hechter dan Kanazawa. “SOCIOLOGICAL RATIONAL.” Annual Reviews, 1997.

Holton, Robert J. “Rational choice theory in sociology.” Critical Review: A Journal of Politics and Society, 2008: 519–537.

Sato, Yoshimichi. “Rationa Choice Theory.” Sociopedia.isa, 2013.

Scott, John. “Rational Choice Theory .” Sage Publications, 2000.

Sen, Amartya. “Rational Fools: A Critique of the Behavioral Foundations of Economic Theory.” JSTOR, 1977: 317–314.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade