ALIANSI TOLAK PELAKU KEKERASAN SEKSUAL: SITOK SRENGENGE

Selama tiga tahun berturut-turut kekerasan seksual adalah kasus tertinggi dibanding kekerasan yang lain di ranah komunitas. Kasus kekerasan seksual di ranah komunitas pada tahun 2017 mencapai angka 2.290 kasus. Penanganan kasus kekerasan seksual terkendala lemahnya kekuatan pembuktian karena ketiadaan saksi dan alat bukti yang mendukung karena rata-rata korban melaporkan kasusnya dalam jeda waktu yang cukup lama dengan kejadian perkara, adanya ketimpangan relasi kuasa antara korban dan pelaku, pelaku yang memiliki posisi politik, sosial dan ekonomi yang tinggi lalu menggunakan posisi tersebut untuk mempengaruhi proses hukum yang berjalan. Korban pun semakin tidak berdaya untuk menuntut sang pelaku atas kejahatan seksual yang telah dilakukan.

Salah satu kasus kekerasan seksual high-profile yang sempat mencuat ke ranah publik adalah kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh Sitok Srengenge terhadap mahasiswi FIB UI berinisial RW. Kasus kekerasan seksual ini merupakan kasus yang sangat penting karena korban berakhir hamil. Sayangnya, proses pengadilan kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh Sitok terhadap RW menjalani proses persidangan yang cukup lama dan alot. Meskipun proses persidangan terus berlanjut, Sitok masih bisa lenggang bebas mengadakan pameran-pameran seni dan sastra, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Lambatnya pengusutan hukum kasus kekerasan seksual yang dialami oleh RW mendorong kami untuk melakukan aksi penolakan pameran tunggal Sitok Srengenge di Langit Art Space, Kasihan, Bantul. Awalnya pameran juga akan digelar di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Bantul, namun setelah banyak penolakan muncul, pameran tersebut batal diselenggarakan di SMSR Bantul. Aksi ini kami lakukan sebagai aksi solidaritas bagi RW dan juga korban-korban kekerasan seksual lainnya yang masih belum menemukan keadilan yang seharusnya mereka dapatkan.

Pukul 18.00 — massa aksi mulai berkumpul tidak jauh dari lokasi pameran, beberapa petugas keamanan mulai mempertanyakan kehadiran kami; siapa kami, dimana kami kuliah, untuk keperluan apa kami berkumpul di tempat tersebut, hingga akhirnya mereka melarang kami memarkir kendaraan. Di sekitar galeri, banyak petugas keamanan berpakaian sipil, hansip dan beberapa polisi yang lalu lalang dan berjaga. Kursi yang berjejer rapi di halaman depan galeri belum banyak terisi, namun kerumunan pengunjung sudah mulai terlihat.

Pukul 19.30 — sesuai dengan jadwal yang tertera di poster, pembukaan seharusnya sudah berlangsung namun belum acara belum dimulai. Dari arah timur galeri, sekelompok bregada dengan kostum pasukan Keraton yang menggunakan atribut panji, tombak, snare drum dan alat musik lain, beriringan menuju galeri. Pertunjukkan tersebut mengundang kerumunan warga untuk ikut menyaksikan, galeri mulai dipenuhi pengunjung; bregada yang kemudian membentuk barikade di depan galeri menjadi penanda, acara segera dimulai.

Tamara Geraldine yang berlaku sebagai MC mengawali pembukaan pameran, dilanjutkan dengan pertunjukan musik oleh Dian HP & friends, mereka membawakan musikalisasi puisi karya Sitok. Syakieb Sungkar, kolektor seni, maju ke panggung sebagai wakil dari Goenawan Mohamad untuk memberikan sambutan. Syakieb Sungkar membuka sambutannya dengan permintaan maaf dari Goenawan Mohamad yang seharusnya saat itu memberikan sambutan tidak bisa hadir karena terjebak macet dan tertinggal pesawat. Dalam pidatonya, Goenawan Mohamad menyebut, aktivis-aktivis yang memperjuangan kasus yang menyerang Sitok ini seperti orang yang tidak mau mendengar kebenaran. Seusai sambutan selesai dibacakan, Sitok bersiap maju ke panggung untuk memberikan sambutan. Microfon diberikan kepada Sitok; di saat yang sama, 5 orang pengunjung yang mengikuti acara sedari awal, berdiri, membentangkan spanduk berwarna ungu bertuliskan “Tolak Buayawan Sitok Srengenge”. Sambil memegang spanduk, anggota aksi menaiki kursi dan salah satunya berteriak, “Sitok, kau memperkosa perempuan berumur 22 tahun seperti saya! Kau harus bertanggungjawab! Sitok pemerkosa!”.

Aksi membentangkan spanduk di area galeri hanya berlangsung beberapa menit sampai akhirnya preman-preman mengusir paksa massa aksi untuk keluar dari galeri. Massa yang membentangkan spanduk langsung bergabung dengan massa lain yang sudah menunggu di luar galeri. Massa aksi kembali membentangkan spanduk dan terus meneriakkan “Sitok pemerkosa! Sitok pemerkosa!” “Adili Sitok! Adili Sitok”. Awalnya spanduk akan diambil paksa oleh beberapa polisi dengan dalih akan dijadikan barang bukti namun massa aksi tetap mempertahankan spanduk dibentang. Ujaran-ujaran melecehkan yang muncul dari pihak-pihak yang merepresi seperti “siapa pemerkosa? HAH! Saya perkosa kamu di sini!”. Ketika hal itu terjadi, aparat kepolisian yang berada di dekat area kejadian alih-alih melindungi sang perempuan yang baru saja diancam malah balik bertanya, “memang ini kasus apa? Kalau ada kejadian ya dilaporkan! Memang kamu tahu kasusnya seperti apa?”.

Aparat lantas mengimbau massa aksi untuk membubarkan diri karena aksi dilakukan melewati jam malam dan tanpa pemberitahuan ke pihak kepolisian sebelumnya. Tindakan represi juga dilakukan oleh para preman. Setelah proses negosiasi dengan aparat, massa aksipun membacakan tuntutan aksi.

Tuntutan yang disampaikan adalah:

  1. Adili dan penjarakan Sitok Srengenge sesuai aturan yang berlaku! Pihak kepolisian harus mempercepat proses pengadilan Sitok maupun pengadilan pelaku-pelaku pelecehan dan kekerasan seksual lainnya
  2. Berikan keadilan dan perlindungan bagi seluruh perempuan korban kekerasan seksual
  3. Percepat pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual menjadi undang-undang
  4. Menghimbau berbagai pihak, utamanya galeri dan institusi kesenian untuk berlaku adil dan memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan dengan tidak memberikan ruang bagi pelaku kekerasan seksual sebagai bentuk penghormatan yang memberikan rasa keadilan bagi korban

Kami mengecam penyelenggaraan pameran lukisan ini, atas alasan keadilan bagi korban yang sampai saat ini hidup di dalam trauma dan penderitaan! Kami juga mengecam pembelaan yang dilakukan atas nama kebebasan seni oleh komunitas seni atau galeri, juga para penulis yang mendukungnya, seolah-olah seni — dalam hal ini seni rupa, hanya berurusan dengan ekspresi semata dan memamerkan yang estetis saja. Sejatinya seni memiliki fungsi-fungsi untuk mengabarkan dan memperjuangkan keadilan.

Kami dengan tegas menolak segala bentuk upaya penyelenggaraan karya-karya Sitok di manapun dan menuntut Sitok untuk diadili atas kejahatan yang ia lakukan. Masih bebasnya Sitok menunjukkan bahwa hukum yang menyangkut perempuan di Indonesia masih sangat lemah. Hukum di Indonesia tidak memihak korban kekerasan seksual, namun memihak pelaku. Kejahatan terhadap perempuan masih dianggap sebagai hal yang sepele dan bukan masalah yang besar. Kalau penjahat kemanusiaan seperti Sitok masih bisa bebas dan memajang karya-karyanya di beberapa kota seolah dirinya tidak berdosa, bayangkan berapa banyak penjahat kemanusiaan lainnya yang masih bebas berkeliaran?

Pembiaran pelaku yang bisa dengan bebas merayakan kemerdekaan berkaryanya, sementara kasus kejahatan yang dia lakukan masih digantung semena-mena seperti ini harus menjadi pembiaran yang kali kita saksikan.

Solidaritas kami adalah solidaritas kepada korban.

Kami menolak,

dan kami akan terus melawan pembiaran-pembiaran yang menciderai rasa kemanusiaan dan keadilan!

Yogyakarta, 18 Mei 2017

Aliansi Tolak Pelaku Kekerasan: Sitok Srengenge

  1. Cakrawala
  2. FNKSDA
  3. Manusia Pinggiran Rel
  4. Literasi.Co
  5. HMI Yogyakarta
  6. Humanius
  7. Jaganyala
  8. Jaringan Perempuan Yogyakarta
  9. Jogja Darurat Agraria
  10. KOHATI Yogyakarta
  11. Libertas
  12. Merah Muda Memudar
  13. Neo GLI
  14. Perempuan Mahardika
  15. PMII Ushuludin
  16. Stanggam
  17. Teater Lokal
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.