2. naked love

Tubuh telanjangmu seharusnya hanya dilihat oleh mereka yang mencintai jiwa telanjangmu;

kau pernah membaca kutipan semacam itu, dan menyimpannya baik-baik dalam laci memori bergambar hati — dulu, saat balon-balon impian masih memenuhi kepala naifmu akan angan-angan soal rasa; tentang cinta.

“Bagaimana rasanya, Sayang?”

Suaranya berat, hangat, menggoda, tapi juga tak sabar. Kebanggaan melihatmu menyerah di bawah kendalinya menodai tiap kata, membakar tiap silabel.

Kau mengerang dan merintih dan perlahan dunia meledak menjadi ribuan matahari dalam satu sentakan, kunang-kunang menari di sudut matamu. Ragamu terjebak dalam insting, pikiranmu kosong, melayang jauh di antara bintang-bintang —

— tak lagi sempat mengira-ngira, apakah ia juga mencintai jiwamu yang telanjang.

Ini adalah gairah masa muda yang bisa jadi kausesali esok pagi, Sayang.