DAMPAK TRANSFORMASI TEKNOLOGI INFORMASI

Dengan perhitungan kalender masehi peradaban manusia sekarang ini memasuki era milenium ke-3. Pada era ini penggunaan teknologi informasi kian merambah ke berbagai sektor kehidupan sehari-hari masyarakat diberbagai belahan dunia tak terkecuali di Tanah Ibu Pertiwi Republik Indonesia (RI). Menurut Oxford English Dictionary (OED) teknologi informasi adalah hardware dan software dan bisa termasuk didalamnya jaringan dan telekomunikasi yang biasa ada dalam konteks bisnis atau usaha. Dari pengertian tersebut terdapat poin-poin pembentuk teknologi informasi, yaitu hardware, software, jaringan telekomunikasi, dan bisnis atau usaha.

Tiga poin utama diatas dimanfaatkan untuk menjalankan bisnis atau usaha setiap individu dengan harapan dapat mempercepat pemrosesan data menjadi informasi yang dibutuhkan.

Bisnis atau usaha tidak melulu soal perusahaan komersil atau para pedagang yang menjajakan dagangannya, melainkan bisa juga merupakan tujuan sekomlompok orang untuk mencapai suatu tujuan seperti pemerintahan dan masyarakat dari berbagai macam latar belakang.

Teknologi informasi saat ini telah memasuki berbagai aspek kehidupan mulai dari kehidupan sosial, ekonomi, politik sampai pemerintahan. Pada setiap aspek tersebut telah memasuki era baru dalam perkembangannya, yaitu dengan memanfaatkan teknologi informasi.

Berbagai manfaat yang ditawarkan teknologi informasi tentu saja menjadi alasan masyarakat menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Pemanfaatan teknologi informasi dilakukan secara berangsur-angsur namun meskipun begitu perbedaan yang diakibatkan begitu mencolok pada cara hidup masyarakat sebelum dan sesudah menggunakan teknologi informasi.

Teknologi Informasi dan Kehidupan Sosial dan Politik

Sejak telepon pintar atau smartphone mulai digunakan oleh berbagai kalangan masyarakat dan di dukung oleh munculnya media sosial, berbagai macam informasi dapat menyebar luas dengan cepat. Hal tersebut membuat pola interaksi masyarakat dilingkungan sosial khususnya di perkotaan menjadi relatif berubah. Masyarakat kini dengan mudah mengemukakan pendapat probadinya di hadapan publik melalui forum-forum yang ada di internet. Sebagai contoh penyelenggaraan pemilihan umum presiden dan wakil presiden RI (pemilu) 2014 dua tahun lalu berhasil menarik partisipasi publik yang relatif cukup tinggi. Adanya teknologi informasi membuat pola kampanye menjadi lebih kreatif dengan menggunakan berbagai media yang tersedia di internet, dapat menumbuhkan semangat untuk menjadi relawan dan lebih mengkritisi pemerintahan untuk periode selanjutnya. Semangat relawan yang nampak dari pemuda Indonesia bernama Ainun Najib dkk yang pada saat itu membuat website kawalpemilu.org sebuah program untuk mengawal perhitungan suara disetiap TPS sehingga jumlah suara secara dapat diketahui dengan cepat dan terbuka untuk umum. Namun, meskipun banyak hal positif yang didapatkan dari penggunaan teknologi informasi pada pola kamapanye tersebut tetap saja terdapat penyalahgunaan dengan adanya oknum-oknum yang melakukan kampanye tidak sehat sehingga menimbulkan perselisihan diantara masyarakat yang berbeda pilihan.

Selain dikalangan masyarakat umum, teknologi informasi juga dimanfaatkan oleh para politisi dan pejabat pemerintahan di banyak negara untuk mengambil simpati publik tidak terkecuali di Indonesi. Banyak tokoh budaya, pengamat, ahli hukum tata negara dan pejabat negara tidak segan untuk berdiskusi secara langsung dengan netizen di media sosial untuk membahas suatu topik. Seperti Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Walikota Bandung Ridwan Kamil yang diberikan julukan Gubernur Twitter dan Walikota Twitter, karena menggunakan salah satu implementasi teknologi informasi dalam melaksanakan tugasnya, seperti menampung keluhan masyarakat dalam hal ini memotong jalur birokrasi agar permasalahan dapat diatasi secara cepat dan tepat. Namun, dengan berbagai macam kemudahan tersebut bukan berarti tanpa resiko, semua orang yang terlibat dalam diskusi di media-media sosial harus berpikir logis dan beradab agar tidak menimbulkan perselisihan yang berkelanjutan seperti yang baru-baru ini terjadi yaitu penyataan Menteri Riset dan Teknologi yang dinilai gegabah dalam memberikan pernyataan soal LGBT dan perseteruan antar Kementerian Kesehatan dan Kementerian Riset dan Teknologi perihal penutupan Klinik Riset Kanker milik dr. Warsito.

Teknologi Informasi di Kehidupan Ekonomi dan Pemerintahan

Selain pada aspek sosial dan politk, aspek ekonomi dan pemerintahan juga relatif mengalami perubahan setelah menggunakan teknologi informasi. Dengan pemanfaatan teknologi informasi cara masyarakat melakukan aktivitas ekonomi menjadi kian kreatif. Sebagai contoh saat ini menjamurnya startup yang menawarkan solusi-solusi kreatif untuk permasalahan yang ada di Indonesia seperti banyaknya ­e-commerce yang menjual berbagai macam produk sehingga masyarakat yang jauh dari kota besar dapat membeli produk yang sulit dicari dikotanya dengan mudah tanpa harus jauh-jauh mencari. Selain itu adanya Go-Jek yang dapat membuka peluang usaha untuk tukang ojek tradisional untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam melakukan pekerjaannya. Masih ada Grab-Taxi yang menyediakan kemudahan pemesanan taxi, pasarlaut.com yang menyediakan berbagai macam komoditas laut untuk diperjual-belikan dan masih banyak lainnya.

Pesatnya pemanfaatan teknologi informasi di bidang ekonomi membuat pemerintah juga tidak boleh lengah dalam membuat regulasi untuk mengatur pelaku-pelaku ekonomi dalam melaksanakan kegiatannya. Seperti yang terjadi pada Go-Jek beberapa waktu lalu, pemerintah seolah tidak menyiapkan regulasi yang tepat untuk perusahaan yang sedang naik daun tersebut.

Selain membuat regulasi terkait pemanfaatan teknologi informasi bagi pelaku ekonomi, pemerintah juga melakukan berbagai macam transformasi dengan memanfaatkan teknologi informasi seperti pembuatan KTP elektronik meskipun masih banyak permasalahan yang harus diselesaikan, transparansi keuangan negara, pembuatan passport online, dan yang baru-baru ini dirilis adalah e-billing oleh Diroktorat Jenderal Pajak Kementertian Keuangan agar memudahkan wajib pajak dalam melaksanakan kewajibannya terhadap negara.

Banyak sekali perubahan di berbagai aspek kehidupan yang diakibatkan oleh transformasi teknologi informasi. Pemanfaatan teknologi informasi di kehidupan sehari-hari bagaikan pisau bermata dua, di satu sisi menawarkan banyak manfaat yang positif di sisi lainnya dapat menyebabkan hal-hal yang negatif. Namun, dampak positif atau negatif itu tergantung pada pelakunya bagaimana memperlakukan teknologi informasi dalam kehidupannya. Dalam kehidupan sosial dan politik, masyarakat tetap harus mengikuti perkembangan informasi yang ada agar menjadi manusia yang aktual. Begitupun dalam kehidupan ekonomi dan pemerintahan, meskipun teknologi yang diimplementasikan semakin canggih sebagai masyarakat harus dapat mengimbanginya agar dapat bersaing dengan sehat dan membuat perabadan manusia semakin baik.