Berani Membatasi Haji

Satu demi satu gelombang kedatangan jamaah haji Indonesia tiba di tanah air. Kita patut bersyukur karena pada musim haji kali ini tidak banyak kejadian yang tidak kita harapkan. Masalah memang masih tetap ada. Misalnya keluhan tentang kondisi pemondokan dan pelayanan kesehatan. Namun, secara umum pelaksanaan ibadah haji tahun ini berjalan lancar.

Kondisi itu seharusnya menjadi modal bagi pemerintah untuk meningkatkan manajemen pengelolaan haji pada musim-musim mendatang. Sebagai ritual tahunan yang melibatkan orang dalam jumlah besar, manajemen haji harus terus di-update. Masalah bisa datang kapan saja. Hal itu yang harus diantisipasi.

Salah satu PR besar pemerintah adalah memangkas daftar tunggu jamaah untuk menunaikan ibadah haji.

Di beberapa daerah, antrean begitu panjang. Alhasil, masa tunggu untuk bisa ke Tanah Suci mencapai puluhan tahun. Pangkal permasalahannya adalah tingginya peminat haji yang tidak sebanding dengan kuota yang diberikan pemerintah Arab Saudi. Apalagi dengan kebijakan pengurangan kuota seiring dengan renovasi Masjidilharam.

Beragam cara dikaji untuk menyelesaikan atau setidaknya meminimalisasi ekses dari masalah tersebut. Dari bermacam formula, rencana membatasi jamaah untuk berhaji lebih dari satu kali dirasa paling relevan. Sudah bukan rahasia lagi bahwa di antara ratusan ribu jamaah haji Indonesia, banyak yang sejatinya pernah melakukan rukun Islam kelima tersebut. Artinya, mereka bisa jadi sudah berhaji dua, tiga, empat, atau bahkan lima kali.

Memang tidak ada larangan untuk berhaji lebih dari satu kali. Namun, pemerintah harus turun tangan. Masih banyak umat yang ingin naik haji. Strategi menaikkan ongkos naik haji (ONH) tidak lagi relevan. Berapa pun ONH yang ditetapkan, peminat haji terus melambung.

Nah, kebijakan membatasi atau bahkan melarang jamaah untuk berhaji lebih dari satu kali, rasanya, bakal efektif untuk memangkas masa antrean.

Seorang jamaah Haji asal Jambi dipapah petugas kesehatan saat akan menaiki pesawat menuju embarkasi Batam di bandara Sulthan Thaha Saifuddin, Jambi.
Sulit dibayangkan bagaimana seorang yang berusia 60 tahun, misalnya, harus menunggu sampai 17 tahun untuk bisa menunaikan ibadah haji.

Pemerintah memang selalu memprioritaskan jamaah lansia untuk mengisi kuota haji yang lowong. Tapi, jumlahnya tidak banyak.

Pemerintah harus berani. Kalaupun tidak dilarang, jamaah yang berniat haji lagi bisa dibatasi dengan waktu. Misalnya, baru bisa berhaji lagi kalau sudah lima atau sepuluh tahun. Dalam jangka panjang, cara itu efektif untuk mengurangi masa antrean haji yang mengular. (*)

____

*) Tulisan di atas diambil dari rubrik “Jati Diri” yang terbit setiap hari di Jawa Pos. Anda juga bisa membaca opini-opini para praktisi, pengamat, dan penulis lain di http://www.jawapos.com/baca/opini

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.