Halte dan Pohon Bringin Tua.

Pada suatu ketika yg telah lelah. Disuatu sudut kota terdapat pohon Bringin yg sudah tua, berdiri rentan disamping halte berkursi tujuh. daun-daun mulai jatuh karna usia yg telah rapuh. Pohon bringin tua diantara tumbang atau menyerah pada rasa yg mengambang. Tapi, ibu bumi memberinya mimpi, tentang suatu hingar dan riuh bahagia dipagi jika diatetap tegak berdiri. Akhirnya pohon bringin menggerakkan daunnya pada dini hari, merampal mantra agar teduh kembali. Sayangnya, bukan hingar yg dia dapat, namun cerca, karena getah dari dahan yg patah, mengotori kerah para penunggu halte yg tak semua ramah. Mereka yg antagonis memang tidak pernah berfirasat manis.

“Sudahlah pak tua, berhenti berusaha lebih teduh lagi, seteduh apapun dahan dan daunmu. Kau tetap Bringin tua. Rapuh, daunmu mudah runtuh, dan getahmu sering mengotori atapku”. Ucap sihalte pada pohon Bringin yg tua itu.

“Bukankah dulu kau sering menangis, menggrutu karna kursimu belum tertutup atap yg baru2 ini terpasang. Dulu juga aku yg membantu meneduhkanmu dan membuat kau senang karna. kau merasa salah satu halte paling romantis diseluruh penjuru kota ini”. Sahut Bringin Tua, sambil menjatuhkan beberapa ranting kecil ke atap halte dengan maksud sedikit bercanda.

“Sudahlah, biar kau tumbang dan disitu, dan diganti pohon oak saja, orang-orang bergunjing tentang kekuatannya. Ini lebih tentang membuat penunggu bus nyaman, bukan tetang romantis yg hanya kita berdua yg merasakannya”. Pohon Bringin tua tertegun, dalam hatinya bingung. Karna tumbang tak pernah ada sedikitpun dalam benaknya, tapi ucapan halte barusan adalah akhir bagi ketegarannya.

***

Sekejap angin berhembus wusshhh membuat cahaya lampu kota didepannya seperti bercertia tentang kesendiriannya yang beberapa bulan terakhir ini mulai terisi. “Kita bangun halte baru disini” ucap seseorang bertopi kuning proyek, dan beberapa hari kemudian jadilah halte berkursi tujuh dan berwana orange disampingnya. Kemudian senja perlahan pergi, dengan cat yg belum mengering halte muda itu berbatuk sambil sekali ketakutan karna malam semakin dini. “Kau bisa bicara juga?, sapa namamu”.

“Sedira, wahai bringin tua, aku ketakutan ini tempat baru”.

“Dikehidupan yg lalu kau adalah apa?. Kenapa kau bisa bicara?”.

“Dikehidupan lalu aku adalah pemilik toko kaset, kemudian sesuatu yg buruk terjadi. Tapi, aku masih punya satu hutang pada Tuhan yg belum terbayar. Itu dia kenapa aku sekarang menjadi sebuah halte dan harus membuat semua orang nyaman untuk membayar hutangku”. Percakapan malam itu berlanjut dan terus hingga sihalte ketiduran.

“Semoga besok pagi catmu mengering dan banyak penunggu bus duduk dikursi orangemu itu”.

***

Begitu angin membawa kenangan percakapan dan Do’a pertama bringin tua dengan halte. Dalam renungan yg tak menyudah, mendung meneyelimuti purnama malam itu, sebentar lagi penghujan akan datang, bringin mulai sadar jika terus memaksa berdiri mungkin bukan ranting atau daun lagi yg akan jatuh tapi separuh tubuhnya yg akan tumbang dan itu bisa sangat berbahaya bagi penunggu bus dan sihalte. Akhirnya dia berhenti pada sebuah keputusan yg bulat dan satu permintaan terakhir besok senja pada halte. Hari berjalan begitu lambat bagi bringin rabu itu, dia terus menggerakkan dahan-dahannya, membuat jalan disekitarnya dipenuhi reruntuhan daun kecilnya. Akhirnya senja dan bus terakhir sore itu datang. Orang2 mulai masuk ke dalam bus, hingga hanya tersisa mereka berdua. “Hey?, boleh aku pamit”. Ucap bringin tua

“Pergilah, aku sudah sangat bosan dengan bau getahmu itu”.

“Kalo begitu jawab pertanyaan terakhirku”. Seketika suasana hening adzan maghrib mulai terdengar lewati toa masjid, orang2 berbaju rapi melewati mereka berdua untuk beribadah dimasjid tak jauh dari lokasi mereka berdua. Cukup lama bringin bertanya dan tak ada tanggapan. “Hey” panggil bringin kembali. Halte tetap enggan menjawab dan tetap begitu hingga hujan malam itu turun. Itu hujan pertama tahun ini. Deras sekali hujan malam itu dan air dengan keras menjatuhi atap halte yang terbuat dari besi hingga menimbulkan bunyi yang sedikit berisik. Briningin tidak bisa memaksa utuk terus bertanya dalam gemuruh hujan yang semikin menjadi-jadi, dalam kekecewaan pohon bringin tua mengucapkan beberapa sajak.

“Akhirnya kita tidak bisa bertemu diantara pijar-pijar lampu itu, atau

Aku tidak bisa membelai rambutmu dijalan ujung kota ini”.

Bringin membaca sajak itu terus menurus dan sesekali merampal Do’a terakhir untuk segera menumbangkan semua daunnya tanpa menumbuhkan kembali. Pertanyaan dan permintaan terakhir tidak pernah sampai pada tuannya. Pagi datang halte terbangun oleh suara gaduh disekitarnya, yang semua berbicara tentang gugurnya semua daun pohon bringin. “Wah pohon bringin itu sudah mati sepertinya, tidak ada satupun daun tersisa di dahannya”. Satu persatu penunggu bus datang, bergantian menunggu bus. Hingga sore datang, halte masih menatap angkuh tanpa menoleh sedikipun. Baginya hidup akan lebih baik jika tanpa perdebatan tentang teduh dan getah. Ketika malam datang dan jalan mulai sepi, bebrapa orang datang dengan gergaji mesin, mulai memotong bagian ranting dan dahan pohon bringin tua. Sesekali halte terbangun karena suara mesin gergaji dari para pekerja, hingga penunggu bus pertama datang dan halte terjaga sepunuhnya.

Saya Abdul Jawat (jawat) penulis cerpen ini sangat berharap kritik dan saran dari pembaca sekalian, ini karya pertama saya. Saya sadar banyak kekurangan diberbagai bagian. Sekiranya teman-teman sekalian berkerkenan bisa menghubungi saya disini.

Email; Jawatjawat13@gamail.com

Instagram: Jawat13

Facebook: Abdul Jawat