GRAVIS

Anak-anak berhati malaikat. Mereka terlalu cepat pergi ke surga. Berkunjung di panti asuhan, memberi makan anak-anak yang kesepian, melihat senyuman pegawai kantoran setelah membantunya mendorong mobil mogok, berbagi nasi bungkus bersama anak jalanan. Setelah melakukan kegiatan itu, hati terasa sejuk dan tekanan darah menurun. Tubuh terasa ringan. Jika memejamkan mata, rasanya seperti baring di 
 atas tumpukan awan.

Mendoakan orangtua saat beribadah, mendoakan kesehatan guru dan teman-teman kelas. Mengelus kepala anak kucing, berendam di permandian air panas, menghirup udara segar pegunungan di tengah kebun teh, membuat istana pasir di tepi laut biru. Semua itu adalah kegiatan yang memberi kedamaian hati. Tapi, semua kegiatan itu bukan jaminan pembentuk kebaikan hati.

Ada banyak hal yang membuat manusia merasa hidupnya tidak adil. Anak-anak yang terlahir cacat karena ibunya perokok dan suka menikmati minuman keras saat hamil. Ibu yang anaknya dibunuh karena terlalu aktif membela hak asasi manusia, keluarga yang jatuh miskin karena ayahnya menghamburkan kekayaan di pesta kampanye politik.

Seorang ayah yang menangisi anak perempuannya diperkosa karena sang ayah juga pernah melakukan hal demikian di masa mudanya. Hukuman yang mutlak, hanya waktu datangnya tak menentu. Aku tak mungkin mengeluh jika sudah tahu penyebab dari penyakitku ini, miastenia gravis.

Penyakit ini membuatku dikucilkan banyak teman di kelas. Hanya sahabat yang membuatku bisa bertahan. Namanya Windi Fianika. Aku bisa sedikit mengerti penderitaan para pengidap kanker. Rasanya seperti ada duri yang menancap dalam daging. Saat kita sakit, semua makanan lezat terasa pahit. Demikian pula penyakit yang aku derita ini, membut hari-hari sekolah terasa pahit.

Saat ini, aku memperhatikan sahabatku, namanya Windi. Gadis yang sangat cerdas dan dibanggakan guru serta orangtua. Windi begitu serius. Ia menulis sesuatu di balik sampul sebuah novel. Tapi, kenapa Windi menulis dengan pulpen tinta merah? Kenapa harus menulis di sampul novel?

“Rina…..! Ikut aku…!” Lamunanku tak bertahan lama. Salah satu teman kelasku membentak. Namanya Yuliana. Ia adalah siswa yang jauh dari kasih sayang orangtua. Jadi, wajar jika menjadikan aku wadah sebagai objek pencari perhatian.

“Ahh….!” Tanpa belas kasihan, Yuliana bersama tiga teman geng-nya menarik tanganku. “Cepat bayar utangmu, kalau tidak, kau akan kami paksa mencabut semua rumput halaman sekolah.” Yuliana mulai menekan. Aku memang punya utang sebanyak tujuh ratus ribu. Waktu itu, aku meminjam motor Yuliana dan tak sengaja menabrakannya akibat pengendara lain yang melanggar rambu lalu lintas.

“Tolong berikan aku kebijakan.” Semua teman geng anak itu tersenyum sinis. Mereka mengabaikan permintaanku.

“Hentikan…..!” Dari depan, terdengar suara bentakan yang akrab. “Windi? Untuk apa kau membela anak ini? Bukankah siswa sepertimu hanya sibuk pada pergaulan yang lebih penting?” Yuliana terlihat berat melihat sorot mata Nona Fianika.

“Kita sekolah untuk mendapat perubahan sikap. Bertindak sopan dan berpikir kreatif. Jika kau hanya ingin cerdas, lebih baik sewa guru privat atau mengambil kursus pelatihan IQ. Kelas unggulan diukur dengan eratnya persahabatan semua siswa di dalamnya. Nilai rapor itu hanya sementara.”
 “Kami tak butuh ceramah. Minggir…!”

“Jika aku mencabut rumput di halaman sekolah, utang Rina akan lunas kan?” Tanpa kata, Yuliana dan teman-temannya hanya bisa membuka mulut. Mata mereka melotot akibat keputusan Windi.

Pukul 11:09 AM, di tengah ketegangan, Windi berjalan di tengah taman. Membiarkan semua tubuhnya disengat sinar matahari. Ia membungkuk dan mencabuti semua rumput liar yang tak dijangkau petugas piket. Nona Fianika sudah tak tahan dengan penindasan Yuliana dan geng-nya. Windi juga tahu bahwa Rina mengidap penyakit miastenia gravis.

Rahasia itu hanya Rina dan Nona Fianika saja yang tahu. Windi sangat paham. Tindakan mengasihani hanya mendatangkan kepalsuan. Memberi hadiah yang tak seimbang dengan kualitas dirinya. Pada akhirnya, orang yang dikasihani semakin kecewa. Karena ia dihargai karena kelemahannya, bukan kelebihannya. Kepuasan batin tak bisa berbohong. Mengumbar kelemahan dan penderitaan di depan umum. Itu semakin menjauhkan seseorang pada kedamaian hati yang ideal.

“Miastenia Gravis, penyakit yang mengacaukan sistem sambungan saraf. Sel antibodi tubuh akan menyerang sambungan saraf lainnya. Aku akan berusaha sebaik mungkin.” Sambil mencabut rumput, Windi mengingat jelas pesan dokter saat sahabatnya masih dirawat di rumah sakit.

Di depan kelas, banyak siswa yang menertawahi tindakan Windi. Tak ada dari mereka yang paham atas segala sesuatu yang jarang dipahami orang awam.

Siswa-siswa di sekolah itu tak tahu. Windi hanya ingin melindungi sahabatnya yang sedang mengidap penyakit yang menyedihkan. 
 Yuliana dan tiga teman gengnya selalu menindas Rina selama dua semester. Windi juga sering menjadi korban. Saat ini, tatapan mata Windi sangat tajam. Anak itu sangat geram menatap Yuliana dan tiga temannya. Dalam sorot mata Windi, tersirat aura gelap dan dingin.

“Mengapa orang itu mencabut rumput di siang hari?”

“Aku tak tahu. Mungkin ia juga ketularan sifat idiot sahabatnya.”

Siswa saling berbisik di depan kelas. Sementara itu, keringat Windi bercucuran. Menahan panasnya terik matahari. Di samping kelas, Rina hanya bisa menangis. Ia tak tega melihat sahabatnya mencabut rumput. “Maafkan aku Windi” Penuh rasa sesal, Rina bahkan berniat pindah sekolah. Ia tak mau terus-terusan merepotkan sahabatnya. Tapi, tak ada yang tahu perasaan Windi yang sebenarnya.

Siang harinya, pulang sekolah. Pukul 2:20 AM. Windi dan Rina pulang bersama. Tapi, mereka saling berdiam diri. Satu merasa berat dan satunya lagi kelelahan akibat mencabut ratusan rumput taman sekolah. Tuhan selalu memberi kelebihan setimpal dengan kekurangan. Rina memiliki penyakit berbahaya tapi ia memiliki sahabat penguat hati.

Di tengah jalan, Rina tak sengaja menyenggol seorang petani yang sedang menopang beras. Dehidrasi dan tekanan mental membuat anak itu sulit konsentrasi. Karung beras yang dipikul petani itu terjatuh. Sebelum meminta maaf, petani itu langsung marah dan menggertak “Pikul beras ini sampai ke rumahku. Kalau tidak, kau akan celaka.”

Rina sangat tertekan dengan ancaman petani itu. Tanpa kata, Windi langsung memikul beras petani itu. Wanita yang sangat tulus dan kuat. Windi sama sekali tak menggeram. Ia terus berjalan ke arah utara sambil memikul beras di punggungnya. Mata petani di dekat Rina membelalak. Baru kali ini ia melihat seorang anak perempuan kuat memikul beras seperti itu.

“Windi…….! Hentikan…….!”

“Tak usah cemas. Tubuhku sudah terbiasa dengan beban berat seperti ini. Ini hanya beban ringan, setiap hari aku selalu memikul beban yang dua kali lipat lebih berat dari beras ini.”

Petani itu berjalan mengikuti Windi. Ia menoleh dengan wajah kaku. Petani itu paham makna ucapan Windi empat detik yang lalu. Tapi, gadis yang menyenggolnya belum paham. Windi terus berjalan. Rina jauh tertinggal di belakang. Itu waktu yang tepat untuk Windi menyampaikan hal penting.

“Pak, jangan terlalu kasar dengan anak perempuan itu, ia punya penyakit yang bisa membuat tubuhnya lemah.”

Petani itu terdiam mendengar perkataan Windi. Jauh dari dalam hatinya, ia juga merasa kasihan membiarkan seorang siswi memikul beras. Sampai waktu yang ditentukan tiba, Rina kembali mendekati Windi. Anak itu mengeluarkan sebuah buku yang sampulnya berwarna abu-abu.

“Kau baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja. Itu buku apa?”

“Ini novel favoritku. Di dalamnya, menceritakan anak yatim yang memiliki penyakit kronis sama sepertiku. Tapi, tokoh utama dalam novel ini anak laki-laki. Daya tahan anak laki-laki tentu lebih kuat.”

“Judul novelnya, NIGELLA. Itu nama bunga yang bisa menyembuhkan ratusan penyakit. Menurutku, bukan penyakit yang membuat seseorang lemah. Melainkan perasaan yang ia miliki. Ketika perasaan seseorang kuat, maka penyakit yang ia derita jadi tak terasa. Waktu berumur 12 tahun, tanganku pernah berdarah teriris bambu. Rasa sakit dalam luka berkurang saat aku belum melihat darahnya.”

“Tapi, semakin aku melihat banyaknya darah yang keluar, rasa sakitnya semakin dalam. Tokoh utama dalam novel Nigella memiliki penyakit yang sangat menyeramkan. Tapi, ia tetap bisa melakukan banyak hal berguna bersama teman-teman kelasnya.”
 “Windi, Kenapa kau bisa tahu isi novel ini?”

“Aku pernah membacanya. Aku bahkan membacanya sebanyak empat kali. Setiap aku merasa lemah, aku selalu membayangkan kondisi dan nasib tokoh utama dalam novel NIGELLA. Edgar Poeder memiliki impian dan hati yang kuat. Hal itulah yang membuatnya bertahan dari penyakitnya.”
 “Kau benar. Tapi, aku belum memiliki hati yang kuat, demikian pula dengan impian yang besar.”

Saat itu, angin berhembus kencang. Novel yang tadinya dipegang jatuh. Lembarannya terus terbuka diterpa angin. Sorot mata Windi terlihat pudar.

“Kita masih pelajar SMA. Belum menghadapi beban kuliah dan pekerjaan. Hatimu tak akan kuat dan impianmu terus pudar. Karena Negara ini tidak dilanda perang. Ketika kita setiap hari mendengar suara bom dan tangisan bayi kelaparan, saat itu hati akan kuat dan impian akan mengeras. Meski pada akhirnya harus mati tanpa mencapai keduanya.”

Rina tak bisa berkata-kata mendengar jawaban Windi. Anak itu segera mengambil novel Nigella yang tergeletak, kemudian menaruhnya dalam ransel. Rina berjalan ke depan. Ia menghela napas dan berkata “Aku tahu kita ini sahabat. Tapi, mustahil kita bisa saling paham mengenai isi hati dan prinsip hidup.”

“Aku sangat takut jika ada orang yang terlalu baik padaku. Karena kebaikan hati bisa berbanding lurus dengan kerasnya balas dendam. Itu sering terjadi dalam cinta remaja demikian pula persahabatan. Banyaknya pengorbanan mendorong seseorang berbuat keras. Banyaknya pengorbanan semakin memicu amarah setelah hubungan itu berakhir. Kisah teman kelas Edgar dalam serial Nigella menjawab semua jenis pengkhianatan manusia.”

Windi tersenyum sinis dan berkata “Yah, kau benar. Pengkhianatan 
 sesama teman kelas dalam novel itu digambarkan sangat detail. Apakah
 hal semacam itu mungkin terjadi di kelas kita?”

“Entahlah.” Rina menjawab singkat. Tanpa berterima kasih, ia langsung berlari meninggalkan sahabatnya. Memang ada yang ganjil dengan percakapan mereka. Baik, Rina maupun Windi, keduanya masih belum seratus persen saling mempercayai. Dalam perasaan Rina, ia sangat trauma dengan perilaku sahabat yang berlebihan.

Alasannya sangat jelas. Dua tahun yang lalu, Rina pernah dimanfaatkan oleh sahabatnya bernama Geovani. Sahabatnya itu berpura-pura baik dan memanfaatkan kelebihan Rina untuk mengerjakan semua tugas sekolahnya. Demikian pula mengikutkan Rina dengan pertengkaran pacar Geovani. Memanfaatkan persahabatan untuk balas dendam. Dalam cerita Nigella, mayoritas tokoh dalam novel itu menggunakan cara yang sama. Seperti Gabriel yang sengaja bersahabat dengan Edgar untuk mencelakainya dengan kue Cherry pie beracun.

Esok harinya, Kamis pagi, pukul 7:21 AM. Suasana kota Yogyakarta sering mendung. Cuaca tak menentu dan banyak penduduknya yang terkena demam. Tapi, suasana hati Rina lebih buruk dari semua itu. Yuliana dan tiga teman gengnya absen hari ini. Empat bangku kosong dalam kelas itu. Namun, ternyata dugaan Rina salah setelah ia menoleh ke arah barat. Rupanya bangku Windi juga ikut kosong. “Suasana bangku kosong 
 seperti ini, persis setelah kematian Barry dan Liana (nama tokoh dalam serial Nigella). Firasatku sangat buruk.” Alis Rina berkerut. Ia merasa sangat sesak.

“Aku tak menyangka anak pendiam seperti Windi tega melukai Yuliana dan teman-temannya. Apakah itu efek dari stress? Atau gara-gara kondisi keluarganya yang berantakan?”

“Aku juga tak tahu. Yang jelas, anak itu melukai Yuliana dan teman-temannya. Mereka sampai harus dirawat di kamar ICU. Padahal hari ini adalah hari ulang tahun Yuliana. Kasihan sekali.”

“Tapi katanya Windi juga dirawat di ruangan yang sama?”

“Iyah, itu sudah wajar. Empat lawan satu, pasti Windi juga terluka berat.” Percakapan teman-teman kelas Rina memberikan jawaban yang jelas. Dua hari yang lalu, saat Yuliana menertawahi Windi mencabut rumput. Hari itu, Rina tak sempat melihat sorot mata yang gelap dan dingin dari sahabatnya, Windi. Ternyata itu adalah sorotan mata balas dendam.

Tanpa berpikir panjang, Rina bolos sekolah dan bergegas menuju rumah sakit Saripati, kamar Melati nomor 12, Slangor, Yogyakarta. Kota yang dijuluki kota pendidikan, rupanya menyimpan satu kisah di luar dari makna kata “Pendidikan”

Saat Rina beranjak keluar dari kelas, satu teman kelasnya yang tugas piket menemukan benda yang bisa dijadikan bahan obrolan baru. Petugas piket itu menatap heran. Di bawah laci meja, ada banyak tisu yang penuh dengan darah kering. Semua siswa saling berbisik dalam kelas. Mulai hari ini, mereka tak akan pernah memandang remeh tipikal siswa pendiam. Tak ada yang menyangka Windi tega berbuat sadis pada empat teman kelasnya sendiri.

Rumah sakit Saripati, kamar Melati, nomor 12. Napas Rina hampir habis. Ia terus berlari tanpa memikirkan apapaun kecuali kondisi sahabatnya. Anak itu melawan kata hati. Tangannya bergerak tegas seraya membuka pintu kamar tempat Windi dirawat. Setelah pintu ruangan itu terbuka, mata Rina membelalak. Ia melihat Yuliana dan tiga teman gengnya menjerit. Mereka juga menahan luka irisan yang dibalut perban putih. Dada dan beberapa anggota tubuh mereka seperti mumi.

Tapi, hanya satu pasien dalam kamar itu yang tertidur pulas, tanpa luka dan perban di tubuhnya. Pasien itu tak lain adalah sahabat Rina, Windi Fianika. “Windi, kenapa kau begitu keras kepala? Kenapa kau tega melindungi aku dengan cara kekerasan?” Dalam hati, Rina mendesah. Ia paham bahwa Windi melakukan semua hal ini karena Rina sedang pengidap penyakit miastenia gravis.

Di dekat bantal Windi, tergeletak sebuah novel yang pernah ia bahas bersama Rina. Sampul dalam novel itu memiliki keganjilan. Di dalamnya, terlihat tulisan tinta merah. Tidak rapi dan terdiri dari beberapa paragraf. Penuh rasa curiga, Rina memgambil novel Nigella yang tergeletak di samping sahabatnya. Bola mata Rina terasa panas saat membaca tulisan di balik sampul novel tersebut. Sebuah surat perpisahan yang berbunyi :

Rina, kau harus lebih kuat dari tokoh utama dalam novel ini. Yuliana dan teman-temannya sudah berjanji. Mereka tak akan menindasmu lagi. Kebetulan hari ini adalah ulang tahun Yuliana. Jadi aku hadiahkan jantungku padanya. Tiga temannya juga aku beri hadiah empat kantong darah. Mungkin kau sulit memaafkan aku. Selama ini, aku mengidap penyakit sindrom Gazania.

Dokter telah memfonisku hanya bisa hidup selama 1 hari lagi setelah kejadian kemarin. Dan di hari yang terakhir, aku bisa membuat kematianku sedikit berguna. Sayang aku tak sempat melihatmu tersenyum untuk terakhir kalinya. Tapi, jantungku ada dalam tubuh Yuliana. Bahagiakan
 anak itu. Jangan balas dendam. Dengan demikian, aku juga bisa merasakan senyuman kalian melalui detak jantungnya.”

Setelah membaca tulisan dalam sampul novel itu, terdengar suara tangisan keras dari belakang. Yuliana dan tiga teman gengnya langsung memeluk tubuh Rina. Mereka meminta maaf dengan sangat dalam. “Windi melindungi kami. Kemarin setelah pulang dari tokoh olahraga, puing-puing besi bangunan gedung GYM jatuh tepat di atas kami. Jika dari awal aku tahu bahwa kau dan Windi pengidap penyakit kronis….”

Yuliana menangis tersedu-sedu. Ia tak kuat lagi menjelaskan semua dosanya. Demikian pula dengan tiga teman geng-nya. Sementara itu,
 Rina hanya bisa terdiam. Prinsip beku anak itu telah mencair. Prinsip yang menyatakan bahwa tak bisa mempercayai penuh jika ada seseorang yang bersikap terlalu baik padanya. Pengorbanan Windi jauh lebih menyakitkan. Penyakit yang diderita Windi juga demikian.

Selama ini ia hanya menyembunyikan semua deritanya di depan Rina. Setelah kematiannya, pikiran dan hati Rina sudah bisa memandang bahwa dunia ini santlah luas. Tubuh Rina tak bisa bergerak dan mati rasa. Air matanya berlinang dan bahunya terasa sangat berat. Rasa sesal dan waktu akan mengajari orang lemah sepertinya. Masih ada yang lebih keras daripada besi. Masih ada yang lebih besar daripada matahari. Gravis.

______The End______

Writer by Jayadi Reiji

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.