JIWA POLISI

“Polisi lahir karena keadilan. Nyawa yang diselamatkan adalah kebahagiaan mereka. Apapun kata orang, bagiku, polisi adalah pahlawan yang abadi.” 
Itulah kalimat yang aku temukan dalam novel karya sahabat sejatiku, Jayadi Reiji. Aku bahkan tak pernah berpikir, kota kecil seperti Pinrang bisa memiliki generasi penulis yang selalu memberiku semangat. Tapi, saat ini aku sangat bimbang. Sebentar lagi UJIAN NASIONAL. Pilihan universitas selalu diatur oleh orangtuaku. Saat aku menyebutkan tujuanku, mereka hanya berkata “Kau tak bisa jadi polisi, kita hanya keluarga petani.”
Tapi Jayadi pernah berkata padaku “Tinggi atau rendahnya pekerjaan orangtua kita di mata masyarakat, bukan jadi penentu kebahagiaan anaknya. Kita semua diharapkan agar bisa melampaui level pekerjaan orangtua.” 
Setiap hari aku selalu curhat bersama teman kelas, guru dan kenalan yang sudah bekerja. Tak ada yang mendukungku untuk menjadi polisi. Bahkan pacarku tak mau menikah denganku kalau aku menjadi polisi. Sejak SMP sampai saat ini, aku tak pernah meninggalkan organisasi pramuka. Semua aturan baris berbaris aku kuasai demikian pula dengan segala hal yang berhubungan dengan polisi. 
Sampai pada akhirnya aku terpaksa membuang impianku. Aku sudah tiga kali absen dalam pertemuan dan latihan pramuka. Percuma curhat pada teman. Nafsu makanku hilang dalam sekejab. Aku pulang ke rumah dan hanya disambut dengan senyuman palsu. Ayah dan ibuku tak pernah mengerti. Mereka tak pernah melihat usahaku di organisasi pramuka. Mereka hanya menilai itu sebagai kegiatan pengisi waktu luang. 
“Eh, lihat, ini aku bawakan informasi tentang pendaftaran di UNM. Kau sangat serasi menjadi guru.”
“Tidak, sebaiknya kau daftar di POLTEK jurusan elektro.”
“Farmasi juga bagus”
“Tidak, jangan farmasi, coba ke jurusan pertambangan saja. Supaya bisa kerja di perusahaan.”
Ayah dan ibuku bergantian memberikan saran yang tak pasti. Seolah-olah mereka yang ingin kuliah. Aku paham bahwa mereka yang mendanai kuliahku. Tapi, pada ujungnya aku juga akan membuang uang jika terpaksa mengambil jurusan yang tak sesuai dengan bakat dan jiwaku. Seperti ayam yang dipaksa menyelam mencari ikan. 
“Nak, jangan memaksakan diri. Di masa depan, penjahat tak beraksi lagi di dunia nyata. Mereka akan menyerang melalui internet, membobol data bank negara. Penjahat semakin jenius dan diluar kendali polisi. Tak hanya itu, mereka juga semakin kaya dengan menguasai pasar gelap dan jaringan narkoba. Uang mengalahkan keadilan. Banyak penegak keadilan hanya memilih berdiam diri daripada harus kehilangan jabatan. Kebahagiaan dan masa depan keluarga terletak pada jabatan dan pekerjaan.”
“Petinggi negara yang terlibat dengan kejahatan, meski kau menjadi polisi, apa kau bisa menghentikan semua itu? Semua penegak keadilan hanya mati diracun, seperti almarhum Munir. Lalu, setelah beliau mati, apa bentuk penghormatan masyarakat? Mereka hanya bisa mengoceh di facebook kan? Bahkan demo mereka tak didengar. Dan kasus keadilan itu tak selesai sampai sekarang.”
“Padahal penegak keadilan mengorbankan semua hal berharga dari dalam dirinya hanya untuk masyarakat yang bahkan tak dikenalnya. Di masa depan, tak ada lagi orang yang butuh pahlawan. Masing-masing urus diri sendiri dan berdiam diri saja jika melihat kejahatan. Menjadi penegak keadilan berarti kau juga bersiap mati, kapanpun, dimanapun. Umurmu masih terlalu muda untuk mengetahui pahitnya semua resiko pekerjaan.”
Semua tubuhku mati rasa setelah mendengar nasehat ibu. Aku menyerah total. Berbaring terlentang di kamar dan menutup mata. Hanya itu yang bisa aku lakukan. 
“Tiga polisi tewas dalam demo mahasiswa. Sampai saat ini, kemacetan lalu lintas belum terselesaikan. Demikian laporan saya. Kembali ke studio.” 
Mataku kembali terbuka. Aku mendengar suara pembaca berita di TV. Nasehat ibu memang benar. Lebih baik aku jadi orang netral saja. Mulai dari NOL itu sangat tak menyenangkan. 
2011, tahun kelulusanku di sekolah tercinta. Masa SMA berakhir dengan singkat. Hal pahit aku lalui selama beberapa bulan. Aku kandas kuliah di UNM, aku juga selalu ditolak dalam lamaran kerja sambilan. Orangtuaku sangat tertekan. Aku juga tak tahu, apa penyebabnya. Padahal, Ayah dan ibuku rajin shalat dan selalu berdoa untukku. 
Aku sengaja membiarkan ijazah SMAku di sekolah. Aku malu ke sekolah untuk mengambilnya. Mantan teman-teman kelasku berdatangan ke sekolah untuk silaturahmi. Mereka memakai seragam dan almamater kuliah. Terlihat sangat beribawa. Sementara aku tak punya apa-apa yang pantas dibanggakan. 
Tapi, aku memiliki sahabat yang sangat keren. Malam hari, jam 11.20, aku memaksakan diri pergi ke rumah Jayadi. Di desa Bulu, desa yang makmur karena pertanian dan perkebunan coklatnya. Di tengah perjalanan, motorku melaju pelan. Banyak sekali suara yang berteriak di telingaku. Suara hati dan suara kegagalan. Tapi aku tak mau mendengarnya. 
Sampainya di kediaman keluarga Jayadi, perasaanku tak menentu. Ini adalah waktu tidur. Tapi, itu tak berlaku bagi sahabatku. Aku belum mengetuk pintu. Tiba-tiba saja lampu teras menyala dan pintu utama terbuka. 
“Sepertinya kau sangat stress. Silahkan masuk.”
Aku tersenyum pahit dan melangkah masuk. Duduk di sofa ruang tamu yang dekorasinya sangat sederhana. Di ruang tamu Jayadi, ada 19 kucing berbaring di karpet. Warna bulunya beraneka ragam. Masing-masing kucing itu diberi kalung cantik meski kucingnya jantan. Ada meja persegi panjang di sudut kirinya. Di atas meja itu, terlihat tumpukan kertas rapi, dan pena berwarna emas, terbuat dari alumunium. Stempel bermotif bunga, kartu remi, komik, krayon 60 warna, keyboard eksternal, cat air dan head-set. Meja ini terlihat rapi, meski banyak benda yang menumpuk di atasnya. 
“Novel NIGELLA kamu belum selesai?”
“Belum”
“Apa kau bisa mendapat uang hanya dengan menulis?”
“Dua minggu yang lalu, aku membelikan laptop ACER adik bungsuku berkat uang juara lomba cerpen misteri.”
“Hebat. Tapi itu bukan pekerjaan tetapmu kan?”
“Benar, aku ingin jadi guru special. Saat ini aku membuka jasa privat bahasa Inggris.”
“Mengajar anak SMP memang menyenangkan”
“Siswa privatku bukan anak SMP kawan. Ia bekerja di hotel fathir dan usianya 28 tahun. Satunya lagi adalah pegawai bank. Umurnya 22 tahun.”
Aku terdiam beberapa menit mendengar jawaban Jayadi. Aku tak mau terus-terusan terpaku dengan kemampuannya. Saatnya masuk ke bagian inti. Aku rasanya ingin menangis menceritakan kondisiku pada Jayadi. 
“Mau aku buatkan kopi atau Neskafe?”
“Tak usah.”
Jayadi terdiam. Ia sudah menyimpulkan bahwa aku memang tertekan. Sangat tertekan. Itu karena aku pertama kalinya menolak minuman kesukaanku. Neskafe. 
“Ceritakan masalahmu kawan, dan tetap kendalikan perasaanmu.”
“Aku sangat ingin jadi polisi. Tapi tak ada yang mendukung. Aku tak mau cerita panjang lebar. Intinya aku sangat tertekan dan tak tahu harus berbuat apa. Aku sangat malu kembali ke rumah.”
“Sejak SD kita berteman, aku pernah melihat gambarmu. Kau menggambar dirimu berseragam polisi. Saat itu, aku selalu mendoakanmu agar sukses menjadi polisi yang adil dan dihormati mayarakat.”
“Tapi citra Polisi di mata masayrakat saat ini berbeda saat kita masih SD……! Orangtuaku juga tak mendukung impianku. Jangan bicara menggunakan standarmu. Kau dari awal punya bakat di bidang bahasa Inggris, seni lukis dan menulis. Orangtuamu juga mendukung penuh. Apa kau paham kondisiku?”
“Usssst, jangan ribut, nanti kucing-kucingku bangun. Jangan terbawa emosi kawan. Rileks, dan siapkan pikiranmu untuk mencerna penjelasan logisku. Dengar baik-baik kawan, di dunia ini, ada pandangan cerdas ada juga pandangan rendah. Pandangan rendah selalu menilai satu untuk semua. Artinya, jika ada satu Polisi yang melanggar etika maka semua Polisi akan dipandang sama. Itu adalah penilaian yang sangat dangkal. Dan kau tahu siapa yang membuat penilaian dangkal itu?”
“Aku tahu. Tentunya orang yang membuat penilaian rendah itu pasti bukan orang yang terdidik.”
Jayadi tersenyum dan berkata “Kau benar sekali kawan.”
“Lanjutkan,”
“Baik, selanjutnya pendangan cerdas. Pandangan ini menilai bahwa apapun tipe pekerjaan seseorang, jahat atau baik, profesional atau amatiran, penentu semua itu adalah HATI dan OTAK orang itu sendiri. Tak ada jenis pekerjaan yang mutlak membuat manusia bersifat iblis. Tak semua pejabat koruptor, tak semua pengacara berbuat curang. Apapun jenis pekerjaan, kita harus percaya, pasti ada orang yang bersifat baik. Jika kita tak percaya dengan teori itu, berarti kita juga tak percaya kehadiran surga dan neraka.”
“Lalu bagaimana dengan perkataan ibuku? Semua penegak keadilan hanya akan mati. Setelah itu kehadiran dan jasanya akan dilupakan.” 
“Orang baik mati tapi mereka menyelamatkan ribuan nyawa. Jika orang baik tak berkorban maka ribuan nyawa akan hilang sia-sia. Kita pasti masih dijajah Jepang seandainya pola pikir itu menghilang. Oleh sebab itu aku menghadirkan seorang komandan Polisi yang sangat hebat dalam novel NIGELLA.”
“Jadi kau mendukungku menjadi Polisi?”
“Tentu saja. Aku bahkan lebih awal mendukungmu jadi Polisi daripada orangtuamu. Sejak kita masih SD, kau menggambar dirimu berseragam Polisi. Kau ingin jadi Polisi bukan karena seragamnya, tapi sifat keadilan dan kepedulianmu yang sangat tinggi. Betapa beruntungnya aku punya sahabat sepertimu. Orang-orang memandang sinis Polisi padahal mereka tak tahu, betapa sulitnya rintangan yang harus dilalui untuk memakai seragam Polisi.” 
“Saat kehilangan barang berharga, saat butuh bantuan, orang-orang kembali membutuhkan pertolongan Polisi. Tapi, apa kau pernah mendengar orang-orang itu berterima kasih? Saat ada yang kecelakaan, warga main hakim sendiri. Pelaku tabrak lari selalu dibunuh secara massal. Budaya konyol itu sulit hilang sampai sekarang. Jadi, jangan kesal jika setiap pelaku tabrak lari yang berniat bertanggung jawab, lebih memilih lari saja. Gara-gara kehilangan kepercayaan pada penegak keadilan, banyak budaya berbahaya menghancurkan masyarakat. Budaya buatan mereka sendiri.”
“Kau lahir di Pinrang dan kau juga memiliki jiwa pahlawan Lasinrang. Aku percaya padamu. Di masa depan, kau akan jadi Polisi yang mengubah pemikiran negatif banyak orang. Jangan pernah membuang cita-citamu.” 
 “Tak hanya dalam tulisan, secara langsung pun aku bisa mendapatkan energi dari kata-katamu. Kabari aku kalau novel NIGELLA mu sudah terbit. Aku akan jadi orang pertama yang membeli novelmu.”
“Pasti aku kabari.”
Malam itu, aku merasakan perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku merasa sangat hangat di sini. Sampai-sampai aku rasanya ingin bermalam di rumah Jayadi. 
Esok harinya, pukul 2:34 AM. Cuaca bulan ini sangat buruk. Siang hari sangat panas sehingga aku tak bisa tidur siang. Mungkin waktunya untuk bersantai dulu. Aku keluar untuk membeli beberapa makanan ringan. Setelah itu, aku akan mempersiapkan diri latihan fisik dan renang. Tekadku sudah bulat. Aku ingin menjadi komandan Polisi seperti dalam novel Nigella. 
Hanya dengan beberapa menit, tekadku didengar Tuhan. Dan aku juga langsung diberi ujian. Di depanku, aspal bersimbah darah. Terjadi peristiwa tabrak lari. Pelakunya memakai helm KYT hitam, motornya serba di_racing. Korban tabrak lari ini adalah wanita berumur sekitar 60 tahun. Tubuhku berdiri kaku dan mati rasa. 
“Kenapa kau diam saja? Di mana jiwa pahlawan Lasinrang yang kau damba-dambakan?” Suara hatiku berbisik. 
“Coba saja ke sana, jangan menyesal kalau kau mati konyol. Warga akan mengepungmu dan membunuhmu. Meski kau bukan pelakunya.”
Selangkah saja kaki kiriu bergerak. Suara hati negatif kembali berbisik. Sial. Aku semakin merasa tersiksa setelah mendengar wanita itu merintih kesakitan. Kakinya patah dan tak bisa berjalan. Apa yang harus aku lakukan?
“Aku bahkan lebih awal mendukungmu jadi Polisi daripada orangtuamu. Sejak kita masih SD, kau menggambar dirimu berseragam Polisi. Kau ingin jadi Polisi bukan karena seragamnya, tapi sifat keadilan dan kepedulianmu yang sangat tinggi. Betapa beruntungnya aku punya sahabat sepertimu.”

Kata-kata penulis itu seperti sihir. Tubuhku bergerak tanpa ragu. Aku menopang tubuh seorang wanita korban tabrak lari. Aku tak memikirkan apapun saat berjalan sambil menggendong wanita ini. Meski ada sekitar 50 orang yang berlarian di belakangku. Mereka berteriak kasar sambil membaya kayu dan benda tumpul lainnya. Jika memang aku mati di sini, aku tak akan menyesal. Setidaknya aku sudah membuktikan jiwa Polisi yang selama ini diremehkan banyak teman kelasku.”
“Berhenti…………!” Aku tak jadi memejamkan mata. Terdengar suara pria berteriak tegas. Aku menoleh ke belakang. Semua orang yang ingin memukulku membuang senjatanya. Mereka tersenyum pada seorang pria bertubuh kekar. Pria itu berjalan mendekati dan berkata “Anak yang memiliki jiwa polisi sepertimu akan diberi umur yang panjang. Terima kasih telah membantu.”
Pria ini tersenyum sambil mengambil alih tugasku. Ia menggendong wanita korban tabrak lari itu dengan wajah yang tulus. Tak lama kemudian, pria itu memanggil mobil ambulans. 
“Permisi, Anda sebenarnya siapa?”
Aku sengaja bertanya. Ada yang ganjil dengan pria ini. Orang-orang di belakangku tersenyum sambil melakukan hormat padanya. 
“Aku ini seorang Polisi.” Aku sangat terkejut mendengar jawaban pria ini. Awalnya, aku mengira dia adalah pejabat. Puluhan orang di belakangku menghormati polisi ini secara tulus. Bagaikan pahlawan, ia disambut tanpa permainan topeng. 
“Siapa pria itu?” Aku sengaja menyalurkan rasa penasaranku pada satu warga yang memakai kemeja coklat.
“Dia adalah polisi sejati. Tak pernah menerima suap, adil, ramah. Aku ingin anakku bisa menjadi polisi seperti dia. Meskipun pria itu tak berseragam polisi, ia tetap diperlakukan seperti pahlawan di desa ini. Baik acara penamatan Al Qur’an, dan pernikahan, pesta yang ia adakan selalu dipenuhi orang-oraang dengan wajah bahagia.”
Hatiku sangat gembira mendengar jawaban warga di depanku. Apa yang dikatakan Jayadi sudah terbukti. Pandangan cerdas mengenai segala jenis pekerjaan seseorang. Bukan jenis pekerjaan yang mendorong seseorang berbuat jahat. Tapi jenis hati dan otak orang itu sendiri. 
November, 2013. Tahun yang penuh rasa damai di kota Pinrang. Nuansa mappadendang saat panen padi sangat aku rindukan. Kata-kata penulis itu selalu menguatkanku dan tentunya aku menjelaskan semua yang disampaikan Jayadi pada orangtuaku. Dalam sekejab, pikiran mereka berubah. Aku mendapat dukungan penuh menjadi polisi. Setiap hari, ibuku selalu mengantarku latihan renang di Sulili e. Nama desa di Pinrang yang memiliki kolam latihan renang.
Ayahku mulai mengerti kata hatiku. Setiap selesai shalat di mesjid, ia selalu meminta bantuan pada sahabatnya untuk mendoakan aku sukses menjadi polisi. Dua kasih sayang terbesar menopang impianku. Ini adalah pemberian Tuhan yang sangat special. Berkat dorongan ayah dan ibu, aku pun akhirnya sukses dan lulus menjadi polisi. Saat ini, aku menjalani tugas di Samarinda. Penuh ikhlas, tegas, adil dan peduli. Dengan demikian, pandangan masyarakat akan bersahabat terhadap Polisi. 
Aku selalu menerapkan prinsip itu dalam menjalani tugas. Dan, respon masyarakat sangat baik. Hikmah dari semua kegagalanku terbayar. Dan kunci dari semua ini adalah dedikasi sahabat sejatiku, Jayadi Reiji. Anak itu lain dari yang lain. Itu penilaian jujur dari hatiku. Saat SMA, ia selalu menjadi sorotan bagi semua siswa. Setiap pulang kampung, aku selalu mengabari Jayadi lewat BBM untuk mengikuti pesta syukuran di rumahku. 
Saat pertama kali aku bertemu dengannya setelah sekian lama berpisah, wajah Jayadi seperti tak berubah. Masih sama seperti SMA. Anak ini sangat suka makanan manis-manis. Kami melakukan candaan tanpa batasan gengsi. Jayadi selalu memanggilku dengan sebutan KOMANDAN. Aku selalu semangat bekerja setiap mengingat nama panggilan itu. 
Terima kasih banyak Tuhan. Kau telah membimbingku memelihara hubungan bersama teman-teman, sehingga lahir seorang sahabat. Seorang sahabat yang memberiku kontribusi berarti di masa depan. Suatu hari nanti, aku akan menjadi komandan polisi seperti dalam novel sahabatku. Dan hari itu, sahabatku juga akan menjadi pribadi yang berdampak besar bagi orang banyak. Aku percaya.

______The End______

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.