Rencana Selanjutnya

Jazman Arrafiq
Sep 7, 2018 · 7 min read

7 September 2018. Kondisi tubuh, mental dan fisik lumayan bagus. Hari senin, 3 September seharusnya aku sudah memulai lagi semester baru. Semester 7. Sedikit lagi mengakhiri episode di tempat itu. Dan memulai jalan kehidupan yang baru, entah dengan mencari beasiswa ke Luar Negeri atau lanjut di dalam negeri. :D

3 tahun atau tepatnya 6 semester dijalani benar-benar dalam kondisi sakit. “sakit” ini tidak bisa didefinisikan, beberapa kali ke dokter sejak SMA dan psikiater dulu tapi masih belum ada diagnosa yang pas tentang kondisi ini. 6 semester benar-benar habis hanya untuk menjalani berbagai proses terapi dan siksaan di dalam kelas.

Aku tidak bisa dan mampu membayangkan apabila bukan aku yang menjalaninya, kemungkinan besar sudah bunuh diri individu tersebut. Sabar dan resilien merupakan gen yang diturunkan dari Kakek, Nenek dan Ibu. Mereka memberiku andil sampai sekarang masih mampu untuk menjalani hidup dan bersyukur, aku masih bisa bernafas sampai sekarang.

Ada yang benar-benar membingungkanku, yakni, kondisi memori jangka pendek maupun panjang tetap atau hampir-hampir tidak terkena pengaruh dari kondisi sakitku. Aku mengalami “sebuah” gangguan yang berada pada kepala bagian depan. Posisi spesifik bagian mana masih menjadi sebuah misteri yang belum juga terpecahkan.

Senin, 10 September 2018 kemungkinan bakal menjadi awal aku menjalani masa kuliah di semester baru. 6 semester sakit membuatku merasa tidak pernah mengerjakan apapun selama kuliah, walaupun ketika menilik ke belakang ada beberapa hal atau kegiatan yang aku jalani, tapi aku merasa dengan kondisi yang benar-benar sangat fit nanti aku harusnya bisa menjalani berbagai kegiatan dengan lebih banyak dan dengan kondisi diri ceria dan bahagia.

Tapi….. kemungkinan besar semua itu bakal terjadi ketika aku melanjutkan ke jenjang S2 nanti. Sebuah tempat baru, sebuah suasana baru dan sebuah tantangan kehidupan yang baru. Aku mencintai tantangan. Sebuah tempat kuliah dimana pikiranku mampu untuk tersibukkan selalu dan menstimulasi diriku untuk berkembang dan terus menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Sebuah tempat kuliah dimana diriku mampu untuk dikelilingi oleh orang-orang dengan rasa empati, kepedulian dan simpati yang tinggi. Mampu untuk menawarkan bantuan, membantu dalam kesusahan dan tertawa bersama menggapai keberhasilan. Tapi itu nanti……. S1 tidak menawarkan itu semua.

Aku beruntung bertemu dengan seorang perempuan, seorang Ibu dan juga seorang dosen yang approachable. Aku memanggilya, Bu Annisa. Annisa Meiranty Nurendra. Ia dosen Psikologi di tempat itu. Ketika bertemu beliau, dirimu bisa bercerita tentang banyak hal, dari hal paling remeh sampai hal yang mungkin dianggap serius. Dari hanya sekadar basa-basi sampai tentang rencana hidupmu ke depan, karir, dan lain-lain. Beliau asik orangnya, and i respect her. Salah satu dosen yang aku anggap serius ketika belajar di tempat itu. Aku merasa terselamatkan dengan bertemu beliau.

Bu Annisa.

6 semester. 6 kali liburan dalam jangka waktu lebih dari 3–4 minggu. Dan selama itu juga aku benar-benar dalam kondisi sakit. Bahkan tidak mampu untuk sekadar menikmatinya. Menginjak akhir-akhir ini, kondisi sudah lumayan, pikiran sudah sedikit damai dan tidak terlampau stress seperti sebelumnya. Membaca masih menjadi opsi. Ada beberapa dosen yang sepertinya jengkel atau gedhek dengan diriku yang tiap masuk kelas selalu ditinggal membaca oleh diriku. Padahal, itu aku kerjakan hanya karena sudah tidak ada opsi lain selain harus lanjut ke jenjang S2. Banyak sekali episode kuliah yang hampir tidak aku dapatkan dikarenakan sakit yang aku derita. Apakah S2 merupakan sebuah opsi untuk menawarkan kesembuhan diri padamu? entah. Jawaban paling simpel yang bisa aku tawarkan.

Melanjutkan studi S2 bakal memberiku sebuah suasana baru, sebuah tantangan yang baru dan sebuah kehidupan yang baru. Aku memerlukan sebuah tempat yang benar-benar sangat rame, rada cerewet dan banyak sekali manusia yang bisa aku temui selama studi. Diversitas. Rasa Ceria, Bahagia. Itu kuncinya. Sejak kecil aku selalu berada pada sebuah lingkungan yang sangat rame, kompetitif dan cerewet. Sampai akhirnya aku memasuki masa kuliah, dan tempat itu terlalu sepi untuk ukuranku.


Buku dan membaca merupakan cara terbaik untuk menikmati kehidupan. Buku menawarkan sebuah jalan pintas dan murah untuk berjalan-jalan keliling dunia, menikmati berbagai museum di Paris, Perancis, menikmati dan membayangkan bagaimana tubuh dari Jeremy Bentham diabadikan untuk menjadi konsumsi publik.

Aku bukan orang yang gila membaca, tentang membaca, aku mampu untuk membaca pada usia 2 tahun. Pada usia 3 tahun aku sudah memasuki Taman Kanak-Kanak. Dan usia 4 tahun seharusnya aku sudah memasuki masa Sekolah Dasar, SD tetapi untuk menghormati kakak yang tertua, aku mundur 1 tahun. Usia 5 tahun aku mulai menjalani SD kelas 1. Sejak SD kelas 1 sampai SD kelas 6 aku selalu mampu untuk menjadi yang terbaik dikelas, selain tentunya dipandang baik oleh guru-guru yang mengajarku.

Entah, mungkin karena aku diperkenalkan dengan buku sedari kecil oleh orang tua. Aku mempunyai semacam inklinasi atau kecenderungan untuk membaca dan tidak terlalu alergi dengan adanya buku-buku. Buku hanya sebuah “barang” yang digunakan sebagai alat transmisi pengetahuan. Bukan sesuatu yang seharusnya membuat orang-orang alergi atau trauma.

Liburan akhir kemarin aku beruntung membeli dan menambah beberapa buku bahasa Inggris di rak kamar yang mampu menstimulasi diriku tentang rencana hidupku ke depan. Berikut buku-buku tersebut:

  1. Steve Jobs — Walter Isaacson

2. Einstein — Walter Isaacson

3. Benjamin Franklin — Walter Isaacson (ketiga buku diatas ada dalam bundle di bawah ini).

4. The Power Broker — Robert A. Caro

Bukunya Robert A. Caro ini sedang dalam proses baca dan isinya sangat menarik dan mampu menstimulasi pikiran tentang dunia sekitar dan bagaimana dunia bekerja. Tokoh Utamanya: Robert Moses.

Bila mau tau sedikit tentang ringkasan buku ini. Robert A. Caro menuliskannya dalam peringatan 40 tahun penerbitan buku tersebut. https://www.nytimes.com/2014/12/14/books/review/the-power-broker-40-years-later.html

5. The Presidential Biographies — David McCullough

6. The Death and Life of Great American Cities — Jane Jacobs

7. The Gene — Siddhartha Mukherjee

Bukunya Mukherjee ini memberi kisah sekaligus kronologis yang sangat epic tentang “gen” dan berbagai kisah intimnya. Dibuka tentang kisah dari keluarganya sendiri, ada yang mengalami Schizophrenia dan Bipolar Disorder. Menarik. Aku pikir semua orang wajib baca tentang buku ini, karena efeknya berkait juga dengan anak cucu, keturunan, dll.

8. Peak — Anders Ericsson

Sebagaiman buku-buku yang sejenis. Sebenarnya cukup dibaca dalam sehari bisa. Penyampainnya tidak terlalu rumit, tipikal buku Psikologi populer.

9. Muhammad — Martin Lings

Membaca kembali dan mendalami serta menginsafi kisah tentang Muhammad, PBUH. Seorang yang otentik, orisinil dan terbimbing. Wajib untuk diteladani dan dibaca bagi para pemuda muslim dimanapun berada. Hal yang menarik perhatian adalah ketika Muhammad kecil bermain-main bersama Kakeknya di sekitaran Ka’bah. Bagiku itu menarik, tentang seorang Nabi ketika kecil diceritakan dan begitu dekat sebagaimana manusia pada umumnya.

10. How Children Learn — John Holt

Mempelajari tentang anak selalu menarik. Suatu hari dirimu bakal menjadi Ayah. Semoga mampu memberi sebuah ideas tentang menjadi Ayah yang baik.

Dan masih ada beberapa buku lagi yang perlu aku beli dan baca sebagai persiapan untuk kehidupan selanjutnya. Mempersiapkan untuk studi S2 dan memperkaya berbagai bahan bacaan di rumah untuk anak cucu kelak.

11. The Messenger: The Meanings of the Life of Muhammad — Tariq Ramadan (masih belum sampai)

12. I Will Teach You to Be Rich — Ramit Sethi (masih belum sampai)

Selain dari buku-buku diatas, semua buku dalam daftar ini juga perlu untuk dibeli. Semoga segera ada kelapangan uang. Amiin YRA. Mempersiapkan masa depan kudu dimulai dan dipersiapkan dengan sangat serius. :D

https://www.goodreads.com/list/show/13430.Silicon_Valley_History


Hello World. Welcome to Japan. Selamat untuk melanjutkan Studi S2 di Jepang. Atau Turki, mungkin. Amiin YRA.


Yeah, last but not least, aku pikir Psikolog merupakan pekerjaan paling mulia. Dan mencari istri seorang Psikolog menjadi opsi yang menarik. Benturan atau bentrok dengan dosen merupakan hal yang biasa, aku pernah atau seringkali mengalami hal tersebut di tempat kuliah. Kesepemahan antara mahasiswa dan dosen menjadi sangat penting. Semoga Tuhan YMK senantiasa memberiku rahmat untuk tetap menghargai profesi yang diemban, tanpa ada rasa meremehkan. Amiin YRA.

. 7 September 2018. 20.00–21.00. selesai menghadap seorang Psikolog di Kebumen, tanah kelahiran. Pertama kali memperkenalkan diri, beliau langsung menyebut Bu Uyun (Qurotul Uyun), Bu Emi (Emi Zulaifah), Bu Ratna (Ratna Syifa’a Rachmahana). Trio dosen di UII. Dan trio dosen yang dari raut wajahnya terlihat keibuan. Bu Yulaidah nama Psikolognya. Beliau sepertinya 1 angkatan dengan beberapa dosen di UII. wkwkwkwkwkwkkw http://rsuddrsoedirman.kebumenkab.go.id/web/post/jadwal-pemeriksaan-dokter

Jazman Arrafiq

Written by

sedang membangun masa depan. Diplomacy, Psychology, Global Order and .... Manusia.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade