Tentang Hujan
Hari ini hujan datang membawa setumpuk syair-syair tua tentang rasa. Tak se-heboh biasanya,minta dibaca. Mungkin sudah terlampau sering dan bosan karena banyak yang aku telantarkan; di atas lemari hingga berdebu, di perapian hingga abu, di bawah kasur hingga hancur.
Aku bukannya membenci hujan, hanya sensitivitasku akan meruak saat ia datang bertamu. Hidungku menjadi manja mencium bau tanah yang basah dan bau kenalpot kendaraan umum yang tak pernah mau berhenti menimbun mimpi-mimpi; anak istri, mobil pribadi, kebutuhan birahi hingga kebutuhan sehari-hari. Walau ia tahu terkadang mimpi adalah sebuah pelarian dari peluhnya ,Pagi-malam-pagi.
Tentang hujan. Ketika ia datang bertamu, selalu saja minta rokok dan dibuatkan bercangkir-cangkir kopi, merengek bila tak dibuatkan puisi dan diceritakan perihal ego, masa lalu, cinta, dan rindu. Lalu setumpuk syair tua yang ia bawa dilemparkannya ke atas meja kerjaku. Menuntut dibaca satu-persatu dengan tema yang selalu sama setiap tahun. Ego, masa lalu, cinta, dan rindu.
Aku tidak membenci hujan, hanya apa yang ia tawarkan padaku saat ia kembali datang.
