Pensil Tumpul

Aku ingin menjadi pensil tumpul. Pensil yang tak mempunyai sisi runcing pada ujungnya. Tunggu, tolong hentikan sejuta pikiran negatif yang sempat terlintas di pikiran kalian. Pensil tumpul bukan berarti ia adalah sebuah objek yang tak berguna yang hanya akan tersingkirkan oleh pensil yang lebih runcing. Sekali lagi aku ingatkan, bukan seperti itu. Lalu seperti apakah? Pensil tumpul berarti sesosok yang akan terus berusaha meruncingkan ujungnya. Jika kita implementasikan kepada manusia secara harfiah, maka pada kodratnya manusia akan terus mencari ilmu dan jati diri agar mendapatkan keruncingan yang semestinya. Namun jika pada dasarnya aku hanya bertahan untuk menyerupai pensil yang runcing, maka aku sangat rentan untuk melukai objek lainnya.

Mari kita bermain perumpamaan sekali lagi! Jika pensil adalah kita, maka sang pemilik pensil tersebut ialah Tuhan. Jika saja sebuah pensil yang runcing adalah kita, maka kemungkinan besar kita bisa melukai-Nya. Masih belum pahamkah pada titik perumpamaan ini? Baiklah. Manusia mempunyai kecenderungan untuk memiliki sifat sombong, lupa daratan, serta bisa berperilaku seenaknya saja. Perumpamaan pensil yang runcing membuktikan bahwa manusia itu berwawasan luas, sudah terasah, dan merupakan tujuan akhir seseorang membentuk dirinya. Jika manusia sudah memiliki derajat yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan yang lainnya, maka tak dapat dihindari manusia tersebut merasa dirinya tidak mudah dikalahkan. Lalu apa dampaknya? Resiko terburuk ialah ia akan berhenti mencari tahu, berhenti memperindah dirinya lagi, dan merasa sangat cukup dengan keadaannya yang sekarang. Selain terlalu cepat merasa puas, kadang manusia paling burukpun akan berpikir tak membutuhkan siapa-siapa lagi untuk memperbaiki dirinya, termasuk Tuhan sekalipun. Itu sebabnya aku tak ingin menjadi pensil yang runcing, yang berpotensi untuk melukai sang pemilik pensil, sang Maha Pemilik apapun di dunia ini.

Dengan menjadi sebuah pensil yang tumpul, aku akan senantiasa terus meruncingkan diriku. Terus berharap kepada sang pemilik pensil untuk tiada hentinya membantuku meruncingkan bentukku. Memang tidak selamanya pensil akan terus menerus berbentuk tumpul, ia juga sangat berpotensi untuk menjadi runcing. Dan begitupun sebaiknya. Maka mari gunakan pensil sebaik mungkin. Jika tumpul, maka kita harus meruncingkannya. Dan jika sudah runcing, maka kita harus menorehkannya pada sebuah buku kosong dan menulis skenario disana seindah mungkin. Karena kembali lagi, pada kodratnya manusia tak sepatutnya mudah merasa puas. Teruslah meruncingkan pensilmu walaupun dalam waktu yang bersamaan kau juga tengah menggunakannya untuk menulis. Lakukan terus hingga pensil tersebut mengecil bahkan habis tergores oleh sucinya lembaran kertas.