Aikido Journals #2 “Religion”

Cara jatuh yang benar dan keren.
Aku, adalah penganut agama Kristen. Aku percaya akan Allah, Bapa yang Maha Kuasa, pencipta langit dan bumi. Dan akan Yesus Kristus, PuteraNya yang tunggal, Tuhan kita.

Tulisan ini tidak bermaksud menyindir siapapun, hanya memberikan pandanganku terhadap penilaian mereka.

Dibesarkan di keluarga Kristen, di sekolah Kristen, dan lingkungan yang mayoritas Kristen. Aku paham betul akan nilai-nilai yang diajarkan kepadaku, aku yakin bahwa orangtua ku mendidik aku dengan baik sehingga aku memiliki dasar kekristenan yang kuat.

Ayahku, memberhentikan aku dan kakak ku dari Aikido, karena alasan yang menurutku “lucu”. Secara teknis, bukan ayahku yang menghentikan dari les aikido. Jadi, kakak ku adalah seorang yang aktif di gereja lokal, dan begitu mereka (gereja lokal) mengetahui bahwa kami (aku dan kakak ku) mengikuti aikido, mereka meminta ayahku untuk tidak melanjutkan nya lagi.

Jesus Christ

Aku tidak percaya kepada roh-roh gaib, hantu, ilmu hitam dan lain sebagainya. Itulah sebabnya aku memiliki sangat sedikit cerita mistis, karna aku tidak takut — atau sangat jarang takut — mengenai hal semacam ini.

Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia. (1 Yohanes 4:4)

Lalu? Apa hubungan nya dengan Aikido? Aku juga bertanya-tanya awalnya. Selidik punya selidik, setelah menanya petinggi Gereja dan pendalam alkitab lagi, tentu aku menemukan benang merahnya.

Kebanyakan beladiri, memerlukan meditasi, atau terkadang “ritual” agar dapat naik ke tingkat selanjutnya. Seperti restu dari orang tertentu, atau — lebih parah — pengorbanan, mungkin. Bisa juga seperti membaca mantra, atau sesuatu yang dilakukan tanpa ada hubungan langsung dengan memperkuat kemampuan sel-sel otot. Kami percaya bahwa segala roh yang ada di luar Tuhan, adalah roh jahat. Iblis, dan kawan-kawan nya. dan tentunya, meminta kekuatan dari roh-roh ini adalah perbuatan yang salah.

Tuhan memberikan kita kekuatan. Untuk menghadapi cobaan, untuk mengatasi masalah, untuk melawan setan. Dan juga, tentunya untuk melawan kejahatan, atau mungkin — agar relevan dengan tema tulisan ini — untuk membela diri kita. Hanya karena kita belajar beladiri, bukan berarti kita tidak percaya bahwa Tuhan sanggup melindungi kita. Sama hal nya ketika kita membeli payung, dan menggunakan nya ketika hujan, bukan berarti dengan kita membeli payung, kita tidak percaya bahwa Tuhan sanggup melindungi jalan kita dari hujan kan?

I just search budo (means literally martial art) in google and found this.
Belajar beladiri tidak lah salah. Tidak pernah salah! Tuhan ingin kita mengembangkan talenta yang kita punya. Dan jika itu talenta kita, kenapa tidak dikembangkan?

Tapi ketika kita mulai mengandalkan roh-roh halus, masuk kedalam kita, agar kita dapat melakukan jurus tertentu, tentu itulah yang salah. Kita bisa menjadi kuat, karna anugrah dan penyertaan Tuhan! Bukan karena roh mistis yang mendukung kita dari belakang.

Namun, bagaimana dengan aikido?

Sejauh ini (saya, saat ini kyu-5) menurut pengalaman yang pendek dan pengamatan dari cerita-cerita sensei saya (beliau dan-1), aikido tidak menggunakan hal seperti itu. dan hal yang paling mendekati (mungkin, hanya mungkin) adalah ki.

Ki hanya dipelajari oleh tingkat atas (mungkin dan 1,2 dst). Aku masih jauh dari sana, dan semoga sampai ke sana. Tingkat-tingkat di bawahnya (kyu 1,2,3 dst) belum mempelajari ini secara mendalam. Dan jika aku sudah mempelajarinya, tentu akan ku tulis di sini.

Kotegaeshi (salah satu bentuk kuncian)

Belajar fisik, latihan rolling dan segala macamnya, itulah latihan. Membuat tubuh terbiasa, membentuk postur, dan refleks. Itulah aikido, latihan. Bukan sekedar ritual lalala dan mendapat kekuatan, tidak.

Tidakan yang diambil gerejaku (dan gereja kakakku, dan juga ayahku), tentu terkesan konservatif dan sangat tertutup. Tapi ya, namanya juga manusia. Mereka kurang mengerti Aikido. Bahwa yang dilakukan disini adalah latihan biasa, bukan ritual aneh-aneh, hahaha.

In the end, aku melanjutkan aikido ketika aku kuliah. Aku makin jatuh cinta, dan berniat meraih sabuk hitam. Aku masih berpegang teguh, bahwa memperkuat diri dengan roh lain adalah salah, dan aikido tidak melakukan hal tersebut.

Aikido Journals. Religion. 2016

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Jechriswa’s story.