Antara Realisme Magis dan Kota penuh Muslihat

https://id.pinterest.com/pin/492651646712440315/
Apakah novel itu benar atau bohong, bagi sebagian orang sama pentingnya dengan apakah novel itu baik atau buruk, dan banyak pembaca, sadar atau tidak sadar, menilai yang belakang ini dari yang pertama tadi. — Mario Vargas Llossa.

Kemunculan realisme magis yang dikuatkan Gabriel Marquez dalam beberapa karyanya, membuat saya bertanya-tanya, semisal dalam Old Man, apakah sastra dapat meyakinkan manusia bahwa ada orang tua bersayap yang dapat melakukan perjalanan menembas badai dan gelombang menggunakan angin topan dan terdampar di pantai Macondo? Atau dalam karya lainnya, Drowned Man, apakah sastra dapat membuat manusia percaya bahwa ada kumpulan mayat ajaib yang dapat menempuh perjalanan jauh dan sampai di kota Macondo. Salah seorang dari mayat itu terlihat sangat tampan, membuat penduduk terkesima dan menganggap itu indah dan mulia?

Melalui dua karya Marquez itu, Macondo yang dinarasikan sebagai kota kecil yang sepi, aman, dan tentram, namun penduduknya ternyata berterima dengan kehadiran pendatang-pendatang aneh semacam itu.

Mengawinkan dua tanda tanya tersebut di atas pelaminan sastra dapat membuat kisahnya lebih berterima, terlebih jika diberi sematan realisme magis. Sematan itu sama dengan beberapa aliran sastra lain yang dilekatkan untuk menandai sebuah karya. Semacam pagar agar orang lebih mudah memahami sedang berada di taman seperti apa.

Meskipun beberapa pakar lebih sepakat menyebut bahwa realisme magis adalah bentuk sastra dari pada aliran sastra, tapi itu tidak meluruhkan pertanyaan saya di atas. Karenanya, saya mulai mencari-cari, adakah di sekitar kehidupan ini sesuatu yang realis dan mengandung daya magis atau adakah yang bisa dijadikan bahan perbandingan — serupaya orang tua bersayap atau mayat yang melakukan perjalanan jauh?

Saya kemudian mencoba mengamati apa yang dapat mewakili pertanyaan itu, namun yang saya temukan adalah kenyataan bahwa orang-orang di kota ini menggelisahkan terlalu banyak hal asing dalam hidupnya. Mereka kepayahan memusatkan perhatian pada satu hal dan tekun memahaminya. Sementara di satu sisi, citraan yang dilekatkan pada tubuhnya membuat mereka menjadi orang lain dan bersikeras bahwa ini adalah diri dan hidupnya.

Kenyataan lain misalnya, bahwa reklamasi pantai di kota ini merebut pekerjaan beberapa nelayan dan nantinya dapat berdampak pada ekologi. Tapi mengapa sebagian orang bisa berterima dengan kondisi seperti ini?

Atau kenyataan bahwa setelah berbulan-bulan dan mundur dari jadwal semula, pelebaran jembatan Tallo yang setiap hari memperparah kemacetan di depan pusat perbelanjaan itu bukan sebuah masalah. Orang-orang malah mengeluh tentang kemacetan dan hanya sebagian yang mempertanyakan mengapa proyek itu belum selesai?

Orang-orang telah merasa menjadi bagian kota ini, tapi tanpa disadari, kota ini mengusir mereka. Meskipun saya tidak percaya hal itu dapat terjadi, namun itu memang nyata adanya. Yang membuat ini seolah menjadi realisme magis, karena kita ternyata berterima - persis seperti penduduk Macondo yang dikunjungi pendatang-pendatang aneh.

Apa yang lebih realisme magis dari kenyataan seperti ini?

Eka Kurniawan — yang dianggap penulis realisme magis melalui novel Cantik itu Luka-nya, memberi tanggapan lain, “Saya sendiri agak ragu mengatakan bahwa novel itu — Cantik itu Luka, adalah realisme magis. Kita bisa melihat pada pembuka novel itu, “Dewi Ayu bangkit dari kubur setelah dua puluh satu tahun kematian.” Di titik itu, mungkin orang akan merasa ada unsur realisme magis, tapi orang sering lupa bahwa pada adegan berikutnya, si anak gembala dan orang-orang kampung berlarian. Dalam novel-novel realisme magis, tidak begitu, orang-orang tidak berlarian.”

Pada bagian ini, melalui karyanya, saya merasa Eka berusaha mengajak pembacanya melakukan tinjauan kembali atas ruang sadar. Apakah perubahan yang terjadi di sekitar kita adalah sesuatu yang berasal dari diri. Yang berakar dari budaya sendiri. Karenanya, dibutuhkan penundaan atas penerimaan sesuatu dan berusaha bersikap skeptis terhadapnya.

Eka memiliki cara sendiri untuk memahami sejarah. Bahwa sejarah itu tidak memiliki kebenaran mutlak, bergantung dari sudut apa kita melihatnya. Bahwa sejarah adalah produk di mana ketika manusia berada di masa depan, mereka rekaman untuk kembali melihat masa silam.

Sayangnya, lebih banyak di antara kita yang terjebak pada eksotisnya kebangkitan Dewi Ayu dari kubur setelah dua puluh satu tahun kematian dari pada meresapi mengapa si gembala dan orang-orang kampung tetap merasa aneh dan heran.

Apakah ini menunjukkan bahwa kita sedang berada di dunia realisme magis? Banyak cara untuk menemukan jawabannya, termasuk, jika kita percaya bahwa kota ini mencintai orang-orang kesepian seperti kita.

Literasi Tempo Makassar 18/02/16