Kepada Tuhan yang Mana Lagi

Adam — seorang pemuda muslim, bersama puluhan penduduk beragama nasrani terjebak di sebuah gereja saat perang itu menghancurkan Kota Yursala. Tembakan demi tembakan. Teriakan demi teriakan. Orang-orang putus asa dan mungkin telah bertemu pangkal usianya sebelum terkena peluru dan sayatan pedang.

Keadaan mencekam ini membuat Pastor Costana berlari ke mimbar gereja. Ia menyerukan kepada seluruh yang ada di ruangan ini untuk berdoa. Adam turut berdoa kepada Tuhan di hadapan patung Yesus dan Bunda Maria agar perang sipil antara pasukan pemberontak dan tentara republik segera berakhir.

Lepas larut, samar-samar Adam melihat Ghandi, teman sekolahnya dulu yang beragama Hindu, Dr. Patra, seorang pengacara yang Atheis, dan Dini, penganut kepercayaan kuno di Kota Yursala. Mereka semua berkumpul. Berdoa. Berdoa. Dan pasrah.Di luar gereja, raungan peluru masih menyergap telinga. Dar der dor!

***

Jangan cari kisah tersebut di novel, cerpen, apa lagi di sebuah negara seperti Indonesia. Saya mengutipnya di sebuah diskusi kecil dengan seorang kawan. Kisah itu hanya bayangan kami berdua setelah mencemaskan yang sama; intoleran.

Seperti biasa, menjelang natal, selalu saja muncul perdebatan berulang. Di media sosial, di televisi, di warung kopi, di ruang kuliah, bahkan di atas ranjang. Perihal seorang muslim yang memberikan ucapan selamat natal kepada seorang kristiani.

Di Twitter, beberapa orang menyampaikan seruan agar kaum muslim tak memberikan ucapan selamat natal karena itu hukumnya haram. Dan di Facebook, kita dengan mudah menemukan status panjang yang mengutip ayat-ayat agar tak seorang pun yang beragama Islam berani selamat natal.

Apakah mereka benar-benar kembali ke Al-Quran atau sekadar berlindung di belakang jubah keyakinan yang picik. Bukankah dogma seringkali mengurung kita pada perkara yang terlihat meyakinkan padahal sesungguhnya meragukan?

Yang paling mengerikan, beberapa hari yang lalu ada sekelompok mahasiswa yang mengaku beragama tapi melakukan pemboikotan perayaan natal di Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin. Dengan keadaan dan tekanan yang tentu sulit diterima, kegiatan khidmat itu akhirnya dipindahkan keluar kampus.

Meskipun membahas tulisan seperti ini terlalu rentan dan bisa menjadi pemantik sebuah konflik. Tapi saya yakin, masih lebih banyak di antara kita yang beragama dan menjunjung keberagaman sebagai pilar utama kehidupan. Masih banyak di antara kita yang bisa menerima perbedaan.

Saya lahir dan besar di pesantren tapi tidak sekalipun ada ajaran untuk bersikap intoleran terhadap agama lain. Apa lagi sampai menghalangi saudara kita untuk beribadah. Tuhan yang mana melarang agama lain untuk beribadah?

Ini bukan perkara siapa yang benar dan siapa yang salah. Tapi perkara kita meletakkan Tuhan di mana saat melakukan pelarangan orang lain untuk beribadah. Apakah Tuhan kita masih hidup jika sebagai hamba menganggap Tuhannya yang paling benar?

Sikap-sikap arogan seperti itu hanya dimiliki oleh pecundang sosial. Pecundang yang memiliki pembenaran yang buta di dalam hatinya. Arogansi seperti itu lebih tepat disebut sebuah ego. Ego yang juga dimiliki oleh para iblis.

***

Terkikisnya kemampuan untuk hidup berdampingan dalam perbedaan adalah bukti jika kita adalah manusia biasa. Manusia biasa yang dengan mudah dicuri oleh pemahaman yang sangat jauh dari konsep kebudayaan kita.

Kita bisa belajar dari sepasang kekasih yang menjalani kisah cinta tapi dalam banyak hal mereka berbeda, tentu terasa hangat dan menggairahkan. Tak bermaksud berkhutbah, tapi hidup di tengah perbedaan dan bisa menerima itu sebagai keindahan tentu terasa menenangkan.

Saya mengingat puisi Robert Frost — penyair asal Amerika Serikat, di hutan, kulihat dua cabang jalan terbentang. Kuambil yang jarang dilalui orang. Dan itulah yang membuat segala perbedaan.

Perbedaan itu memang tidak menciptakan dirinya sendiri atau diciptakan oleh manusia. Tapi ia selalu ada. Selelah apapun kita menghindarinya, ia hidup dalam bayang-bayang setiap benda bernyawa ataupun tidak.

Siapa yang tahu, Tuhan mungkin saja menciptakan banyak agama dan kepercayaan agar ia bisa disembah dengan banyak cara. Agar kita bisa hidup dalam banyak rasa. Selamat hari natal.

Makassar — Desember, 2014

Like what you read? Give Ibe S Palogai a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.