Memandang Masa Silam

- bersama Tri Kartini Putri

Kesunyian adalah rumah bagi puisi. Aku ingin menjadi seorang jendela di sana. Bermata pepohonan, memandang petang berlalu di ambang pandang. Dari sana, aku tahu, keutuhan bumi membuat kata-kata jatuh cinta pada warna dan rupa.

Tapi aku anak pemahat yang menangis sejak di rahim ibu, ketika ayah mengubahku menjadi kotak kayu. Bajingan!

Lelaki itu mengajariku cara menjadi pintu. Keras dan bertalu. Aku takut mendengar ketuk, suaranya pelan dan penuh masa silam. Setiap hari, aku mengulangi perasaan itu dan menambah perasaan lain yang dipahat ayah pada tubuhku. Bunyi serupa yang aku benci. Seperti tanda seru pada puisi yang tiada henti bertanya: untuk apa aku berdiri sebagai kaki tunggal yang gemetar di antara sepatumu?

Aku pintu dewasa yang dibanting manusia sebagai kecemasan. Limpahan segala yang dimulai dan tidak sanggup selesai. Aku jalan yang dilebarkan negara agar kekacauan dapat melintas. Letup dalam pikiran yang menetap pada benda-benda jauh di luar tubuhku. Aku dibanting sekali lagi. Bedebah!

Disebab dua perkara, mereka melintasi tubuhku: pertemuan atau perpisahan. Dan aku merasakan kesunyian itu sekali lagi, ketika orang-orang dari masa lalu, berkumpul di rumah ini dan tidak bisa memilih. Apakah mereka sedang merindukan atau dirindukan?

Aku ingin mencintai sekaligus membenci dalam sekali helaan napas. Tetapi dalam puisi ini, seluruh tubuhku memilih terasing dan ganjil. Aku hanya dapat memilih satu di antaranya. Ketika telah percaya pada pilihan, kudapati puisi ini menghilang: rumah tempat aku ingin menjadi jendela.

Di suatu tempat di dalam dirimu, antara masa lalu dan keinginanku terus berada di sana, tubuhku dibanting sekali lagi oleh seluruh yang kucintai. Tidak ada rasa sakit. Kudengar suaranya menggema di mana-mana, kecuali dalam telingaku yang tidak percaya lagi pada apa-apa selain masa silam.

Makassar — 14 April 2016

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Ibe S Palogai’s story.