Menciptakan Musuh Kolektif

https://id.pinterest.com/pin/252342385349639391/

Ada pasukan pemberontak di medan perang yang sedang kebingungan. Semalam, sang komandan mati diracuni seorang pengawal setianya. Setelah berhari-hari melintasi padang dan curam jurang, kini daerah musuh tinggal menembus hutan pinus.

Tombak dan pedang masih tajam, kuda dan perbekalan masih cukup, tapi nyali kini tinggal sepanggang daging seekor sapi yang harus dibagi kepada tiga ratus pasukan. Menyerupai rasa lapar di malam gulita, beberapa di antara mereka merasa kenyang dengan mencicipi kulit hangus dan ingin segera pulang. Sisanya, dengan jumlah paling kecil, masih percaya bahwa pemberontakan ini harus dilanjutkan.

Tenda-tenda berdiri di dekat aliran sungai yang mengacai purnama. Tidak ada api dan cahaya. Kumpulan manusia ini berunding perihal apa yang harus mereka lakukan. Sementara negara yang selama ini diakuinya sebagai tanah air telah membiarkan orang-orang asing mencuri persedian emas. Kerukan di gunung-gunung yang berbentuk kawah hanya meninggalkan jejak-jejak penderitaan.

Tuhan mengutus banyak pengkhianat agar manusia percaya hanya sedikit hal di dunia ini yang dapat dimaafkan. Pemberontak ini tahu betul bahwa negara telah mengkhianati mereka. Dan memaafkan itu semua, jika memang bisa, hanya akan memanjangkan jejak-jejak penderitaan. Patuh membuat mereka ditelan ketakutannya sendiri.

Andai Pramoedya Ananta Toer dan Goenawan Mohamad ada dalam kumpulan pemberontak itu, gerangan apa yang hendak mereka lakukan?

Dengan nalar keintelektualan dan kedalaman berpikir, mereka akan sepakat untuk melanjutkan perjuangan. Kesamaan tujuan, penderitaan, dan harapan, membuat permusuhan dan kesatuan begitu tipis sekatnya. Meski secara ideologi dan cara memakan cumi mereka berbeda, di hadapan musuh yang sama, itu akan tersingkirkan.

Tapi mengapa enam belas tahun lalu, melalui koran yang sama, mereka curhat ke publik perihal, Gus Dur, Mandela, rekonsiliasi, dan orde baru?

Bagi Pram, seperti Gus Dur, Goenawan adalah bagian dari mereka yang membangun orde baru. Dalam wawancaranya yang tersiar di Youtube, dia mengatakan, “Saya mengenal mata, hidung, telinga, jantung, dan hati orde baru.” Selain itu, dirinya juga menyiarkan “Tidak ada dari orde baru yang saya percaya. Semuanya. Seluruhnya.” Ini cukup menjelaskan bagaimana persinggungan Pram dengan orde yang dibangun di atas landasan militer dan pembungkaman.

Tentu, Pram beranggapan bahwa Goenawan berpihak pada orde baru. Dia tidak pernah merasakan bagaimana kejamnya penjara, keluarga yang dibrutali militer, karya yang dicabut dari akar penciptaan dan dibakar hilang, dan bertahun-tahun karya dan namanya dilarang beredar.

Tidak ada kemerdekaan yang tersisa dan semua masa depan diserahkan kepada angkatan muda. Angkatan yang akan melanjutkan perjuangan bangsa ini. “Satu-satunya yang saya percaya adalah angkatan muda.” Demikian Pram menyimpan harapan yang besar terhadap genarasi mendatang.

Namun apa yang terjadi andai Goenawan Mohamad adalah Pramoedya Ananta Toer? Apakah Pram akan menulis surat semacam Goenawan? Dan apakah Goenawan akan bersikap seperti Pram? Pertanyaan ini tentu tidak bisa terjabar-jawab dalam tulisan sederhana ini. Mereka memiliki musuh yang berbeda. Mereka mendukung kekejaman yang berbeda. Satu-satunya kesamaan adalah, nama keduanya masih menggunakan ejaan Tempoe Doeloe.

Tuhan mengutus banyak pengkhianat agar manusia percaya hanya sedikit hal di dunia ini yang dapat dimaafkan. Bisakah genosida itu menjadi bagian “…sedikit hal di dunia ini..” Bisakah kita cemerlang memandang bahwa persoalan demikian bukan warisan yang baik bagi angkatan muda?

Mari menengok puisi Taufiq Ismail pada acara Simposium 65 yang diharapkan mampu menjadi ranah rekonsiliasi. Dendam lama penyair tuhan itu masih merabung di angkasa. Penutup surat Pram memang benar adanya, “Basa-basi tak bisa lagi menghibur saya.”

Angkatan muda harus menciptakan musuh kolektif, siapapun yang bertindak dengan ancaman merusak keberagaman adalah musuh. Kita harus bebas memandang sejarah, menciptakan banyak ruang-ruang diskusi dan penalaran. Toh, genosida yang pernah terjadi tidak akan selesai dengan sekali simposium saja?

Rekonsiliasi harus terjadi di mana-mana. Di ruang kelas, masjid, gereja, perpustakaan, lapangan sepak bola, buku-buku, konser musik, galeri lukisan, atau warung kopi. Dan jangan pernah berharap rekonsiliasi itu terjadi di kantor pemerintahan. Sebab hanya angkatan muda, yang bisa menciptakan ruang rekonsiliasi tersebut.