Pledio Jatuh Cinta

https://id.pinterest.com/pin/228417012327373496/

Ini tengah malam dan sepertinya saya sedang jatuh cinta. Sejak melihat Gita memainkan piano di pesta ulang tahunnya, saya menduga kalau lagu yang ia nyanyikan itu untuk keasingan ini. Fantasia dari Frédéric Chopin. Dia tahu kalau saya suka dengan kompeser itu.

Saya masih terjaga bukan karena memikirkan Gita. Tapi sedang mempertimbangkan apakah saya jatuh cinta atau tidak. Kalau jatuh cinta, saya harus mengirim surat kepadanya. Kalau tidak, saya akan menemuinya besok pagi dan bertanya kalau mungkin saya sedang mempertimbangkan untuk jatuh cinta padanya.

Tapi pertanyaan itu sepertinya keliru jika kutanyakan kepada perempuan. Perasaan perempuan sangat perempuan. Sementara saya hanya lelaki yang mudah tersanjung dengan hal-hal yang semu. Sementara perempuan, seperti yang sering kau katakan, lebih mudah tersanjung dengan hal-hal pasti. Seikat bunga, selembar puisi, atau seseorang lelaki yang duduk di dalam mobil dan mengajaknya makan malam.

Saya tidak terlalu suka dengan bunga, bukan penyair, dan tidak memiliki mobil. Tapi bukankah cinta kebanyakan dimulai dari hal-hal yang tidak masuk akal. Hanya saja, saat ini saya bertanya pada diri, adakah cinta yang jatuh secepat melihat perempuan memainkan piano di pesta ulang tahun?

Mungkin saya hanya kagum. Kalau ini kagum, mengapa pikiran saya mesti membayangkan senyuman Gita yang ramah itu. Suara pianonya tersimpan dalam gendang telinga saya dan tak mau beranjak sebelum benar-benar tahu apakah ini cinta atau hanya kagum.

Kamar yang sunyi membuat suara detak jam terdengar sangat dekat dengan telinga. Tak tak tak tak tak. Seakan saling memburu dengan debar dadaku yang sedang gamang. Saya tak tahu apa tawarkan terbaik kepada perasaanku selain kebingungan.

Sementara itu, seekor tokek bersuara. Berulang-ulang dan sepertinya ia hanya ingin di dengar. Apakah tokek ini tidak tahu kalau saya sedang tertekan memikirkan perasaan antara cinta atau kagum. Tapi saya ingat pepatah lawas, tokek kadang bersuara agar ia punya kesempatan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan. Konon suara tokek yang membuat Soekarno menentukan 17 Agustus sebagai tanggal kemerdekaan Indonesia. Bukan 16 atau 18.

Tokek ini berbunyi. Suaranya tidak semerdu suara piano Gita yang masih riang berdengung di gendang telingaku. Mengapa saya tidak menggunakan suara tokek untuk menentukan ini cinta atau kagum. Tokek — cinta — tokek — kagum — tokek — cinta — tokek — kagum — tok tok tok kotek. Yang terakhir ini lebih mirip suara ayam. Jadi apakah saya harus menyebut cinta atau berhenti pada kagum. Setelah beberapa detik, tokek itu bersuara sekali lagi; cinta. Asu!

Saya sudah mulai yakin kalau ini pasti cinta. Bahkan tokek yang meragukan itu juga sudah tahu. Akhirnya saya mantap pada pilihan jika perasaan ini memang cinta.

Tunggu dulu. Tunggu sebentar lagi. Saya tak boleh yakin sedini ini. Tidak ada keyakinan yang paling benar selain kesempatan untuk mengubahnya dikemudian waktu. Tapi ini cinta, melibatkan perasaan yang tidak pernah selesai.

Baiklah, kalau saya mampu menahan nafas hingga hitungan ketujuh puluh. Berarti ini memang cinta. Saya mulai menutup hidung dengan telapak tangan. Dalam hati mulai menghitung. Satu, dua tiga, empat, lima. Terus hingga hitungan ke enam puluh tiga. Baru kali ini saya mampu menembus angka enam puluh detik menahan nafas.

Sebentar lagi angka tujuh puluh. Enam puluh enam, enam puluh tujuh, enam puluh delapan, enam puluh sembilah, tuuujjuuh puuuluuuhhh. Sial, saya berhasil lagi. Sudah dua kali percobaan konyol dan hasilnya sama; cinta. Asu!

Saya duduk di kursi belajar. Menghela napas yang dalam dan panjang. Mengeluarkan sebatang pulpen dan buku tulis yang putih bersih. Saya harus menulis surat untuk, Gita!

Saya mulai memikirkan kata yang tepat di pembuka surat. Saya sengaja memilih kata pembuka dengan menggunakan huruf kapital; KEPADA GITA YANG MENCURI CINTAKU. Entah mengapa huruf besar menurutku selalu punya cara tersendiri untuk menyampaikan keinginannya.

Tapi saya takut kalau menggunakan huruf kapital di pembuka surat, Gita akan curiga kalau surat ini hanya berisi keinginan besar yang kosong. Atau ia merasa kalau saya hanya tidak sengaja memilih huruf kapital kemudian meninggalkan suratku tanpa sempat dibaca. Tidak. Tidak, surat ini harus ia baca.

Huruf kapital katanya dapat menggambarkan keinginan seseorang yang menggebu-gebu. Saya menggulung kertas yang bertuliskan KEPADA GITA YANG TELAH MENCURI CINTAKU. Membuatnya menjadi bola basket kecil dan kulempar ke keranjang sampah. Gol!

Ini kertas kedua. Sebaiknya saya memulai dengan huruf yang biasa saja; Kepada Gita yang telah mencuri cinta saya. Tapi kesannya tidak ada yang indah dari surat ini. Seperti lembar surat pertama, nasib surat kedua jauh lebih buruk.

Kertas ketiga saya simpan di atas meja. Kuhela napas yang dalam dan panjang. Ujung pulpen bergetar. Meskipun malam cukup dingin, tapi keringat keluar dari pori-pori tubuh saya. Sial. Ini cinta atau hukuman?

Saya belum menulis satu huruf pun. Hanya memikirkan cara paling sederhana untuk mengungkapkan cinta. Saya melihat jam di dinding menunjukkan pukul 3:46. Dini hari yang membingungkan. Saya pejamkan mata. Gelap dan kepalaku berubah menjadi ruang sidang yang gaduh. Pembenaran demi pembenaran dipatahkan oleh kebenaran demi kebenaran.

Saya belum menemukan kesimpulan saat pejaman mata dibuka. Tapi semua ruang menjadi gelap. Kegelapan membuat suara detak jam terdengar semakin dekat dengan telinga. Seperti ingin masuk dan tinggal di dalam sebagai latar suara kebingunganku.

Tidak biasanya di kota ini gangguan listrik terjadi dini hari. Saya belum menulis satu huruf pun. Tokek kembali bersuara. Kali ini dengan cepat aku mencoba peruntunganku. Tokek — cinta — tokek — kagum — tokek — cinta — tokek — kagum — tokek — cinta — tok tok tok. Tokek sialan itu tidak menyelesaikan nyaring deretan suaranya. Saya menunggu beberapa detik, tokek itu bersuara sekali lagi; toket. Asu! Toket itu payudara, Kampret! Sepertinya tokek juga bisa melakukan kesalahan bahasa. Tapi deretan suara tokek kali ini berhenti pada kagum.

Seperti dugaan awal. Saya tidak boleh sedini ini menentukan pilihan sampai benar-benar yakin dengan perasaan ini. Baiklah, saya mencoba sekali lagi peruntungan perasaan ini. Menahan napas selama tujuh puluh detik. Menutup hidung dengan telapak tangan dan dalam hati aku mulai menghitung. SATU, DUA, TIGA, EMPAT, LIMA. Terus hingga hitungan ke enam puluh tiga. Tapi kali ini dadaku sesak. Sesak luar biasa. Seperti ditekan benda besar. Kalau aku terus melanjutkan hitungan ini, mungkin nyawa saya akan melayang. Dua detik setelahnya akmelepas tanganku dan secepat mungkin menarik nafas yang dalam dan panjang. Padahal sisa lima detik lagi, Sial.

Dua percobaan yang berhasil dan dua percobaan yang gagal. Saya berdiri dari kursi. Berjalan pelan dan meraba-raba. Membaringkan tubuh di ranjang.

Saya memejamkan mata dan dengan ragu-ragu mengucapkan; ini hanya perasaan kagum!

Makassar — Januari 2015

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Ibe S Palogai’s story.