Menertawakan Lingkungan Sendiri

“sebuah perenungan terhadap diri sendiri, dan kepada teman-temanku terkasih”


Betapa menyenangkan apabila lingkungan kita sendiri sesuai dengan ekspektasi kita sedari awal, saya membayangkan sebuah lingkungan sadar budaya, sadar berkesenian, dan sadar pentingnya sebuah perlawanan atas kebebasan diri sendiri. Berbudaya luhur, bebas berkesenian, bebas berkreasi dan bereksplorasi. Saya membayangkan sebuah lingkungan yang mencakup itu semua.

Sangat menyedihkan sekali lingkungan yang jauh dari hal-hal seperti itu, sejatinya kita adalah manusia yang berpikir, manusia yang selalu dihinggapi rasa penasaran, manusia yang selalu berpikir atas kebermanfaatan keberadaannya sendiri. Lalu bagaimana dengan eksistensi yang berangkat dari hal-hal yang ‘asal’ ingin sekadar menunjukkan diri, melupakan dasar-dasar yang paling dasar dari eksistensi itu sendiri ?.

Banyak di antara kita menginginkan hal-hal yang luar biasa, pencapaian-pencapaian yang mampu melampaui hal-hal yang terlampau mainstream, tetapi pernahkah kita berpikir setelah semua itu kita capai lalu apa setelahnya?, pernahkah kita berpikir setelah itu apa kita sudah bermanfaat bagi sesama?, bayangkan kita membuat suatu pencapaian terbesar dalam hidup kita contohnya saja membuat suatu event besar sampai mencurahkan tenaga, pikiran, dan waktu tetapi kita benar-benar melupakan target dari itu semua?, minimal terhadap diri sendiri, boro-boro kita bermanfaat untuk orang lain dasarnya saja kita tidak dapat bermanfaat untuk diri sendiri. Tanpa sadar kita sudah menjadi kacung yang kesekian dari para pembesar yang maha peduli (katanya), para pembesar yang menipu dan na’asnya kita merasa wajar-wajar saja terhadap penipuan itu, merasa ‘penipuan’ itu adalah suatu kebenaran untuk apa disinggung kembali.

Banyak manusia-manusia yang merasa sudah mengetahui segala hal tetapi nyatanya pengetahuannya sebenarnya adalah kemalasannya sendiri untuk berpikir, banyak manusia-manusia yang sebenarnya tidak sadar bahwa kebutuhannya sedari yang terkecil sampai yang terbesar, dari yang primer hingga sekundar sedang dipermainkan oleh pihak-pihak atau pembesar-pembesar yang merasa peduli dengan kita?, apakah ini akar dari orang-orang yang memilih jalan hidup karena tidak diterimaoleh jalan hidup yang lain? ataukah memang pada hakikatnya manusia seharusnya menjadi ‘pemakan’ manusia lain?, lalu apa gunanya kita membaca buku, apa gunanya kita berkoar-koar kalau-kalau kita sudah merdeka?, apa gunanya kita berbangga diri di atas pencapaian yang dasarnya tidak mencapai apa-apa?.

Saya sedang menertawakan lingkungan saya sendiri, lingkungan yang meluangkan waktunya dengan hal-hal yang kurang berguna, lingkungan yang sudah tidak ingin lagi mendengar, lingkungan yang selamanya akan terjebak dengan eksistensi tanpa dasar dan lebih parahnya lagi lingkungan yang ‘mungkin’ selamanya akan terjebak dengan hal-hal yang sekadar ‘seru-seruan’. Apabila sekadar ‘seru-seruan’, ketawa-ketiwi, kongkow-kongkow, semua makhluk hidup bisa melakukan itu semua, lalu, apa yang membuat kita lebih unggul dari yang makhluk hidup lainnya?, tentu saja karena kita memiliki target untuk hidup kita, kita memiliki target untuk orang lain.

Sekali lagi saya sedang menertawakan lingkungan saya, yang memberi kesan ‘’gaya dulu, mikir nanti”. Saya ucapkan selamat menjadi benalu untuk diri sendiri dan orang lain, dan selamat menjadi kacung abadi.