
Hawa dingin kota Batu Malang yang menembus lapisan pakaian tidurku, manja membelai mata segaris ini untuk curi-curi kesempatan menutup sedikit lebih lama lagi. Namun gejolak energi dari rekan-rekan rempong yang heboh dengan dandanannya masing-masing, perlahan menginjeksikan kafein yang bertahap mengusir rasa kantuku.
Santai sek, ra papa. Wis adhus kan semalem?
Ujar Shofi secara retoris. Gadis berambut ikal sebahu itu merupakan partner ngobrol menunggu antrian mandiku semalam. Dari dua puluhan anak volunteer, tujuh awak tim dokumentasi, dan tak genap sepuluh anggota panitia inti, hanya kami berdua yang sepakat untuk menjalankan misi mandi sebelum tidur demi tidak mengantri di pagi hari. Atas nama toleransi dan tahu diri, kami pun mempersilahkan teman-teman menggunakan satu-satunya kamar mandi di lantai dua untuk keperluan siap-siap tidur mereka.
Chik berangkat duluan ya,
merchandise wis kudu stand by pek.
Celetuk mahasiswi asli Malang itu ketika aku belum genap mengumpulkan seluruh kesadaran. Setelah akhirnya berhasil mengecek pukul berapa persisnya pagi itu, sekonyong-konyongnya aku bersiap untuk tugas di hari kedua pagelaran Folk Music Festival 2018 (FMF 2018)
Berbeda dengan tahun sebelumnya, pada kesempatan di awal Agustus kemarin, kupilih untuk menikmati hari raya pecinta alunan Folks ini dari perspektif belakang layar. Pelajaran, wawasan dan kenalan tentu sudah jadi upah pasti yang didapat dari tiap aktivitas baru. Namun berbeda dalam kesempatan ini, ada esensi tersendiri yang melampaui poin-poin CV.


Para penggiat yang bekerja dengan niat yang dari hati, bisa dibilang menjadi kait utama yang menarikku untuk terlibat dalam festival ini. Hati yang ingin memperluas jaringan, hati yang hendak paham sampai kebagian ‘dapur’, hati yang nyaman lewat keterlibatan terdahulu, hati yang iseng bergabung sapa tau berhadiah, hati yang rindu piknik, bahkan hati yang mencari aktivitas ditengah liburan universitas. Setidaknya “hati-hati” yang dijabarkan diatas adalah isi hati dari kami para kerabat (sebutan untuk para volunteer) yang berhasil aku pahami selama proses kepanitiaan. “Hati-hati” yang makin berkobar nyalanya setelah disulut wejangan dari sebagian dalang-dalang pagelaran musik dan literasi ini — Mba Maya, Kak Edbert dan Mas Alek— . Wejangan yang mengalir identik serupa ciri khas pemiliknya masing-masing itu, memberi pemantik tersendiri bagiku terkait keterlibatan dalam acara ini. Mba Maya yang tegas lewat sarkas, Kak Edbert yang senior rasa sebaya, Mas Alek yang tenang tapi mengakar. Ciri khas yang teresonansi dalam forum-forum santai menuju hari H FMF 2018, jelas kusadari menghantarkan ‘hati-hati’ yang beragam latar belakangnya tadi kewujud barunya. ‘Hati-hati’ yang menjadi minat dan berujung niat. Kondisi mula-mula, pelajaran pertama didapat.
Susunan tim yang terbilang terlampau minim dalam kuantitas, alhasil menuntut para ‘kerabat’ bekerja lembur melampaui kuda. Dua hari menuju hari H menjadikan tanggungan pekerjaan tidak bisa dielak masa bebannya. Sampai-sampai pulang diatas jam 11 menjadi rutinitas menutup hari yang wajar. Ditambah lagi sistem kerja yang tidak mengikat, membuat kewalahan menjadi rekan yang rajin menebar senyum getirnya. Namun kondisi diatas, jelas menyingkap pribadi mana yang sejati etos kerjanya. Selain itu, solidaritas dengan sendirinya terbangun dalam tekanan diatas. Solidaritas juga tanpa disadari hadir bertamu untuk saling menjaga niat-niat awal dari masing-masing pribadi. Semangat-semangat baik yang sesunggugnya memiliki dasar yang sama— menjadi ada — .
Namun dari semua ketidaknyamanan yang dirasa, hari penyelenggaraan lah tempat kami menemukan buah manis untuk niatan kami masing-masing. Persinggungan tempat cerita saling bertukar, sirkulasi kolaborasi tim dibalik layar, percikan-percikan antara mereka yang sudah pun belum dekat sebelum pagelaran, mata-mata yang teduh nan bersahabat, balutan irama alam yang menangkan dan tentunya keselarasan upaya untuk saling menyamakan frekuensi.
Patut angkat topi, ujaran Hamka yang dijadikan tagline utama FMF 2018, dengan harmonisnya menyuguhkan semangat baik bagi mereka yang ambil bagian.
Kita akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari.
-Hamka






