
Wah iya mas, mba, mohon maaf banget hari ini cuman registrasi ulang, jatah penontonnya udah fully booked.
Ujarku untuk yang kali keempat dalam kurung waktu kurang lebih 45 menit sejak meja registrasi Lokakarya Papermoon Puppet di hari Literasi FMF 2018 (Folk Music Festival 2018) itu kami buka. Hari pertama dari total tiga hari pagelaran boneka puppet asal Jogja itu, diwarnai dengan beberapa mata yang merajuk, suara yang merayu dan raut wajah meratap dari pengunjung yang belum meregistrasikan dirinya untuk slot pagelaran ini. Antusias para penonton menginjeksikan energi segar bagiku dan rekanku, Fajar. Dampak nyatanya terpancar dari respon kami yang tidak kalah antusianya saat menjelaskan teknis Lokakarya Papermoon Puppet kepada para penonton.
Pasangan muda-mudi, orang tua dan anak, kumpulan teman sepermainan, juga rekan-rekan media turut ambil bagian dalam meramaikan FMF hari pertama itu. Pagelaran perdana yang spesial dusuguhkan sebagai perayaan Literasi, diisi dengan beberapa mata acara. Diskusi rekan-rekan Media Online Indonesia, open mic pembacaan puisi, dan tentunya Lokakarya Papermoon Puppet menjadi magnet hadirnya para penonton.
Hadir nyempal dari pagelaran lainnya, Papermoon Puppet tampak teduh lewat wujud tenda putih berkapasitas 5 orang yang berada di sisi samping area kolam renang. Latar belakang lembah kota Batu dan kaki gunung bermantel kabut memberi kesan magis tersendiri bagi mereka yang menunggu giliran pagelaran. Konsep bertajuk ‘Penjahit Bercerita’ yang diusung tim berpaikaian serba putih tersebut, sengaja membatasi jumlah penonton tiap kloternya tiga sampai empat orang. Sesuai dengan tajuknya, tim puppeters Papermoon Puppet FMF 2018 yang beranggotakan Mas Anton Fajri, Mas Beni Sanjaya dan Mas Pambo Priyojati mempersilahkan penonton untuk menyebutkan kata-kata kunci sebagai tema cerita mereka. Lalu dari kata-kata tersebut, Papermoon Puppet “menjahit” cerita yang diinterpretasikan kedalam bentuk pagelaran boneka puppet.
Ambil bagian menjadi volunteer atau dalam konsep FMF 2018, lebih hangat dengan julukan kerabat, memposisikanku dan Fajar sebagai penanggung jawab rangkaian Lokakarya. Oleh karenannya, pada hari pertama ini kami memegang tanggung jawab penuh terkait persiapan dan pelaksanaan pagelaran Papermoon Puppet. Lewat kesempatan itulah, secara hangat kami bisa melihat lebih dekat semangat baik teman-teman Papermoon Puppet dalam merealisasikan karyanya. Konstruksi “panggung pagelaran” yang terdiri dari kerangka berbentuk sangkar burung dibalut sederhana dengan kain putih polos. Prabotan dibagian dalam dapur para “penjahit” tersebut juga hanya dibangun dari susunan kardus yang lagi-lagi dibalut kain. Bedanya, ornamen bagian dalam tenda putih ini diramaikan dengan corak kain bernuansa bohemian namu tetap dalam spektrum warna pastel. Alhasil, atmosfer teduh pun lahir dan menaungi hangat para penjahit cerita dan penonton yang duduk bersila, saking tatap, dan bertebar senyum penuh rasa.

Tentu gambaran detail dari interior pagelaran Papermoon Puppet diatas bukan saya akses dari tautan sosial media dengan embel-embel tagar terkait. Hal itu tidak memungkinkan karena idealisme tim Papermoon Puppet yang melarang penontonnya mengambil gambar selama pagelaran berjalan. Alhasil pemahaman tersebut saya pahami dari mata kepala saya sendiri. Setelah seharian menjadi penunggu meja registrasi dan hanya menatap iri ekspresi sumringah penonton usai menapakkan kaki keluar tenda, saya pun mendapat gilirannya. Lewat kemurahan hati Fajar yang merelakan saya mengisi slot kosong kloter penonton terakhir dihari itu, sayapun resmi bergabung dalam penonton kloter terkahir di hari itu.
Kesempatan bisa meresapi pengalaman menjadi salah satu penentu jalan cerita terakhir di malam itu, disaksikan langsung oleh langit malam berbintang kota Batu Malang. Saya bersama 3 rekan baru saya melepaskan alas kaki dan mulai menunduk melewati lapisan-lapisan kain putih yang menjadi akses masuk ke “panggung pagelaran”.
Seumur-umur selama di Jogja, belum pernah aku nonton mereka. Baru sekarang ini akhirnya kesampean.
Celetuk Dwiki, mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM sesaat setelah mengambil posisi duduk santai di sisi kananku. Malam berkesan itupun makin menarik setelah gelora kekiriannya tersalurkan lewat dipilihnya kata ’1965’ sebagai pilihan tema Dwiki. Sementara itu si kriwul asal Kalimantan yang duduk di sisi kiriku menyelutk nama ‘Soeharto’ sebagai unsur kata kedua bagi cerita kami dimalam itu. Mengikuti instingku yang tidak ingin mendapat output jalan cerita yang kelam, akupun menyerukan kata milikku.
Dibungkus pakai ‘paradoks’ ya mas.
Hmm, hitam-putih. Menarik
Tutup si Kriwul tanpa kusangka. Teman si kriwul yang memilih mengikuti keinginan kamipun mengamini jalan cerita kami dan para penjahit ceritapun mulai bekerja. Ditutupnya kain sekat yang membatasi kami para penonton dan mereka para penjahit cerita. Alunan instrumen yang jenaka, macam mengajak imajinansi memanaskan mesinnya mulai mengalun mengiringi proses penjahitan. Penjahitan yang akhirnya melahirkan kesan jauh melewati angan.



